Jakarta, Mediaprofesi.id – Pemerintah terus mendorong pertumbuhan kewirausahaan nasional di tengah berbagai tantangan ekonomi global. Salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang besar untuk mempercepat lahirnya pelaku usaha baru adalah bisnis waralaba.
Direktur Bina Usaha Perdagangan Kementerian Perdagangan, Franciska Simanjuntak, mengatakan tingkat kewirausahaan Indonesia saat ini masih sekitar 3,29%. Angka tersebut dinilai masih jauh dibandingkan sejumlah negara lain, seperti Malaysia 4,74%, Singapura 8,76%, dan Amerika Serikat sekitar 12%.
“Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk bisa mencapai angka 10 sampai 12%,” ujar Franciska dalam konferensi pers IFRA 2026 hari Kamis (20/8) di Jakarta.
Menurut dia, peningkatan jumlah wirausaha penting untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional. Terlebih, ekonomi Indonesia saat ini masih mampu tumbuh 5,05% dengan konsumsi rumah tangga menjadi kontributor terbesar, yakni sekitar 53%.

Kementerian Perdagangan pun mendorong berbagai program untuk menumbuhkan minat berwirausaha, termasuk melalui Kampuspreneur. Program ini menyasar mahasiswa agar tidak hanya berorientasi menjadi pekerja sesuai bidang studinya, tetapi juga mampu melihat peluang bisnis dari ilmu yang dimiliki.
Franciska mencontohkan, mahasiswa kedokteran misalnya, tidak harus seluruhnya menjadi dokter. Mereka juga dapat mengembangkan usaha yang berkaitan dengan kebutuhan dan industri kesehatan.
Selain itu, waralaba dinilai menjadi salah satu model bisnis yang menarik karena menawarkan konsep usaha yang relatif siap dijalankan dan telah memiliki standar tertentu. Kemendag juga menjalankan program Pendampingan Waralaba Nasional untuk mengkurasi dan membantu pelaku usaha memenuhi kriteria sebelum masuk ke ekosistem waralaba.
“Orang juga ingin mencari usaha yang tidak harus dimulai dari nol. Bisa langsung menggunakan konsep dan nama yang sudah ada, sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan,” katanya.
Data Kemendag mencatat terdapat sekitar 169 pemberi waralaba dalam negeri dan 163 pemberi waralaba dari luar negeri. Pemerintah berharap jumlah waralaba lokal terus bertambah.
Tahun lalu, target pertumbuhan waralaba dalam negeri sebesar 5 persen berhasil terlampaui menjadi sekitar 6%. Tahun ini, Kemendag menargetkan pertumbuhan tersebut meningkat menjadi 7%.
Momentum untuk memperluas peluang tersebut salah satunya hadir melalui International Franchise, License and Business Concept Expo & Conference (IFRA) 2026.

Presiden Direktur Dyandra Promosindo, Daswar Marpaung, mengatakan IFRA tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-25. Mengusung tema “The Empowering of Growth Ethical Franchising”, IFRA 2026 akan digelar pada 28-30 Agustus 2026 di ICE BSD City.
Pameran tersebut menargetkan lebih dari 30.000 pengunjung secara offline dan online serta menghadirkan sekitar 250 merek.
“Franchise atau waralaba masih relevan untuk masa-masa mendatang. Model bisnis ini dapat menciptakan lapangan kerja sekaligus memperluas jaringan usaha agar semakin tangguh dan kompetitif,” ujar Daswar.
Selain pameran, IFRA 2026 juga menghadirkan berbagai program edukasi dan peluang bisnis, termasuk IFRApreneur Business Concept Competition yang memasuki penyelenggaraan ke-10 untuk mendorong munculnya ide-ide bisnis dari generasi muda.
Pemerintah berharap kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, dan dunia usaha melalui ajang seperti IFRA dapat terus diperkuat. Di tengah tantangan global, pertumbuhan wirausaha diharapkan menjadi salah satu motor untuk memperkokoh ekonomi nasional dari dalam. * (Syam)





