Jakarta, Mediaprofesi.id – Pasar modal Indonesia menghadapi ancaman serius setelah MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan menurunkan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Di tengah tekanan tersebut, Samuel Sekuritas Indonesia menilai peluang investasi masih terbuka, meski pemulihan kepercayaan investor menjadi pekerjaan besar.
Ancaman downgrade ini berkaitan dengan persoalan transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta lemahnya penegakan aturan. Pembekuan indeks masih berlaku, sementara keputusan final MSCI dijadwalkan paling lambat Juni 2027.
Wakil Presiden Direktur PT Samuel Sekuritas Indonesia, Suria Dharma, menilai penurunan status pasar modal Indonesia bukan skenario yang diyakininya akan terjadi. Namun, ancaman tersebut tidak bisa diabaikan karena berpotensi menekan kepercayaan investor terhadap pasar saham domestik.
“Secara pribadi, saya tidak percaya IHSG akan dijatuhkan. Tetapi ini sudah menjadi ancaman,” ujar Suria dalam acara Media Connect 2026 di Menara Imperium, Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, tekanan pasar yang tajam pernah terjadi dalam berbagai periode krisis, termasuk pada 1998, 2008, dan saat pandemi Covid-19. Dalam situasi tersebut, koreksi besar justru dapat membuka peluang karena pasar berpotensi pulih dengan cepat.
Namun, Suria melihat kondisi saat ini memiliki tantangan tersendiri. Tekanan terhadap pasar masih dibayangi persoalan kepercayaan dan ketidakpastian terkait status Indonesia di mata MSCI.
Ia menilai valuasi saham yang semakin menarik bisa menjadi peluang bagi investor berorientasi jangka panjang. Meski demikian, pemulihan kepercayaan dan pembenahan tata kelola pasar menjadi kunci agar tekanan tidak berlarut-larut.
Investor Diminta Atur Strategi, Jangan Asal Borong Saham
Di tengah volatilitas pasar saham yang tinggi, Direktur sekaligus Chief Marketing Officer PT Samuel Aset Manajemen, Sisilia Dhone, mengingatkan investor agar tidak hanya terpancing oleh harga saham yang terlihat murah.
Menurut Sisilia, peluang investasi selalu ada dalam berbagai kondisi pasar. Namun, pemilihan instrumen harus disesuaikan dengan profil risiko dan jangka waktu kebutuhan dana.
Bagi investor yang khawatir terhadap gejolak pasar saat ini, reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap (fixed income) dapat menjadi alternatif untuk mengelola risiko. Kedua instrumen tersebut umumnya memiliki volatilitas lebih rendah dibandingkan reksa dana saham, meski tetap memiliki risiko investasi.
Sebaliknya, investor dengan tujuan keuangan jangka panjang, terutama yang baru membutuhkan dana dalam lima hingga 10 tahun mendatang, dapat mempertimbangkan masuk ke pasar saham secara bertahap.
Strategi averaging atau pembelian berkala dinilai membantu investor menghindari keputusan menempatkan seluruh dana sekaligus ketika pasar masih bergejolak.
“Kita tidak memasukkan seluruh nominal investasi sekaligus, tetapi masuk secara berkala dengan jumlah lebih kecil,” jelas Sisilia.
Strategi tersebut memungkinkan investor membangun posisi secara bertahap sekaligus menjaga fleksibilitas apabila kondisi pasar berubah.
Meski demikian, Sisilia menegaskan bahwa pengelolaan risiko tetap menjadi prioritas. Dalam kondisi pasar yang belum menentu, penempatan dana di pasar uang atau instrumen pendapatan tetap dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan dan profil risiko masing-masing investor.
Ancaman MSCI Jadi Ujian Kepercayaan
Situasi ini menempatkan pasar modal Indonesia pada persimpangan penting. Valuasi saham yang menarik belum tentu cukup untuk mengundang investor kembali jika persoalan transparansi, tata kelola, dan kepastian regulasi belum teratasi.
Ancaman penurunan status dari MSCI pun menjadi ujian bagi regulator dan pelaku pasar untuk memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia.
Bagi investor, peluang memanfaatkan koreksi tetap terbuka. Namun, keputusan investasi perlu mempertimbangkan perkembangan kebijakan MSCI, kondisi pasar, serta kemampuan menanggung risiko—bukan semata-mata berharap IHSG segera berbalik arah. * (Syam)





