Jakarta, Mediaprofesi.id – Gemuruh tepuk tangan memenuhi ballroom Four Seasons Hotel Jakarta. Menteri ESDM, Kepala Badan POM, pengusaha nasional Arsjad Rasjid, pejabat kementerian, hingga puluhan CEO hadir dalam satu ruangan.
Para alumni Universitas Hasanuddin (Unhas) dari berbagai sektor juga berkumpul. Ada yang datang dari pemerintahan, BUMN, perbankan, pertambangan, energi, hingga dunia usaha.
Namun, di balik kemegahan InTechSEA 2026, ada satu nama yang bekerja sejak awal, mengatur detail demi detail, hingga memastikan seluruh rangkaian acara berjalan sesuai rencana: Hendra Noor Saleh.
Dikutip dari laman UNHASTV yang tayang pada 16 September 2026, kisah di balik penyelenggaraan InTechSEA 2026 bermula pada Juli 2026. Saat itu, jajaran Unhas TV diminta ikut mengelola kegiatan tersebut.

Tantangannya tidak kecil. Acara yang sebelumnya digelar dalam skala terbatas di lingkungan kampus kini hendak dibawa ke Jakarta.
Bagi penggagasnya, langkah tersebut bukan sekadar memindahkan lokasi acara. InTechSEA ingin didorong menjadi agenda nasional yang mempertemukan kampus dengan kementerian, BUMN, korporasi, investor, dan para pengambil keputusan.
Gagasan itu kemudian mendapat dukungan Hendra Noor Saleh, yang akrab disapa Koh Hendra. Pengalamannya memimpin Dyandra Promosindo menjadi modal penting untuk membawa cara berpikir event organizer profesional ke dalam acara Unhas.

Bersama Eka Sastra dan tim Unhas TV, muncul gagasan yang awalnya terdengar berani: menggelar InTechSEA di Jakarta.
Alasannya sederhana. Jika Unhas ingin membawa inovasi akademik bertemu dengan kebijakan, industri, investasi, dan korporasi besar, maka kampus harus berani datang ke pusat pengambilan keputusan nasional.
Dua tim kemudian dibentuk. Unhas menangani substansi, juri, dan komunikasi dengan peserta. Sementara Unhas TV dan Maradeka Group mengurus dukungan pendanaan, relasi kementerian, hingga penyelenggaraan awarding night.

Dukungan Kementerian ESDM pun mengalir, termasuk melalui komunikasi dengan perusahaan-perusahaan pertambangan untuk berpartisipasi dalam InTechSEA.
Persoalan berikutnya adalah venue. Sejumlah hotel besar di Jakarta dipertimbangkan, mulai Hotel Mulia, The Westin, JW Marriott, Le Méridien, hingga Four Seasons. Pilihan akhirnya jatuh pada Four Seasons Hotel Jakarta.
Secara administratif, sejumlah dokumen ditangani pihak penyelenggara. Namun secara de facto, detail penyelenggaraan banyak dikendalikan Koh Hendra.
Bersama Ichal dari Red Corner Makassar yang kini banyak beraktivitas di Jakarta, ia menyusun konsep, mengatur alur acara, menentukan komposisi tamu, hingga menata ballroom.
Salah satu keputusan pentingnya adalah mengubah waktu awarding night. Semula dirancang malam hari, Koh Hendra mengusulkan acara dimulai pukul 11.00.
Pertimbangannya praktis: waktu acara menjadi lebih panjang, sementara pejabat dan pimpinan perusahaan lebih mudah menyisihkan waktu di sela agenda kerja.
Detail lain juga diperhatikan. Ketika muncul permintaan agar Antea Turk, cicit W.R. Supratman yang dikenal lewat penampilannya membawakan “Indonesia Raya” Stanza III, hadir di acara, Koh Hendra tidak ingin penampilan tersebut sekadar menjadi selingan.

Ia memadukannya dengan musisi etnik berpengalaman internasional sehingga menjadi bagian dari pertunjukan yang memiliki cerita dan momentum.
Sehari sebelum acara, Koh Hendra bahkan masih berada di lokasi. Ia mengawal pemasangan booth, panggung, peralatan, hingga koordinasi stage manager, floor director, usher, dan berbagai vendor.
Di situlah terlihat perbedaan antara panitia biasa dan event organizer profesional. Bukan hanya memastikan acara berlangsung, tetapi merancang setiap menit menjadi sebuah pengalaman.
Ketika hari H tiba, ballroom Four Seasons berubah menjadi panggung besar. Para menteri, pejabat, CEO, pengusaha, akademisi, dan media nasional memenuhi ruangan.
Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa bahkan menyebut Unhas sangat jarang menggelar acara berskala nasional di Jakarta dengan venue semegah itu.
Sejumlah tamu pun sempat mengira kegiatan tersebut merupakan acara kementerian.

Bagi penyelenggara, respons itu menjadi penanda bahwa InTechSEA telah bergerak jauh dari format acara internal kampus.
Lebih dari sekadar kemegahan panggung, InTechSEA 2026 menunjukkan bahwa inovasi kampus dapat dibawa ke ruang yang sama dengan pembuat kebijakan, pelaku industri, investor, dan korporasi.
Ketika lampu ballroom akhirnya dimatikan dan panggung dibongkar, kemegahan acara memang berakhir dalam hitungan jam. Namun standar yang ditinggalkannya bisa bertahan jauh lebih lama.
Seperti disampaikan CEO Titah Grup Anwar Mattawape, acara tersebut menghadirkan standar baru yang tidak mudah dicapai pada tahun-tahun berikutnya.
Bagi Unhas, mungkin inilah warisan terpenting InTechSEA 2026: keberanian keluar dari halaman rumah sendiri dan menunjukkan bahwa kampus di Makassar juga mampu bermain di panggung nasional.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Unhas mampu membuat acara sebesar itu di Jakarta. Jawabannya sudah terlihat.
Pertanyaan berikutnya: seberapa jauh Unhas berani melangkah setelah berhasil masuk ke panggung nasional? * (Syam/Pra)





