MediaProfesi.id
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Minggu, 19 April 2026
No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Minggu, 19 April 2026
No Result
View All Result
MediaProfesi.id
No Result
View All Result
Home Nasional

Gejolak Bangladesh: Politik Berdarah Berwarna ‘Pelangi’

Pratama by Pratama
Minggu, 11 Agustus 2024
in Nasional
Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

133
VIEWS

Penulis: Sabpri Piliang – Wartawan Senior

Jakarta, Media-profesi.com – “Sang penguasa haruslah membuat dirinya ditakuti. Bila ‘penguasa’ tidak dicintai, maka dia tak boleh dibenci. Karena, rasa takut dan kebencian, dapat berjalan bersama-sama”. (Niccolo Machiavelly, dalam ‘Il Principe”).

Adalah bulan ini, 15 Agustus 1975, yang merubah keseluruhan kehidupan mantan PM Bangladesh Syekh Hasena Wajed. Kekerasan dan kebencian terhadap ayahnya Syekh Mujibur Rahman oleh militer. Membuat dirinya terpaksa terjun ke dunia politik. Melanjutkan eksistensi Partai Liga Awami yang didirikan ayahnya, setelah Deklarasi Kemerdekaan Bangladesh.

Kisah Ayah Hasena Wajed, juga pendiri Bangladesh, Mujibur Rahman berakhir lewat tembakan peluru. Mujibur Rahman yang disponsori India untuk merdeka Desember 1971, tewas bersama tiga putra, dan Isterinya. Sementara Syekh Hasena Wajed beserta adik perempuannya Syekh Rehanna selamat, karena sedang ada di Jerman.

Lazim terjadi semasa 1960 dan 70-an, hingga era 80-an, “Coup De tat” (kudeta), penggulingan satu Pemerintahan yang sah, dilakukan dengan menghabisi seluruh anggota keluarga.

Analogi pembunuhan politik seperti itu, terjadi lagi tahun 2001. Hal yang tak ‘lazim’ terjadi pasca-“Perang Dingin”. Skeptis khalayak mengemuka, saat Raja Nepal dari Wangsa Shah, Birendra (lewat pengumuman resmi pemerintah), dibunuh oleh putra Mahkota Pangeran Dipendra. Dengan alasan ‘sepele’, soal polemik pernikahan Pangeran. Tak masuk akal.

Raja Birendra yang merupakan Ayah kandung Dipendra tewas, bersama Ibu (Aishwarya Rajya Laxmi Devi Shah), adik (Putri Shruti dan Pangeran Nirajan), yang total berjumlah tujuh orang anggota keluarga istana Narayanhity. Dinasti Birendra habis, karena Pangeran Dipendra diumumkan juga tewas bunuh diri (suicide).

Peristiwa ini ditanggapi skeptis oleh “public opinion” secara inklusif. Dinasti (Wangsa Shah) yang dimulai pada abad ke-15, berakhir di tangan Raja Gyanendra (adik Birendra, dan Paman Pangeran Dipendra), setelah Gyanendra digulingkan oleh kelompok kiri Nepal. Kini, Nepal sudah berubah menjadi Republik.

Sabpri Piliang - Wartawan Senior
Sabpri Piliang – Wartawan Senior

Peristiwa habisnya Wangsa ‘Shah’ di Nepal 2001, hampir saja menghabisi ‘klan’ Mujibur Rahman. Andai 5 Agustus (2024 lalu), Syekh Hasena Wajed beserta dua anaknya tidak ‘buru’-‘buru’ meninggalkan Bangladesh bersama Helikopter,  pergi ke India. Karena, saat itu rumahnya di Ibukota Dakha, diserbu oleh ribuan orang pendemo.

PM enam periode, Syekh Hasena Wajed (1996-2001 & 2009-2024) didemo Mahasiswa (secara implisit didukung militer), karena perkara sepele. Kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil (soal ‘gap’ kuota masuk pegawai negeri). Pemerintah mengistimewakan anggota keluarga pejuang Kemerdekaan Bangladesh. Demo ini, kemudian berkembang menjadi tuntutan mundur Hasena Wajed.

Hal yang sama pernah terjadi pada Presiden Filipina Ferdinand Marcos. Kabur ke AS (1989). Presiden Vietnam Selatan Nguyen Van Theu lari ke AS (1975), dan Presiden Kamboja Lon Nol melarikan diri juga ke AS karena pemberontakan (1975), dan Jean Claude Duvalier (Baby Doc) tahun 1986 digulingkan oleh pemberontakan rakyat Haiti.

Bangladesh, yang memiliki  luas 148.456 kilometer persegi, dan berpenduduk 165 juta jiwa (sensus 2022), memiliki ‘histori’ kudeta berdarah, sejak kemerdekaannya dari Pakistan.

Bangladesh yang semula adalah wilayah Pakistan Timur (Bengali Timur), merdeka lewat “sponsorship” India (menguasai wilayah Bengali Barat). Sesama mayoritas Islam, namun kultur Pakistan Barat dan Pakistan Timur, berbeda jauh. Lebih dekat dengan kultur dan bahasa India, Bangladesh memisahkan diri.

Kultur kudeta berdarah, nampaknya menjadi “pakaian badan”. Itulah yang membuat Bangladesh sering diintervensi militer. Pertikaian antara politisi yang intensitasnya tinggi, membuat Bangladesh tidak stabil.

Belum berhenti pada ayah Syekh Hasena Wajed (Syekh Mujibur Rahman), Presiden Bangladesh Mayor Jenderal Ziau Rahman (setelah Presiden Khundaqar Mushtaq Ahmed), juga terbunuh oleh kudeta militer yang dipimpin oleh Mayjen Mohammad Abdul Manzoor.

Disebut-sebut ikut dalam peristiwa terbunuhnya pendiri Bangladesh Syekh Mujibur Rahman 1975, Ziau Rahman yang juga suami PM tiga periode Bangladesh (Begum Khaleda Zia). Sebenarnya adalah teman seperjuangan Mohammed Abdul Manzoor saat Kemerdekaan Bangladesh (1971).

Namun, itulah ‘kekuasaan’. Tak ada teman sejati.  Ziaur Rahman terbunuh, ‘ditikam’, setelah memegang jabatan Presiden selama empat tahun (1977-1981). Isterinya, Begum Khaleda Zia melanjutkan trakh politik dengan menjadi Perdana Menteri (PM) selama tiga kali (1991-1996, Pebruari 1996-Maret 1996, 2001-2006).

Dalam perjalanan “roadmap” kehebohan politik Bangladesh, sepertinya negara hanya ‘dimiliki’ oleh dua pemimpin, yang silih berganti: Syekh Hasina Wajed  (anak mendiang Syekh Mujibur Rahman) dan Begum Khaleda Zia (isteri mendiang Presiden Ziaur Rahman).

Sejarah (historical), adalah studi perubahan. Yang ironisnya digunakan sebagai peta masa depan (future map).

Sejarah, termasuk sejarah perjalanan mantan PM Syekh Hasena Wajed. Juga sejarah Begum Khaleda Zia adalah pelajaran yang mengejutkan. Tak terduga, dari kenikmatan menjadi kecemasan dan kekhawatiran.

Sulit untuk menerapkan, atau melanggengkan teori Machiavelly dalam “Il Principe” tentang “penguasa”.  Untuk menciptakan ketakutan, agar orang menjadi takut. Atau menciptakan “rasa Cinta”, agar orang dipaksa memilih “Cinta”.

Syekh Hasena Wajed, telah pergi. Meninggalkan kesenangannya. Meninggalkan kekuasaan yang sebenarnya, ‘pelangi’ dan nisbi (semu). * (Syam/Pra) – Foto: Istimewa

Post Views80 Views
Tags: BangladeshDemoKerusuhan

Related Posts

KEKUASAAN SURIAH RUNTUH: “Gotcha” Klan Assad
Nasional

KEKUASAAN SURIAH RUNTUH: “Gotcha” Klan Assad

by Pratama
Minggu, 8 Desember 2024
39
KRISIS KOREA SELATAN: “Mafia Choongham” dan Nasib Presiden
Nasional

KRISIS KOREA SELATAN: “Mafia Choongham” dan Nasib Presiden

by Syamhudi
Sabtu, 7 Desember 2024
28

RECOMMENDED

Daewoong Hadirkan Obat Inovatif P-CAB ‘Fexuprazan’, Resmi Dapat Persetujuan BPOM di Indonesia

Daewoong Hadirkan Obat Inovatif P-CAB ‘Fexuprazan’, Resmi Dapat Persetujuan BPOM di Indonesia

19 April 2026
6
Peningkatan Fitur Galaxy A57 5G dan Galaxy A37 5G untuk Menunjang Gaya Hidup Anak Muda Indonesia

Peningkatan Fitur Galaxy A57 5G dan Galaxy A37 5G untuk Menunjang Gaya Hidup Anak Muda Indonesia

19 April 2026
10

MOST VIEWED

  • Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    569 shares
    Share 228 Tweet 142
  • Dokter Phedy Memiliki Keahlian Menangani Berbagai Masalah Tulang Belakang

    366 shares
    Share 146 Tweet 92
  • Mengawali Tahun 2023, Sharp Luncurkan LED TV Aquos IIOTO Series Terbaru

    359 shares
    Share 144 Tweet 90
  • Dable Terbitkan ‘Digital Media Landscape 2021’, Termasuk TOP 30 Media di Indonesia

    325 shares
    Share 130 Tweet 81
  • Kementerian Agama Buka Seleksi Petugas Haji 2023, Syarat Utama Wajib Penguasaan IT

    324 shares
    Share 130 Tweet 81
MediaProfesi.id

MediaProfesi menyediakan berita aktual

CATEGORY

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Profil
  • Sosialita
  • Teknologi

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM

No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Sosialita

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM