Jakarta, Mediaprofesi.id – Setelah mengalami tekanan cukup dalam dalam beberapa waktu terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Penguatan yang terjadi pun memunculkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar: apakah ini menjadi awal kebangkitan pasar saham Indonesia, atau hanya sekadar technical rebound setelah penurunan tajam?
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai kenaikan IHSG saat ini masih lebih banyak didorong oleh faktor technical rebound. Namun, kondisi pasar dinilai sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa waktu lalu karena mulai muncul sejumlah indikator yang mendukung perbaikan sentimen.
Head of Research dan Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan bahwa penguatan pasar tidak terjadi tanpa alasan. Menurutnya, langkah Bank Indonesia yang lebih tegas dalam menjaga stabilitas pasar keuangan, ditambah meredanya ketegangan geopolitik global, mulai memberikan dampak positif terhadap pergerakan rupiah dan pasar obligasi.
“Penguatan yang terjadi saat ini masih didominasi oleh technical rebound. Namun rebound tersebut bukan tanpa dasar karena mulai terlihat tanda-tanda bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia yang lebih tegas serta de-eskalasi ketegangan geopolitik turut membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan yield obligasi,” ujar Rully.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa investor asing masih bersikap selektif dalam menempatkan dananya. Artinya, pasar masih membutuhkan katalis tambahan agar arus modal asing dapat kembali masuk secara lebih konsisten.
Sebelumnya, pasar keuangan Indonesia sempat menghadapi berbagai tekanan. Pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta meningkatnya ketidakpastian global membuat premi risiko Indonesia meningkat. Kondisi tersebut pada akhirnya membebani valuasi saham dan memicu koreksi di pasar.
Menurut Rully, arah pergerakan IHSG ke depan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan sejumlah indikator makroekonomi utama, terutama stabilitas nilai tukar rupiah dan pergerakan yield obligasi pemerintah.
Ia menjelaskan, jika rupiah mampu mempertahankan tren penguatannya dan yield SBN tenor 10 tahun terus bergerak turun dari level puncaknya yang sempat berada di atas 7,3 persen, maka premi risiko Indonesia berpotensi menurun. Situasi tersebut dapat membuka peluang masuknya kembali dana asing ke pasar obligasi maupun saham.
“Jika rupiah mampu bertahan menguat dan yield SBN tenor 10 tahun turun secara bertahap ke kisaran yang lebih rendah, premi risiko Indonesia akan menurun. Kondisi tersebut akan membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham,” jelasnya.
Ke depan, investor diperkirakan masih akan mencermati berbagai sentimen global, arah kebijakan moneter, serta stabilitas pasar keuangan domestik. Walaupun sejumlah tanda perbaikan mulai terlihat, pasar masih menunggu konfirmasi yang lebih kuat bahwa penurunan premi risiko dan stabilisasi rupiah dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Dengan kata lain, optimisme mulai tumbuh, tetapi belum sepenuhnya mengakar. Bagi investor, periode saat ini menjadi momentum untuk tetap mencermati perkembangan pasar secara hati-hati sambil menunggu sinyal pemulihan yang lebih solid. * (Syam/Pra)





