Jakarta, Mediaprofesi.id – Konferensi Republik menghasilkan tiga model kepemimpinan yang dinilai dapat menjadi fondasi baru bagi konsolidasi organisasi masyarakat sipil di Indonesia. Tiga model tersebut adalah kepemimpinan institusional, kolektif, dan intrinsik.
Rumusan itu menjadi salah satu hasil utama forum konsolidasi nasional yang tetap berlangsung meski menghadapi kendala di detik-detik terakhir. Lokasi acara yang semula telah disiapkan dibatalkan sehari sebelum pelaksanaan. Namun, forum tetap berjalan melalui kombinasi pertemuan daring dan luring terbatas.
Lebih dari 200 peserta mengikuti acara secara daring hingga tuntas, sementara lebih dari 100 peserta hadir langsung dalam forum tersebut.
Ketua Umum Konferensi Republik, Sudirman Said, menjelaskan bahwa ketiga model kepemimpinan tersebut dirancang sebagai jawaban atas tantangan masyarakat sipil yang selama ini tersebar dalam beragam organisasi dan gerakan.
Menurutnya, keragaman itu tidak mungkin disatukan melalui satu tokoh atau satu lembaga yang dominan. Karena itu, dibutuhkan model kepemimpinan yang bertumpu pada institusi yang kuat, dijalankan secara kolektif, serta berakar pada nilai dan tujuan bersama.

“Ini untuk mengingatkan bahwa republik ini bukan milik perseorangan,” kata Sudirman Said, Minggu (28/6/2026).
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam desain organisasi berbentuk jejaring yang menghubungkan berbagai kelompok masyarakat sipil tanpa harus menempatkan satu pihak sebagai pusat kekuasaan.
Sekretaris Jenderal Konferensi Republik, Yanuar Nugroho, menegaskan bahwa model kepemimpinan yang diusulkan sekaligus menjadi penanda terhadap pola lama yang ingin ditinggalkan.
“Kepemimpinan ini bukan tentang popularitas, bukan tentang sosok, dan bukan sekadar menumpuk jabatan. Ini bukan tentang siapa, tetapi tentang bagaimana,” ujarnya.
Yanuar menilai ruang publik selama ini terlalu sering disuguhi model kepemimpinan yang pragmatis dan berpusat pada individu. Karena itu, Konferensi Republik mencoba menawarkan pendekatan yang menempatkan warga negara kembali sebagai subjek perubahan.

Selain merumuskan model kepemimpinan, forum juga menyepakati dua hasil penting lainnya, yakni pembentukan platform bersama dan desain organisasi berbasis jejaring.
Menurut Yanuar, platform tersebut menjadi titik temu bagi berbagai kelompok dengan latar belakang berbeda, sementara model jejaring memungkinkan mahasiswa, profesional, aktivis, hingga anak muda terhubung tanpa kehilangan kemandiriannya masing-masing.
“Ada kegelisahan yang sama di banyak kelompok masyarakat. Jejaring ini ingin menghubungkan mereka. Anda tidak sendirian,” katanya.
Wakil Ketua Umum Konferensi Republik, Jaleswari Pramodhawardhani, mengatakan pembatalan lokasi acara justru tidak mengurangi semangat peserta. Ratusan orang tetap mengikuti forum dari awal hingga akhir.
Ia menilai ruang publik semacam ini penting untuk mempertemukan gagasan dari berbagai kalangan dan mengubahnya menjadi langkah nyata.
“Bukan cuma antusiasme, tetapi betapa kita mencintai Indonesia,” ujarnya.

Konferensi Republik juga memberi perhatian besar pada peran generasi muda. Sudirman Said secara khusus mengapresiasi para relawan muda yang menjadi penggerak utama penyelenggaraan forum.
Menurutnya, tanpa kerja sukarela mereka yang menyiapkan acara, mengelola diskusi, hingga menghadapi pembatalan lokasi secara mendadak, forum tersebut tidak akan terlaksana.
“Mereka bekerja tanpa pamrih dan tanpa meminta panggung. Yang menggerakkan adalah kecintaan pada Indonesia,” kata Sudirman.
Sementara itu, Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia unsur mahasiswa, Razaan Bayu Rachman, berharap Konferensi Republik dapat menginspirasi lahirnya lebih banyak ruang dialog bagi masyarakat sipil.
“Kita punya tujuan yang sama, dan kita butuh wacana perubahan yang lebih konkret lagi,” ujarnya.
Forum juga menampung usulan nama-nama formatur yang akan menyusun kepengurusan organisasi. Selain Sudirman Said, Jaleswari Pramodhawardhani, dan Yanuar Nugroho, terdapat 17 nama lain yang diajukan untuk menjadi formatur.
Ke depan, Konferensi Republik direncanakan digelar secara bergilir di berbagai kota yang telah menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah. Bagi penyelenggara, momentum ini menunjukkan bahwa ruang publik untuk membicarakan persoalan bangsa masih sangat dibutuhkan.
Melalui kepemimpinan yang institusional, kolektif, dan intrinsik, Konferensi Republik berharap masyarakat sipil dapat tumbuh lebih kuat serta mampu menjadi salah satu penopang utama kehidupan republik. * (Syam)



