Jakarta, Mediaprofesi.id – Perkembangan teknologi dalam 18 bulan terakhir mengubah cara perusahaan membangun dan mengelola infrastruktur digital. Selama hampir dua dekade, virtualisasi menjadi fondasi utama operasional TI. Namun kini, model tersebut menghadapi tantangan baru, mulai dari lonjakan biaya hingga kebutuhan menjalankan berbagai jenis beban kerja dalam satu ekosistem.
Menurut Ashesh Badani, Senior Vice President dan Chief Product Officer Red Hat, infrastruktur saat ini tidak lagi hanya menangani virtual machine (VM), tetapi juga harus mendukung aplikasi cloud-native, sistem legacy, hingga workload berbasis artificial intelligence (AI) yang membutuhkan performa GPU tinggi.
Kondisi tersebut membuat istilah modernisasi semakin sering terdengar. Namun, modernisasi bukan sekadar mengganti teknologi lama dengan yang baru. Banyak perusahaan telah menggelontorkan investasi besar pada sistem yang sudah ada, sementara tidak semua aplikasi layak atau bahkan memungkinkan untuk dimodernisasi.
Karena itu, pendekatan yang lebih relevan adalah menyatukan seluruh infrastruktur dalam satu platform terpadu (unified platform). Dengan model ini, virtual machine, container, dan workload AI dapat berjalan berdampingan dalam satu lingkungan operasional dengan standar keamanan yang konsisten.
Tantangan Terbesar Ada pada Manusia
Menurut Badani, hambatan utama transformasi digital justru bukan teknologi, melainkan sumber daya manusia. Tim TI dituntut menjaga sistem lama tetap berjalan tanpa gangguan, sekaligus membangun arsitektur baru, sering kali tanpa tambahan personel maupun toleransi terhadap penurunan layanan.
Akibatnya, banyak proyek modernisasi terhambat karena migrasi hanya dipandang sebagai perpindahan teknologi, bukan sebagai transformasi bisnis. Padahal, keberhasilan migrasi membutuhkan pemahaman menyeluruh terhadap sistem yang ada, visibilitas penuh, serta skenario pemulihan apabila terjadi kendala.
Hybrid Cloud Jadi Jalan Tengah

Public cloud memang menawarkan solusi cepat, tetapi mengandalkan satu ekosistem cloud saja berpotensi mengurangi fleksibilitas. Selain faktor regulasi dan kedaulatan data, perusahaan juga berisiko kehilangan portabilitas aplikasi ketika kebutuhan bisnis berubah.
Di sinilah hybrid cloud menjadi pilihan yang lebih seimbang. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan memanfaatkan sumber daya cloud untuk kebutuhan komputasi besar, seperti pelatihan model AI, sekaligus mempertahankan data atau aplikasi sensitif tetap berada di lingkungan internal.
Lebih dari itu, hybrid cloud mampu menyatukan sistem legacy, aplikasi cloud-native, hingga workload AI dalam satu platform operasional yang lebih efisien dan mudah dikelola.
Momentum Membangun Masa Depan
Badani menilai krisis virtualisasi saat ini seharusnya menjadi momentum bagi perusahaan untuk membangun fondasi teknologi yang lebih siap menghadapi masa depan.
Red Hat sendiri mencatat pertumbuhan signifikan dalam adopsi OpenShift Virtualization. Selama setahun terakhir, jumlah VM yang berjalan di platform tersebut meningkat lebih dari 400 persen. Perusahaan juga telah meninjau lebih dari satu juta VM untuk dimigrasikan, dengan lebih dari 400.000 VM berhasil berpindah ke platform baru.
Sejumlah organisasi global seperti ARSAT, BNP Paribas, EUROCONTROL, NASA JPL, dan Telenet telah memanfaatkan Red Hat untuk memigrasikan infrastruktur virtualisasi sekaligus mempersiapkan lingkungan TI mereka menghadapi era AI.
“Perusahaan tidak lagi cukup menjadi konsumen teknologi. Mereka harus mampu membangun infrastruktur yang lebih mandiri, fleksibel, dan siap menghadapi perubahan. Masa depan bukan ditentukan oleh satu produk, melainkan oleh model operasional yang mampu menjembatani kebutuhan bisnis hari ini dengan inovasi di masa depan,” tutup Badani. * (Syam)





