Penulis: Sabpri Piliang – Wartawan Senior
Jakarta, Media-profesi.com – Pengkhianatan Taka kepada Mufasa (Lion King). Ibarat “kotor dicuci, berabu dijentik”. Mestinya tak dimaafkan. Cinta segitiga melahirkan niat buruk.
Perbuatan keliru Taka yang membuka rahasia “keluarga” kepada Kiros (Singa liar) seharusnya diberi hukuman setimpal. Namun, Mufasa hanya memberi sanksi sosial. Ganti nama, Scara! “Aku tak ingin melihatmu sebagai Taka”, kata Mufasa.
Mufasa, sang anak Singa. Sejak kecil telah dilihat sebagai sosok pemimpin. “Flashback” yang menceritakan sang “Lion King” saat kecil. Hanyut dan terseret “galodok” (air bah). Sebuah kisah yang menguras emosional.

Diselamatkan Taka (anak keluarga Singa) lain, Mufasa awalnya ditolak masuk ke dalam komunitas tersebut. Atas permohonan Taka, Mufasa memperoleh keluarga baru.
Bermil-mil jauh terpisah dari Ayah dan Ibu, Mufasa tumbuh remaja dan dewasa bersama Taka. Belajar bersama: berburu, melatih keterampilan melompat, dan menghindari marabahaya alam liar. Keduanya seperti kakak-adik sekandung. Selalu bersama dan akur.
Kiros (Singa liar) beserta gerombolannya telah lama mendengar. Akan ada seekor Singa yang kelak menjadi “The Lion King”, bakal menjadi raja di “Surga” belantara, bernama “Milele”.
Tanah Subur, pepohonan rindang, air, buah-buahan, semua tersedia lengkap di Milele. Kiros ingin dia yang menjadi “The King”. Bukan Mufasa. Kematian Mufasa adalah target yang harus dituntaskan.
“Harap akan anak buta mata sebelah. Harap akan teman, buta mata keduanya. Kedatangan “Sarabi”, Singa betina nan rupawan. Telah membutakan kedua mata Taka. Muncul niat jahat Taka kepada saudara angkatnya, Mufasa.
Taka yang jatuh hati pada Sarabi, bertepuk sebelah tangan. Sarabi di tempat yang sepi, terlihat berkasih-kasih dan bermanja kepada Mufasa. “Kamu Mufasa, telah mencuri takdirku”, kata Taka bergumam.

Sarabi dalam bahasa suku Swahili (Tanzania/Afrika) bermakna “fatamorgana”. Dikemudian hari perkawinan Musafa-Sarabi, melahirkan Simba. Simba kemudian memberi Mufasa cucu bernama Kiara.
Menemui Kiros, Taka menyatakan ingin bergabung dengan Singa liar. Taka juga mengatur siasat bersama Kiros, untuk menyudahi hidup Mufasa.
Sutradara Barry Jenkins mengemas “Mufasa: The Lion King”, begitu apik. Film berdurasi hampir dua jam ini, memperlihatkan karakter kuat Mufasa, bahkan sejak rilis pertama (1994), lima tahun lalu.
Sosok Raja Hutan kharismatik, ditonjolkan Jenkins, sekalipun dalam “flashback”. Kelincahan dan daya survival, saat menantang bahaya adalah bakat kepemimpinan Mufasa sebagai raja kelak.

Alur cerita (“screenplay”) Jeff Nathanson sangat mengalir. Film sekuel Mufasa: The Lion King yang pertama kali tayang 2019, sangat layak ditonton sebagai tontonan fiksi bermutu. Meraup USD 1,65 milyar, The Lion King (2019) menjadi film animasi terlaris dan “Box Office”.
Berlatar Gunung tertinggi di Afrika (Tanzania), Kilimanjaro (5895 meter), sekuel The Lion King begitu memanjakan mata penonton. Film animasi dengan spesial efek yang aduhai, pokoknya sangat menghibur.
Efek khusus film Mufasa: The Lion King, dibuat dengan memakai teknologi “virtual reality” (VR), motion picture, dan simulcam. Sehingga singa-singa animasi, akan terlihat seperti riil Singa.
Film animasi 3D dari Walt Disney ini, layak ditonton. Saya nggak mau cerita komprehensif. Takut, Anda nggak jadi nonton…he..he…selamat menyaksikan. * (Syam/Wah) – Foto: Istimewa





