Jakarta, Mediaprofesi.id – Pasar saham global, khususnya di AS dan Eropa, merespons positif setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif darurat Trump, didorong oleh ekspektasi penguatan aktivitas perdagangan global seiring antisipasi penurunan biaya impor AS dan perbaikan margin korporasi.
Indeks S&P 500 pada akhir pekan lalu naik sekitar 0,7%, sementara indeks CAC 40 di Perancis dan DAX di Jerman pada hari yang sama masing masing menguat sekitar 1,4% dan 0,9%.
“Kami melihat adanya ruang bagi sentimen risk on untuk menular ke pasar saham Asia pada awal pekan ini, terutama pada saham berorientasi ekspor, siklikal, dan teknologi yang sensitif terhadap perbaikan prospek perdagangan global,” ujar Rully Arya Wisnubroto, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset dalam siaran persnya kepada redaksi Mediaprofesi.id pagi ini, Senin (23/2) di Jakarta.
Rully menilai potensi kenaikan pasar keuangan Indonesia – saham, obligasi, dan Rupiah – relatif lebih terbatas dibandingkan kawasan, karena investor masih berfokus pada isu isu struktural, termasuk sorotan MSCI terhadap aspek investability dan revisi outlook peringkat Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif; aliran dana asing dan kinerja aset berisiko di Indonesia.
“Dengan demikian akan sangat ditentukan oleh respons kebijakan domestik dan sinyal perbaikan tata kelola ke depan,” tutup Rully. * (Syam/Pra)





