Jakarta, Mediaprofesi.id – Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di sektor kesehatan berkembang semakin cepat. Dari membantu pengambilan keputusan klinis hingga mengotomatisasi berbagai proses administratif, teknologi ini mulai menjadi bagian penting dalam operasional layanan kesehatan modern.
Namun di balik laju adopsi tersebut, banyak organisasi kesehatan ternyata masih menghadapi persoalan mendasar: infrastruktur yang belum siap.
Temuan itu terungkap dalam survei tahunan Enterprise Cloud Index (ECI) 2026 sektor kesehatan yang dirilis oleh Nutanix. Survei global tersebut menyoroti kesiapan infrastruktur, adopsi AI, serta perkembangan teknologi kontainerisasi di berbagai organisasi kesehatan di dunia.
Laporan ini menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar antara ambisi pemanfaatan AI dan kesiapan teknologi pendukungnya. Di satu sisi, penggunaan AI kini semakin didorong dari level pimpinan organisasi. Di sisi lain, fenomena shadow AI atau penggunaan aplikasi AI di luar pengawasan departemen IT juga semakin meluas, baik di area klinis maupun administratif.
Situasi ini menjadi semakin krusial karena AI tidak lagi hanya beroperasi di pusat data atau cloud. Teknologi tersebut kini mulai bergeser ke titik layanan pasien (point of care), tempat sekitar 75% data kesehatan diperkirakan akan dihasilkan di masa depan. Kondisi itu membuat kebutuhan akan infrastruktur yang andal, tata kelola yang kuat, dan kedaulatan data menjadi semakin penting.

Chief Technology Officer dan VP Solution Engineering APJ Nutanix, Daryush Ashjari, mengatakan organisasi kesehatan di Asia Pasifik dan Jepang saat ini menghadapi tekanan besar untuk mengadopsi AI. Namun kebutuhan tenaga klinis yang terus meningkat belum sepenuhnya diimbangi kesiapan infrastruktur pendukung.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya berdampak pada aspek teknologi informasi, tetapi juga berpotensi memengaruhi akses data, ketersediaan sistem kritikal, hingga kontinuitas layanan pasien. Karena itu, organisasi kesehatan perlu beralih dari pendekatan yang reaktif menuju strategi hybrid yang lebih terintegrasi.
Survei Nutanix mencatat sebanyak 79% organisasi kesehatan menemukan penggunaan aplikasi atau agen AI yang dilakukan karyawan di luar pengawasan tim IT. Bahkan, 83% responden menilai praktik tersebut berpotensi menimbulkan risiko bagi organisasi. Persentase yang sama juga mengakui bahwa silo antara unit bisnis dan departemen IT menjadi hambatan dalam implementasi teknologi secara efektif.
Tantangan lain muncul dari kesiapan infrastruktur. Sebanyak 88% pemimpin IT sektor kesehatan mengaku sistem yang mereka miliki saat ini belum sepenuhnya siap mendukung beban kerja AI di lingkungan on-premises. Padahal kebutuhan pemrosesan AI langsung di lokasi layanan pasien semakin penting untuk menghindari latensi yang dapat memengaruhi layanan klinis.
Menariknya, AI juga menjadi pendorong utama percepatan adopsi teknologi kontainer. Sebanyak 86% organisasi kesehatan mengaku AI mempercepat implementasi kontainerisasi, sementara 80% telah membangun aplikasi baru berbasis teknologi tersebut. Kontainer dinilai mampu membantu rumah sakit menjalankan aplikasi AI secara aman sekaligus menjaga data tetap berada di lingkungan internal mereka.
Laporan ini juga menunjukkan optimisme tinggi terhadap agen AI otonom. Sebanyak 58% pemimpin IT percaya teknologi tersebut akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi organisasi. Bahkan, lebih dari separuh responden meyakini agen AI dapat mengubah proses bisnis, menciptakan layanan baru, hingga membuka sumber pendapatan tambahan.
Di saat yang sama, isu kedaulatan data semakin menjadi prioritas. Sebanyak 72% organisasi kesehatan menyatakan aspek tersebut kini menjadi syarat utama dalam pengambilan keputusan infrastruktur. Sensitivitas data kesehatan dan tuntutan regulasi membuat banyak organisasi memilih menyimpan dan memproses data di dalam negeri.
Secara keseluruhan, survei ini menggambarkan satu realitas yang sulit diabaikan: adopsi AI di sektor kesehatan bergerak sangat cepat, sementara kesiapan infrastrukturnya belum mampu mengimbangi. Ke depan, rumah sakit dan organisasi kesehatan dituntut membangun fondasi teknologi yang lebih kuat agar AI dapat dimanfaatkan secara aman, patuh regulasi, dan benar-benar mendukung kualitas layanan pasien.
Bagi para pemimpin IT, tantangannya kini bukan lagi sekadar mengimplementasikan AI, melainkan memastikan teknologi tersebut berjalan di atas infrastruktur yang mampu menghadirkan kinerja tinggi, keamanan data, dan keandalan layanan di setiap titik perawatan pasien.Jika ditujukan untuk media bisnis seperti CNBC Indonesia, saya bisa membuat versi yang lebih tajam dengan fokus pada risiko investasi infrastruktur AI, kedaulatan data, dan dampaknya terhadap industri layanan kesehatan. * (Syam)





