Jakarta, Mediaprofesi.id – Yayasan Pendidikan Pengembangan Perkopian Indonesia (KAPPI) terus mendorong peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani kopi nasional. Salah satu target utama yang sedang digencarkan adalah pencapaian hasil panen minimal 2 ton kopi per hektar, sebagai syarat dasar bagi petani untuk memperoleh penghasilan yang layak dan berkelanjutan.
“Target tersebut bukan hal mustahil jika didukung oleh sistem budidaya yang baik dan pendampingan berkelanjutan,” ujar Kardjo Matajat, Pembina Petani Yayasan KAPPI dalam acara Talkshow pada ajang Indonesia International Agribusiness Expo (Agrinex) di JIExpo Kemayoran, Jakarta hari Kamis (6/11/2025).
Lebih lanjut Kardjo menjelaskan, selama ini, banyak petani kita masih menggunakan cara konvensional dengan hasil rata-rata di bawah 800 kilogram per hektar. KAPPI hadir untuk mengubah itu melalui edukasi, pemilihan bibit unggul, dan penggunaan pupuk organik yang tepat. Kami ingin setiap hektar kebun bisa menghasilkan minimal dua ton kopi berkualitas.

Kardjo menegaskan bahwa peningkatan produktivitas kopi harus sejalan dengan peningkatan kualitas dan nilai jual. Kopi Indonesia punya cita rasa luar biasa. Kalau petani bisa panen banyak dan mutunya terjaga, maka kesejahteraan otomatis meningkat. Itulah yang menjadi misi KAPPI.
Sementara itu, Anton Apriyantono, Menteri Pertanian Indonesia periode 2004–2009, mengapresiasi langkah KAPPI dalam mendorong transformasi sektor perkopian nasional.
“Program seperti yang dilakukan KAPPI sangat penting untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar kopi dunia. Produktivitas harus naik, tapi dengan cara yang berkelanjutan. Pendampingan dan edukasi kepada petani menjadi kunci,” kata Anton Apriyantono.
Dengan upaya ini, KAPPI berharap dapat menjadi motor penggerak bagi kebangkitan kopi Indonesia, tidak hanya dari sisi volume produksi tetapi juga dari kesejahteraan petani dan daya saing produk di pasar global.
“Pemilihan bibit harus disesuaikan dengan karakteristik wilayah tanam. Kami membantu petani memilih bibit sesuai ketinggian dan jenis tanah. Untuk dataran tinggi di atas 1.000 meter, kami rekomendasikan arabika Sigarar Utang atau arabika Andungsari. Sedangkan untuk dataran menengah, varietas robusta BP 308 atau robusta SA 237 lebih cocok karena tahan hama dan produktif,” jelasnya.

Bibit yang digunakan oleh KAPPI berasal dari penangkar bersertifikat, memastikan mutu genetik yang stabil, daya tumbuh tinggi, serta ketahanan terhadap penyakit karat daun (Hemileia vastatrix) dan nematoda akar.
Tanaman kopi tumbuh optimal pada tanah dengan ketinggian 800–1.600 meter di atas permukaan laut, suhu rata-rata 18–25°C, dan curah hujan tahunan 1.500–2.500 mm.
Kardjo menjelaskan bahwa kontur tanah miring dengan drainase baik lebih disukai karena mencegah genangan air yang bisa merusak akar. “Kami bantu petani memahami cara membuat terasering, saluran air, serta menjaga vegetasi peneduh agar struktur tanah tetap kuat dan kelembapan terjaga,” ujarnya.
Selain itu, KAPPI mendorong petani untuk melakukan uji pH tanah secara berkala. Nilai pH ideal untuk kopi berada di kisaran 5,5–6,5, dan bila terlalu asam, dilakukan pengapuran secara bertahap menggunakan dolomit.
KAPPI menekankan pentingnya perawatan intensif sejak masa tanam hingga panen. Program pendampingan yang dilakukan meliputi: Pemangkasan teratur — untuk membentuk tajuk tanaman dan memacu tunas produktif. Pemupukan berimbang — kombinasi pupuk organik dan anorganik sesuai fase pertumbuhan. Pengendalian hama terpadu (PHT) — menggunakan pestisida nabati dan musuh alami. Penyuluhan pascapanen — termasuk fermentasi, penjemuran, dan penyimpanan biji agar kualitas tetap premium.

Menurut Kardjo, pemupukan kopi tidak bisa dilakukan sembarangan. Jadwal dan komposisi harus disesuaikan dengan umur tanaman dan kondisi tanah.
“Kopi idealnya dipupuk 3 sampai 4 kali dalam satu musim tanam. Pemupukan pertama dilakukan pada awal musim hujan, kedua di pertengahan musim, dan ketiga menjelang pembungaan. Kadang ditambah satu kali lagi setelah panen untuk memulihkan nutrisi tanah,” jelas Kardjo.
Untuk tanaman muda (umur 1–3 tahun), fokus pemupukan adalah pertumbuhan akar dan daun. Sedangkan untuk tanaman produktif (umur di atas 3 tahun), pemupukan diarahkan untuk pembentukan buah dan menjaga kualitas biji.
Pemupukan dilakukan dengan cara membuat parit melingkar di bawah tajuk tanaman, berjarak sekitar 30–50 cm dari batang, agar pupuk terserap oleh akar rambut yang aktif.
“Jangan menabur pupuk langsung di pangkal batang, karena akar kopi menyebar di sekitar tajuk, bukan tepat di bawah batang,” terang Kardjo.
Selain itu, KAPPI memperkenalkan teknik fermentasi pupuk organik cair (POC) berbahan limbah kulit kopi dan mikroba lokal. Cara ini terbukti mampu meningkatkan kesuburan tanah dan menekan biaya pupuk hingga 40%. * (Syam)





