Jakarta, Mediaprofesi.id – Tidak hanya pameran inovasi elektrifikasi di berbagai sektor, IEE Series 2025 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran pada 17-20 September 2025 juga menghadirkan seminar inspiratif yang membuka wawasan bagi pelaku bisnis dan juga pengunjung umum.
Pada pembukaan seminar dengan tajuk “Indonesia Battery & Energy Storage Roadmap to support 102 GM Capacity in Renewable Energy”, menegaskan bahwa komitmen Pemerintah Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat, di mana peran Battery Energy Storage System (BESS) krusial untuk mengatasi sifat tidak stabil energi terbarukan dan memodernisasi jaringan listrik nasional.
Seminar dilanjutkan dengan pemaparan mengenai baterai & listrik terbarukan dari berbagai narasumber. Perwakilan Korea Smart Grid Association (KSGA) mengatakan bahwa peran smart grid (modernisasi jaringan listrik) di masa depan akan semakin krusial seiring dengan penetrasi energi terbarukan. Oleh karena itu, saat ini Korea sedang mengembangkan teknologi V2G (Vehicle-to-Grid), yang memungkinkan baterai EV berfungsi sebagai sistem penyimpanan energi untuk mendukung stabilitas jaringan.

Sementara itu, perwakilan dari TransJakarta mengatakan bahwa mereka berupaya menciptakan Jakarta bebas polusi melalui elektrifikasi armada bus secara penuh di tahun 2030. Fakta di lapangan membuktikan bahwa bus listrik TransJakarta hanya memiliki tingkat breakdown 0,4%, jauh lebih rendah dari bus konvensional. Kedepannya, TransJakarta membutuhkan lebih banyak infrastruktur charging station yang memadai, dan baterai dengan jarak tempuh yang lebih panjang, kepadatan energi yang lebih tinggi, bobot yang lebih ringan, dan umur pakai yang lebih lama (lebih dari 10 tahun) untuk menciptakan transportasi publik yang lebih berkelanjutan.
Dalam diskusi panel Indonesia Data Center Landscape 2025: Indonesia Data Center Investment Opportunities, para pembicara yang berasal dari asosiasi industri dan praktisi energi mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadi pusat data regional berkat pasar digital yang besar, dominasi generasi muda, dan lokasinya yang strategis. Namun, keberhasilan ini masih bergantung pada ketersediaan energi yang andal, efisien, dan hijau.
Denny Setiawan, Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), dalam sambutannya menyatakan, kita tidak bisa lagi hanya berbicara potensi, saatnya menjadikannya realitas. Momentum ini adalah peluang emas untuk menjadikan Indonesia digital hub regional.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya energi hijau sebagai kunci daya saing Indonesia di era transformasi digital.

Meski prospeknya besar, perjalanan menuju visi tersebut tidak lepas dari tantangan. Kompleksitas birokrasi perizinan yang melibatkan banyak institusi, tingginya tarif listrik komersial, serta ketergantungan pada energi fosil masih menjadi hambatan bagi investor. Di sisi lain, lonjakan kebutuhan daya akibat adopsi AI juga mendorong perlunya infrastruktur energi yang lebih tangguh. Untuk mengatasinya, para pembicara mengajukan berbagai solusi, antara lain percepatan pemanfaatan energi terbarukan, penerapan sistem wheeling agar pasokan hijau dapat langsung disalurkan ke pusat data, penetapan green tariff khusus, hingga desentralisasi pembangunan pusat data ke wilayah.
Selain itu, pembentukan gugus tugas energi nasional juga diusulkan guna mempercepat pembangunan infrastruktur. Dengan langkah-langkah strategis ini, Indonesia diyakini dapat menjawab tantangan sekaligus memperkuat posisinya sebagai Green Digital Hub di Asia Tenggara.
Untuk turut menyaksikan berbagai inovasi teknologi berbagai sektor, dan juga berbagai seminar atau workshop selama IEE Series 2025, peserta pameran dan pengunjung dapat hadir secara gratis selama tanggal 17-20 September 2025. Pengunjung juga bisa mengakses berbagai isi rangkaian pameran secara virtual darimanapun dan kapanpun melalui fitur IEE VExpo di laman https://vexpo.iee–series.com/ * (Syam/Wah)





