Tangerang, Mediaprofesi.id – Peredaran suku cadang otomotif palsu menjadi tantangan serius bagi konsumen dan pelaku aftermarket. Di tengah maraknya produk yang secara tampilan sulit dibedakan, PT Timur Raya Anugerah Damai (TRAD) mengingatkan konsumen agar lebih teliti sebelum membeli.
Pesan tersebut disampaikan TRAD dalam ajang Automechanika Jakarta 2026 yang berlangsung 24–27 September 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), Tangerang. Pameran ini mempertemukan produsen komponen, distributor, bengkel, buyer hingga mitra bisnis dari berbagai negara.
Sales & Marketing Manager TRAD, Jessica Kwan, mengatakan produk aftermarket merek 555 menjadi salah satu yang banyak dipalsukan. Karena itu, konsumen perlu mengenali sejumlah ciri fisik sebelum membeli.
“Pertama dilihat dari dratnya. Yang palsu dratnya lebih tidak simetris, sedangkan yang asli presisi dan berada di tengah,” ujar Jessica di sela Automechanika Jakarta 2026.
Perbedaan berikutnya terlihat dari casting atau hasil cetakan komponen. Produk asli memiliki permukaan yang lebih rata dan halus, sedangkan produk palsu cenderung terlihat kasar.
Logo juga menjadi salah satu petunjuk. Jessica menunjukkan adanya perbedaan pada bentuk logo 555 antara produk asli dan palsu. Bahkan, terdapat produk dengan embel-embel “Sport” yang dipastikan palsu karena menurutnya 555 tidak pernah mengeluarkan produk dengan nama tersebut.
“555 enggak pernah keluarin ‘Sport’. Jadi ini 100 persen palsu,” tegasnya.

Kemasan dan barcode juga perlu dicermati. Produk palsu disebut memiliki kemasan yang lebih mengilap ketika terkena cahaya, sementara kemasan asli cenderung doff.
Untuk barcode, produk asli ketika dipindai akan menampilkan detail produk. Sementara itu, produk palsu bisa saja muncul di situs 555, sehingga konsumen tetap perlu mencermati informasi dan fisik barang secara keseluruhan.
TRAD juga menempelkan informasi importir dan keterangan distribusi pada produk yang mereka pasarkan. Konsumen disarankan membeli langsung melalui TRAD atau toko rekanan yang direkomendasikan. TRAD sendiri tidak menjual produk melalui e-commerce secara langsung karena fokus memasok jaringan toko dan pelanggan di berbagai wilayah Indonesia.
Harga Murah Patut Dicurigai
Jessica mengingatkan konsumen agar tidak mudah tergiur harga yang terlalu murah. Menurut dia, perbedaan harga yang ekstrem dapat menjadi salah satu indikator awal yang patut dicermati.
Ia mencontohkan produk yang dijual sekitar Rp90.000, sementara produk asli berada di kisaran Rp400.000. Meski harga saja tidak bisa menjadi satu-satunya penentu, konsumen perlu menggabungkannya dengan pemeriksaan kemasan, desain dan kondisi fisik produk.
Masalahnya, peredaran produk palsu dinilai sulit dilacak. Jessica menyebut produk baru bisa kembali muncul setelah sebelumnya dilakukan edukasi kepada konsumen.
“Saking banyaknya, misalnya kita hari ini edukasi, besoknya lagi mungkin banyak lagi muncul yang baru-baru,” katanya.
Karena itu, TRAD memilih memperkuat edukasi kepada end user, bengkel dan pelanggan agar mereka dapat mengenali produk asli secara mandiri.
Bidik Peluang B2B

Di luar isu produk palsu, kehadiran TRAD di Automechanika Jakarta 2026 juga menjadi momentum memperkuat brand awareness sekaligus menjajaki pasar B2B.
TRAD membawa 19 brand utama dan tiga brand pendukung. Mayoritas brand berasal dari Jepang, sementara sebagian lainnya dari Thailand. Beberapa merek yang disebut populer di antaranya 555, SEIKEN, GMB dan NSK. Produk TRAD menyasar kendaraan penumpang maupun kendaraan niaga.
Jessica mengungkapkan, selama pameran terdapat potensi penjajakan dengan lebih dari 10 calon mitra bengkel. Namun, seluruhnya masih dalam tahap penjajakan dan belum dikunci sebagai kemitraan. TRAD juga membuka peluang kerja sama dengan perusahaan logistik dan transportasi yang memiliki banyak armada.
Bagi konsumen, Jessica memberikan pesan sederhana agar komponen kendaraan lebih awet: gunakan suku cadang asli, pilih bengkel yang kompeten untuk pemasangan, dan terapkan cara berkendara yang baik.
“Yang pertama, beli barang asli. Yang kedua, cari rekanan bengkel yang memang kompeten untuk pasang,” ujarnya.
Dengan semakin beragamnya produk aftermarket di pasar, ketelitian konsumen menjadi salah satu benteng utama untuk menghindari kerugian akibat suku cadang palsu. * (Syam)





