Jakarta, Mediaprofesi.id – Harga minyak kembali menjadi fokus di awal pekan, dengan kenaikan sekitar USD5 per barel ke kisaran USD95,6 per barel setelah serangan terhadap kapal di Selat Hormuz memicu eskalasi tensi antara AS–Iran.
Di sisi ekuitas global, S&P500 terkoreksi setelah beberapa kali mencetak rekor penutupan tertinggi. IHSG turut melemah, meski pasar reguler masih mencatat net buy asing tipis sekitar IDR124 miliar, yang terutama mengalir ke BREN, TLKM, dan BRMS.
“Dari dalam negeri, sentimen masih rapuh dan membuat IHSG rentan terhadap koreksi lanjutan. Rupiah belum menunjukkan pemulihan berarti, dengan penutupan di kisaran 17.170 per USD, sejalan dengan meningkatnya premi risiko terhadap aset domestic,” ujar Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto.
Dalam konteks tersebut, lanjut Rully, BI praktis kehilangan ruang pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat, karena pelemahan Rupiah dan potensi kenaikan inflasi beberapa bulan ke depan — termasuk lewat kanal harga energi — menuntut sikap kebijakan yang lebih hati hati. * (Syam/Wah)





