Jakarta, Mediaprofesi.id – Indonesia kian diperhitungkan dalam peta persaingan industri otomotif global. Potensi pasar kendaraan yang besar, kebutuhan suku cadang yang terus berkembang, serta peluang bisnis manufaktur dan layanan purnajual menjadikan Indonesia sasaran strategis bagi pemain otomotif internasional.
Sinyal kuat itu terlihat dari kesuksesan penyelenggaraan perdana Automechanika Jakarta 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), yang berakhir pada 27 September 2026. Selama empat hari, pameran ini menarik 18.315 pengunjung dari 64 negara dan wilayah, serta menghadirkan 339 peserta pameran dari 15 negara dan wilayah.
Diselenggarakan oleh Messe Frankfurt (HK) Ltd bersama Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM), ajang ini menempati area seluas 20.800 meter persegi dan menggelar 48 program pendukung. Sebanyak 21% pengunjung tercatat berasal dari luar negeri, memperlihatkan daya tarik Indonesia bagi pelaku industri lintas negara.
General Manager Messe Frankfurt (HK) Ltd, Fiona Chiew, menilai respons positif peserta menjadi sinyal bahwa pasar Indonesia siap menyambut pameran otomotif berskala internasional.
Komposisi peserta pameran yang berimbang antara perusahaan internasional dan domestik, menurutnya, juga mencerminkan kepercayaan terhadap potensi pasar Indonesia sekaligus peran Automechanika sebagai penghubung bisnis global.
Ketua GIAMM, Yusak Kristian Solaeman, menegaskan bahwa Automechanika Jakarta diharapkan berkembang melampaui fungsi pameran. Ajang ini ditargetkan menjadi jembatan bagi produsen, distributor, dan pelaku industri untuk bertukar teknologi, membangun kemitraan, serta membuka peluang bisnis baru di dalam dan luar negeri.
Perebutan Pasar Aftermarket Makin Terbuka

Besarnya pasar kendaraan Indonesia menjadi salah satu daya tarik utama. Seiring pertumbuhan ekonomi dan peningkatan jumlah kendaraan di jalan, kebutuhan suku cadang, perawatan, perbaikan, serta teknologi pendukung otomotif ikut membuka peluang bisnis.
Peluang tersebut dimanfaatkan berbagai perusahaan dari China, Jerman, Jepang, Italia, India, Malaysia, Singapura, Thailand, Amerika Serikat, dan sejumlah negara lainnya. Mereka membawa produk dan solusi dari berbagai sektor, mulai dari komponen, kelistrikan, aksesori, diagnostik, peralatan bengkel, hingga manufaktur dan otomatisasi.
Salah satu peserta utama adalah Astra Otoparts, yang menghadirkan 25 merek dan perusahaan patungan, termasuk Aisin, Akebono, Aspira, Denso, GS Astra, KYB, Pirelli Tyres, SKF, dan sejumlah merek lainnya.
Kehadiran pemain global juga terlihat melalui Bosch, Brembo, Hella, Mahle, Schaeffler, Snap-on, serta perusahaan-perusahaan komponen dan peralatan otomotif lainnya.
Tak hanya menjadi ajang memperkenalkan produk, pameran ini mempertemukan pemasok dengan calon pembeli dari sektor manufaktur kendaraan hingga pasar aftermarket. Lebih dari 90 sesi pertemuan bisnis digelar untuk mempertemukan peserta pameran dan pembeli berdasarkan kebutuhan masing-masing.
Sepuluh negara dan wilayah penyumbang pengunjung asing terbanyak meliputi China, Malaysia, Singapura, Jepang, India, Thailand, Myanmar, Arab Saudi, Australia, dan Taiwan.
Teknologi Baru hingga Kendaraan Listrik Jadi Sorotan

Selain transaksi dan penjajakan kerja sama, Automechanika Jakarta menghadirkan 48 agenda pendukung berupa forum, lokakarya, diskusi panel, tur industri, dan aktivitas komunitas otomotif.
Sejumlah agenda unggulan mencakup Konferensi Solusi Mobilitas Otomotif, Forum Kolaborasi Rantai Pasok, Lokakarya Teknologi dan Keterampilan, serta Auto Service Day. Berbagai kegiatan komunitas dan kompetisi otomotif turut meramaikan pameran.
Isu kendaraan listrik (EV), pengembangan keterampilan, lokalisasi rantai pasok, dan insentif investasi juga menjadi perhatian peserta. Perubahan teknologi kendaraan dinilai menuntut pelaku industri dan bengkel menyiapkan kemampuan baru agar tetap kompetitif.
Sejumlah peserta mengaku memperoleh prospek bisnis, calon pelanggan, serta peluang memperluas jaringan distribusi. Astra Otoparts menilai pameran ini membuka ruang untuk memperkuat kemitraan di sektor OEM dan aftermarket, sedangkan perusahaan peralatan diagnostik dan komponen lainnya memanfaatkan ajang tersebut untuk menjangkau pelanggan baru di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
Dukungan datang dari berbagai asosiasi otomotif nasional dan internasional, termasuk organisasi yang mewakili industri aftermarket, peralatan bengkel, serta kendaraan listrik. Pameran ini juga mendapat liputan lebih dari 120 media perdagangan dan media massa lokal.
Bagi industri otomotif Indonesia, penyelenggaraan perdana Automechanika Jakarta menjadi momentum untuk memperluas akses ke jaringan bisnis global. Tantangan berikutnya adalah mengubah besarnya minat internasional menjadi investasi, kemitraan teknologi, peningkatan kapasitas industri lokal, dan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. * (Syam)





