Jakarta, Mediaprofesi.id – Biaya transportasi harian bisa menguras jutaan rupiah setiap bulan. Namun, pengguna kendaraan listrik personal mobility punya cara berbeda untuk menekan pengeluaran. Mulai dari skuter listrik hingga electric unicycle, kendaraan mungil ini menawarkan alternatif mobilitas yang lebih hemat di tengah kemacetan perkotaan.
Penghematan tersebut menjadi salah satu alasan berkembangnya EvRyde, komunitas pengguna kendaraan listrik personal mobility yang kini memiliki sekitar 300 anggota. Meski menawarkan solusi mobilitas yang lebih ekonomis, komunitas ini masih menghadapi persoalan serius, terutama keterbatasan fasilitas pengisian daya dan jalur sepeda yang kerap diserobot kendaraan bermotor.
Persoalan tersebut mengemuka dalam talkshow EvRyde di panggung utama Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2026, Minggu (1/11/2026). Community Lead EvRyde, Andika Bayu Pratama, bersama Co-Lead EvRyde, Eka Putri, berbagi pengalaman mengenai perkembangan komunitas hingga tantangan menggunakan kendaraan listrik untuk aktivitas sehari-hari.
Andika menjelaskan, EvRyde resmi terbentuk pada April 2026. Komunitas ini berawal dari kesulitan pengguna kendaraan listrik mendapatkan informasi, menemukan bengkel terpercaya, hingga mencari solusi ketika kendaraan mengalami masalah teknis.
“Pengguna skuter listrik di Indonesia masih terbatas. Informasinya juga sulit dicari. Akhirnya kami mulai terkoneksi melalui konten media sosial, kemudian membentuk komunitas agar bisa saling berbagi pengalaman dan membantu ketika ada masalah,” ungkap Andika.
Kini, anggota EvRyde tidak hanya menggunakan skuter listrik. Ada pula pemilik electric unicycle (EU) dan electric skateboard. Mayoritas anggota berasal dari Jabodetabek, tetapi komunitas ini juga telah menjangkau Bandung, Malang, Surabaya, Yogyakarta, Makassar hingga Bali.
Ongkos Transportasi Bisa Hemat Rp2,4 Juta
Salah satu daya tarik kendaraan listrik personal mobility adalah efisiensi biaya perjalanan. Andika mencontohkan pengalamannya yang tinggal di Sawangan, Depok, dan bekerja di kawasan Bundaran HI.
Untuk berangkat kerja, ia menggunakan electric unicycle dari rumah menuju Stasiun Lebak Bulus, kemudian melanjutkan perjalanan dengan MRT.
Perhitungan pengeluarannya cukup mengejutkan. Menggunakan mobil bisa menghabiskan sekitar Rp3,5 juta per bulan, sedangkan sepeda motor sekitar Rp1 juta. Namun, dengan electric unicycle, biaya transportasinya hanya sekitar Rp250.000 per bulan.
Artinya, ia bisa menghemat sekitar Rp750.000 setiap bulan dibandingkan menggunakan sepeda motor.
Penghematan lebih besar juga dirasakan Eka Putri. Sebelum menggunakan kendaraan listrik, ia mengandalkan ojek online dengan tarif sekitar Rp62.000 sekali jalan. Jika dihitung pulang-pergi selama 20 hari kerja, pengeluarannya mencapai Rp2,4 juta per bulan.
Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi penghematan bagi pekerja perkotaan yang harus mengeluarkan biaya transportasi cukup tinggi setiap hari.
Jalur Sepeda Malah Diserobot

Namun, mobilitas menggunakan kendaraan listrik personal mobility belum sepenuhnya nyaman. Andika menyoroti jalur sepeda di sejumlah ruas jalan protokol Jakarta yang justru dipenuhi sepeda motor, terutama saat jam pulang kantor.
Kondisi ini membuat pengguna kendaraan listrik serba salah. Menggunakan jalur sepeda terhalang kendaraan yang parkir atau menunggu penumpang, sementara melintas di jalur kendaraan umum juga berisiko mendapat teguran dari pengendara lain.
Selain ketertiban jalur sepeda, ketersediaan fasilitas pengisian daya di perkantoran juga masih menjadi pekerjaan rumah. Tidak semua tempat kerja menyediakan akses charging yang memadai.
Eka menilai keberadaan jalur sepeda di Jakarta sebenarnya sudah cukup membantu pengguna kendaraan listrik personal mobility. Namun, sejumlah ruas masih rusak atau digunakan tidak sesuai peruntukannya. Kondisi di luar Jakarta bahkan lebih menantang karena belum semua kota memiliki jalur sepeda.
Ajak Masyarakat Coba Sebelum Membeli
Untuk memperluas penggunaan kendaraan listrik, EvRyde rutin menggelar kopi darat setiap Jumat malam di Gudda Coffee, Wisma Serbaguna Senayan, Jakarta.
Anggota bisa saling berbagi pengalaman, membahas masalah teknis, hingga memperbaiki kendaraan bersama. Masyarakat yang belum memiliki kendaraan listrik juga dipersilakan datang untuk mencoba unit milik anggota sebelum memutuskan membeli.
EvRyde juga membentuk Lady Ride sebagai ruang khusus bagi anggota perempuan. Dari sekitar 300 anggota, kurang lebih 30 orang atau 10 persen merupakan perempuan.
Bagi calon pengguna, Andika mengingatkan pentingnya menyesuaikan kendaraan dengan kebutuhan mobilitas. Kapasitas baterai, jarak tempuh rumah ke kantor, kecepatan, serta ketersediaan tempat pengisian daya harus menjadi pertimbangan sebelum membeli.
Dengan potensi penghematan yang besar, kendaraan listrik personal mobility memang menawarkan alternatif perjalanan perkotaan. Namun, tanpa fasilitas charging yang memadai dan jalur sepeda yang tertib, solusi mobilitas hemat ini masih harus menghadapi tantangan di jalan raya. (Syam)





