Jakarta, Mediaprofesi.id – Rupiah masih sulit untuk menguat meski kemarin sedikit mengalami apresiasi ke level 16.665. Tekanan dan potensi volatilitas masih cukup besar apalagi dengan sinyal hawkish The Fed, dimana penurunan suku bunga di tahun 2026 akan dilakukan secara lebih berhati-hati dan kemungkinan hanya menurunkan suku bunga 1 kali.
“Probabilitas penurunan suku bunga pada rapat FOMC di bulan Januari, Maret, dan April 2026 sangat kecil setelah keluarnya “dot-plot” bulan Desember,” ujar Rully Arya Wisnubroto, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset dalam siaran persnya kepada redaksi Mediaprofesi.id pagi ini, Jumat (12/12/2025) di Jakarta.
Berita negatif muncul dari risiko batalnya persetujuan tarif resiprokal Indonesia-AS. AS menilai Indonesia “mundur” dari komitmen awal dan ingin menjadikannya non binding, yang berarti kewajiban Indonesia lebih berupa pernyataan niat politik/kerja sama yang fleksibel, bukan kewajiban hukum yang jelas, terukur, dan dapat digugat jika tidak dipenuhi.
“Kami melihat bahwa hal ini kemungkinan merupakan strategi Indonesia, berusaha untuk tetap menjaga kedaulatan kebijakan dan menghindari beban komitmen yang memberatkan, terkait dengan hambatan tarif dan non-tarif, serta konsesi digital,” papar Rully.
Pemerintah berusaha untuk menyeimbangkan manfaat penurunan tarif dari AS dengan risiko politik domestik dan hilangnya ruang regulasi jangka panjang. * (Syam)





