Jakarta, Mediaprofesi.id – Ancaman Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market memunculkan kekhawatiran terhadap arus modal asing. Di tengah potensi arus keluar dana yang disebut mencapai US$5 miliar, aset kripto dinilai berpeluang menjadi alternatif bagi investor yang mencari instrumen di luar pasar saham.
Head of Business Development PT Samuel Kripto Indonesia, Muhammad Raditya Adhimukti, menilai tekanan terhadap pasar saham dan pelemahan rupiah dapat mendorong investor mempertimbangkan aset digital, terutama stablecoin berbasis dolar Amerika Serikat (AS) seperti USDT dan USDC, serta Bitcoin.
“Menurut saya, kemungkinan investor beralih dari rupiah ke dolar memang ada. Namun, peluang perpindahan ke USDT bisa lebih besar dibandingkan dolar dalam bentuk tunai karena aksesnya relatif mudah,” ujar Raditya.
Menurut dia, kripto menawarkan beragam instrumen dengan fungsi berbeda. Stablecoin seperti USDT dan USDC dirancang mengikuti nilai dolar AS, sedangkan Bitcoin dan Ethereum memiliki karakteristik serta risiko investasi yang berbeda.
Raditya menilai stablecoin dapat menjadi pilihan bagi investor yang ingin memiliki eksposur terhadap dolar dalam bentuk digital. Namun, ia mengingatkan bahwa keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan risiko dan tujuan masing-masing investor.
Stablecoin Jadi Alternatif di Tengah Rupiah Tertekan

Pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan perhatian investor terhadap aset berbasis dolar. Dalam kondisi tersebut, stablecoin berpotensi menarik minat mereka yang ingin mendiversifikasi aset tanpa harus memegang dolar dalam bentuk tunai.
Raditya juga menyoroti peluang memperoleh imbal hasil melalui layanan tertentu di platform kripto. Meski demikian, imbal hasil tersebut tidak otomatis tersedia pada setiap produk dan dapat disertai risiko tambahan, termasuk risiko platform dan penerbit.
Ia menilai kondisi pasar saham Indonesia yang tertekan membuat investor semakin aktif mencari alternatif. Namun, perpindahan dana ke kripto bukan sesuatu yang otomatis terjadi, sebab keputusan investor tetap bergantung pada profil risiko, kebutuhan likuiditas, dan prospek masing-masing instrumen.
Bitcoin Kian Dilirik Investor Muda
Raditya juga melihat minat generasi Z terhadap investasi kripto terus berkembang. Menurut dia, perubahan kondisi pasar saham pada 2026 dapat menjadi salah satu faktor yang membuat investor muda kembali melirik aset digital.
Ia mencontohkan pergerakan Bitcoin yang, berdasarkan pengamatannya, sempat berada di kisaran US$54.000–US$55.000 sebelum naik ke sekitar US$81.000. Pergerakan tersebut menunjukkan besarnya potensi keuntungan sekaligus volatilitas yang melekat pada aset kripto.
Raditya menyebut imbal hasil rata-rata Bitcoin dalam jangka panjang bisa mencapai 20–30% per tahun. Namun, angka tersebut bukan jaminan keuntungan pada masa mendatang. Bitcoin juga berisiko mengalami koreksi tajam, bahkan ketika pasar saham sedang melemah.
Karena itu, diversifikasi tetap menjadi pertimbangan penting. Investor perlu memahami perbedaan karakteristik saham, stablecoin, dan aset kripto lainnya sebelum memindahkan dana.
Tekanan MSCI Bisa Jadi Momentum Pembenahan
Lebih jauh, Raditya menilai tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia dapat menjadi momentum untuk memperkuat kepercayaan investor, termasuk melalui perbaikan tata kelola dan transparansi pasar modal.
Ia mencontohkan Argentina, ketika tekanan ekonomi dan pelemahan mata uang mendorong sebagian masyarakat mencari alternatif penyimpanan nilai, termasuk kripto. Menurut dia, kemudahan akses menjadi salah satu faktor yang membuat aset digital menarik bagi masyarakat di tengah ketidakpastian.
Raditya juga menilai perkembangan kripto perlu berjalan seiring dengan kejelasan regulasi. Di Indonesia, pembahasan mengenai rupiah digital turut menunjukkan bahwa digitalisasi sistem keuangan terus berkembang, meski mata uang digital bank sentral berbeda dari aset kripto yang diperdagangkan di pasar.
Bagi investor, ancaman MSCI bukan berarti kripto otomatis menjadi pilihan yang lebih aman. Namun, gejolak pasar saham dan rupiah dapat memperbesar perhatian terhadap alternatif investasi.
Pada akhirnya, peluang kripto akan sangat bergantung pada kondisi pasar, kepercayaan investor, serta kemampuan setiap instrumen menghadapi risiko. Diversifikasi dapat menjadi strategi, tetapi keputusan investasi tetap harus didasarkan pada pemahaman yang matang, bukan semata-mata kepanikan terhadap gejolak pasar. * (Syam)





