Jakarta, Mediaprofesi.id – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di sektor jasa keuangan terus melesat. Namun di balik antusiasme tersebut, banyak organisasi ternyata masih menghadapi tantangan besar untuk menerapkan AI dalam skala yang lebih luas dan aman.
Hal itu terungkap dalam laporan tahunan kedelapan Financial Sector Enterprise Cloud Index (ECI) yang dirilis oleh Nutanix. Laporan tersebut menunjukkan bahwa persoalan tata kelola, kesiapan infrastruktur, hingga operasional masih menjadi penghambat utama dalam perjalanan transformasi AI di industri keuangan.
Salah satu temuan paling mencolok adalah meningkatnya fenomena Shadow AI, yakni penggunaan aplikasi atau layanan AI tanpa persetujuan resmi perusahaan. Sebanyak 66% eksekutif TI mengaku menemukan praktik tersebut di organisasinya. Lebih mengkhawatirkan lagi, 86% responden menilai penggunaan AI tanpa pengawasan ini berpotensi menimbulkan risiko bisnis yang serius.
Laporan itu juga mengungkap bahwa hambatan terbesar dalam memperluas penerapan AI bukan lagi masalah teknologi semata. Sebanyak 38% responden menyebut kompleksitas proses bisnis sebagai tantangan utama, disusul faktor organisasi seperti kepemimpinan dan ketersediaan talenta sebesar 34%. Sementara itu, kendala teknis hanya menyumbang 28%.
Di sisi lain, isu kedaulatan data semakin menjadi perhatian. Sebanyak 79% organisasi menyatakan kedaulatan data sebagai prioritas penting. Namun ironisnya, 62% masih menjalankan beban kerja berbasis kontainer di cloud publik. Kondisi ini memunculkan apa yang disebut sebagai sovereignty debt, yakni kesenjangan antara kebutuhan kepatuhan data dan praktik operasional yang berjalan saat ini.

Kontainerisasi pun semakin dipandang sebagai fondasi penting bagi pengembangan AI. Sebanyak 90% responden menyatakan AI mendorong percepatan adopsi teknologi kontainer, sementara 89% memperkirakan tren tersebut akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
Meski adopsi AI terus meningkat, banyak perusahaan keuangan masih belum memiliki pondasi teknologi yang memadai. Sebanyak 68% responden mengakui infrastruktur mereka belum sepenuhnya siap untuk menangani beban kerja AI secara on-premises. Karena itu, hampir dua pertiga organisasi atau 64% memilih mengandalkan penyedia layanan pihak ketiga untuk menutup kesenjangan tersebut.
Vice President & General Manager APJ Nutanix, Jay Tuseth, menilai persaingan saat ini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki model AI paling canggih.
“Di kawasan APJ, kompetisi kini bergeser pada kemampuan organisasi untuk meningkatkan skala penerapan AI secara aman dan bertanggung jawab. Dengan meningkatnya tuntutan regulasi serta risiko terkait kedaulatan data dan Shadow AI, perusahaan perlu beralih ke platform berbasis kontainer yang fleksibel dan mampu mengelola beban kerja di lingkungan hybrid,” ujarnya.
Menurut Tuseth, perusahaan yang berhasil bukanlah mereka yang memiliki anggaran komputasi terbesar, melainkan yang mampu menyelaraskan infrastruktur teknologi dengan kebutuhan regulasi dan kedaulatan data di masing-masing negara.
Studi global ini dilakukan oleh Wakefield Research pada November 2025 dan melibatkan 1.600 eksekutif di bidang cloud, TI, serta engineering dari perusahaan dengan lebih dari 500 karyawan. Survei mencakup responden dari berbagai negara, termasuk Australia, Jepang, Singapura, India, Inggris, Amerika Serikat, hingga Arab Saudi.
Temuan tersebut menjadi sinyal bahwa keberhasilan implementasi AI di sektor keuangan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan tata kelola, sumber daya manusia, dan strategi pengelolaan data yang matang. Dengan kata lain, tantangan terbesar AI saat ini bukan lagi soal mengadopsi, melainkan bagaimana menjalankannya secara aman, patuh, dan berkelanjutan. * (Syam/Wah)





