Penulis: Martha Margaretha – Analis Global Market
Jakarta, Mediaprofesi.id – Pasar minyak dunia menghadapi tekanan baru akibat kelebihan pasokan global. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan produksi global naik sekitar 3 juta barel per hari pada 2025, disusul tambahan 2,4 juta barel pada 2026, terutama dari AS, Brasil, dan Kanada.
Sementara itu, pertumbuhan permintaan global diprediksi melambat ke sekitar 710 ribu bpd, menimbulkan potensi surplus hingga 4 juta bpd pada 2026, menurut estimasi beberapa lembaga energi internasional.
Data inventori juga memperkuat sentimen bearish. Persediaan minyak mentah AS melonjak sekitar 7,4 juta barel pekan lalu — kenaikan terbesar sejak Juli. Peningkatan stok global, baik di darat maupun di kapal tangki, menandakan produksi masih melampaui konsumsi.
Tekanan tambahan datang dari perlambatan ekonomi global serta efisiensi energi dan kendaraan listrik yang menahan pertumbuhan permintaan. Beberapa analis bahkan menilai konsumsi minyak telah mencapai puncak jangka pendek.
Di sisi geopolitik, langkah India mengurangi impor minyak OPEC,Rusia memicu pergeseran arus perdagangan global, sementara AS terus menekan Tiongkok dan India untuk membatasi pasokan dari Moskow. Meski demikian, OPEC+ masih memiliki ruang untuk menyesuaikan produksi jika pasar semakin jenuh.
Menurut proyeksi IEA, harga minyak Brent berpotensi turun menuju $52 per barel pada 2026 bila kelebihan pasokan tidak segera diserap pasar.
Dampak ke Emas dan Dolar AS
Kelebihan pasokan minyak kerap dilihat sebagai sinyal perlambatan ekonomi global — memicu arus dana ke aset aman seperti emas. Di sisi lain, dolar AS tetap diuntungkan karena statusnya sebagai safe haven dan mata uang utama perdagangan minyak.
Jika The Fed menahan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi, USD bisa menguat lebih lanjut, memberi tekanan pada harga emas dan komoditas lainnya. Namun, jika tekanan ekonomi mendorong pelonggaran moneter, emas berpotensi kembali naik sebagai lindung nilai inflasi. * (Syam)





