Tangerang, Mediaprofesi.id – Dalam rangkaian program FIFGROUP Aman Berlalu Lintas (FABL) 2026, FIFGROUP menggelar talkshow “Bincang-Bincang Bersama (3B) GIIAS!” bertema Safety Riding FIFGROUP Aman Berlalu Lintas (FABL) 2026 di Main Stage ACC–TAF Hall 7 GIIAS 2026, ICE BSD, Tangerang, Sabtu (1/8).
Hadir sebagai narasumber Safety Riding Instructor PT Astra Honda Motor (AHM), M. Zakky Zulfiar, yang membagikan berbagai tips berkendara aman, mulai dari penggunaan motor listrik hingga etika touring bersama komunitas.
Menurut Zakky, pengendara motor listrik perlu memiliki kewaspadaan lebih tinggi karena kendaraan jenis ini tidak menghasilkan suara knalpot seperti motor berbahan bakar bensin. Kondisi tersebut membuat keberadaan motor listrik lebih sulit disadari pengguna jalan lain.
“Pengendara motor listrik sebaiknya lebih aktif menggunakan klakson saat hendak menyalip dan selalu memastikan area blind spot aman sebelum berpindah jalur,” ujarnya.

Selain itu, setiap kendaraan listrik memiliki karakter performa yang berbeda. Ada model yang respons akselerasinya cepat, tetapi ada pula yang lebih halus. Karena itu, pengendara harus memahami karakter kendaraannya sebelum digunakan di jalan.
Dalam kesempatan tersebut, Zakky juga mengungkap hasil survei yang dilakukan AHM terhadap peserta pelatihan keselamatan berkendara. Salah satu kelemahan yang paling sering ditemukan adalah kurangnya kesadaran menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan.
Ia mengingatkan, aturan mengenai jarak aman sebenarnya sudah memiliki panduan resmi dari Kementerian Perhubungan yang disesuaikan dengan kecepatan kendaraan. Informasi tersebut dapat dengan mudah diakses masyarakat.
Tak hanya membahas berkendara harian, Zakky juga membagikan panduan touring yang selama ini diterapkan AHM melalui konsep Pre, During, dan Post.
Tahap Pre berfokus pada seluruh persiapan sebelum perjalanan dimulai. Mulai dari memastikan jumlah peserta, mengecek kondisi sepeda motor melalui servis rutin, mengisi bahan bakar penuh, hingga menyusun rute perjalanan secara detail.

Menurutnya, perencanaan rute sebaiknya tidak sekadar menentukan tujuan, tetapi juga mencakup titik istirahat, pembagian etape perjalanan, kondisi jalan yang akan dilalui, hingga lokasi fasilitas kesehatan terdekat sebagai langkah antisipasi jika terjadi keadaan darurat.
“Bahkan jika tidak sempat melakukan survei langsung, peserta touring tetap bisa memanfaatkan Google Maps untuk mengetahui kondisi jalur dan lokasi medis terdekat,” jelasnya.
Selanjutnya pada tahap During, seluruh peserta diminta tetap menjaga jarak aman, memantau kondisi fisik masing-masing, dan tidak memaksakan diri apabila mulai merasa lelah.
Zakky juga mengingatkan pentingnya beristirahat secara berkala meski tubuh masih terasa bugar.
“Kami menyarankan pengendara berhenti setiap satu hingga dua jam sekali. Walaupun belum mengantuk, sempatkan istirahat, minum air putih, dan melakukan peregangan ringan agar konsentrasi tetap terjaga,” katanya.
Ia menegaskan tidak ada batas maksimal waktu berkendara yang bersifat mutlak. Namun, memaksakan diri berkendara terlalu lama berisiko menurunkan konsentrasi bahkan memicu microsleep yang sangat berbahaya.
“Kalau kondisi tubuh sudah kembali segar setelah beristirahat, perjalanan bisa dilanjutkan. Yang terpenting jangan memaksakan diri karena keselamatan selalu menjadi prioritas,” tutup Zakky. * (Syam/Pra)





