Jakarta, Mediaprofesi.id – Gelombang adopsi kecerdasan buatan atau AI di dunia kerja bergerak sangat cepat. Dari penggunaan chatbot, AI agents, hingga aplikasi SaaS berbasis AI, semuanya kini menjadi bagian dari aktivitas harian perusahaan. Namun di balik kemudahan itu, muncul satu pertanyaan besar: seberapa aman data perusahaan saat digunakan di ekosistem AI?
Di tengah kekhawatiran tersebut, Akamai Technologies resmi mengumumkan langkah strategisnya dengan mengakuisisi LayerX senilai sekitar US$205 juta. Akuisisi ini menjadi sinyal kuat bahwa perang menjaga keamanan AI kini memasuki babak baru.
Yang menarik, teknologi LayerX tidak memaksa pengguna berpindah ke browser khusus perusahaan seperti banyak solusi keamanan lainnya. Pengguna tetap bisa memakai browser favorit mereka sehari-hari, namun dengan lapisan keamanan tambahan yang mampu memantau aktivitas AI secara real-time.

Pendekatan ini dianggap penting karena saat ini sebagian besar aktivitas kerja berlangsung langsung dari browser. Mulai dari mengakses aplikasi cloud, mengunggah dokumen, mengetik prompt AI, hingga berinteraksi dengan berbagai tools berbasis large language models.
Melalui teknologi LayerX, tim keamanan perusahaan bisa mendapatkan visibilitas lebih luas terhadap bagaimana karyawan menggunakan AI tanpa harus mengubah infrastruktur yang sudah ada atau mengganggu kenyamanan kerja.
“Pelanggan kami mengadopsi AI dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Mani Sundaram. Ia menilai banyak perusahaan kini menghadapi tantangan besar karena kontrol keamanan lama belum mampu memantau bagaimana data dibagikan ke platform AI.
Menurutnya, akuisisi LayerX membantu menutup celah tersebut dengan menghadirkan kontrol keamanan langsung di titik penggunaan AI. Dengan begitu, perusahaan dapat bergerak cepat mengikuti perkembangan AI tanpa harus mengorbankan keamanan maupun kepatuhan regulasi.
Akuisisi ini juga memperkuat portofolio Zero Trust milik Akamai yang sebelumnya sudah mencakup teknologi Zero Trust Network Access (ZTNA), perlindungan runtime aplikasi AI, hingga segmentasi workload untuk AI inference. Kombinasi ini membuat Akamai ingin menghadirkan perlindungan menyeluruh mulai dari pengguna, aplikasi, hingga infrastruktur AI.

Di sisi lain, Or Eshed menyebut keamanan penggunaan AI oleh manusia maupun AI agents kini menjadi tantangan terbesar dunia enterprise. Ia optimistis kolaborasi dengan Akamai akan mempercepat visi menghadirkan implementasi AI yang aman dalam skala global.
Seluruh tim LayerX, termasuk para pendirinya, akan bergabung ke organisasi Zero Trust Akamai. Akuisisi ini juga memperkuat pusat inovasi keamanan siber Akamai di Tel Aviv, Israel, yang dalam lima tahun terakhir terus berkembang lewat sejumlah akuisisi perusahaan keamanan siber lokal.
Transaksi ini diperkirakan selesai pada kuartal ketiga 2026. Meski diproyeksikan memberi dampak dilutif terhadap non-GAAP EPS Akamai sekitar US$0,12 pada tahun fiskal 2026, bisnis LayerX diperkirakan sudah memiliki annual recurring revenue sekitar US$10 juta pada akhir tahun.
Langkah Akamai ini sekaligus memperlihatkan satu hal penting: di era AI, keamanan browser bukan lagi fitur tambahan, melainkan garis pertahanan utama perusahaan. * (Syam)





