Tangerang, Mediaprofesi.id – Transportasi publik tak lagi sekadar mengantar penumpang dari satu titik ke titik lain. Kini, mobilitas perkotaan berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat yang mengutamakan konektivitas, kenyamanan, dan teknologi.
Hal itu disampaikan Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), Welfizon Yuza, dalam talkshow “The Future of Urban Mobility: From Ownership to Connected Mobility” yang digelar ACC TAF dalam rangkaian Bincang-Bincang Bersama Astra Financial di GIIAS 2026, Rabu (5/8), di ICE BSD City, Tangerang.
Welfizon mengungkapkan, kunci transformasi Transjakarta berawal dari perubahan cara pandang. Jika sebelumnya fokus perusahaan lebih banyak pada jumlah armada yang beroperasi, kini orientasinya bergeser menjadi jumlah pelanggan yang dilayani.
“Kami bahkan mengubah istilah dari ‘penumpang’ menjadi ‘pelanggan’. Perubahan ini sederhana, tetapi memiliki makna besar karena kami ingin setiap pengguna mendapatkan pelayanan terbaik,” ujarnya.
Perubahan tersebut membuahkan hasil. Sejak beroperasi pada 2004 dengan sekitar 40 ribu pelanggan per hari di Koridor 1 Blok M-Kota, kini Transjakarta melayani sekitar 1,5 juta perjalanan setiap harinya atau meningkat hampir 40 kali lipat.
Transformasi juga dilakukan secara bertahap, mulai dari pembaruan armada, perluasan rute, pembangunan halte modern, hingga digitalisasi layanan. Saat ini Transjakarta telah mengoperasikan ratusan bus listrik sebagai bagian dari komitmen mendukung transportasi ramah lingkungan.

Menurut Welfizon, halte kini tidak lagi sekadar menjadi tempat naik dan turun penumpang, tetapi juga dikembangkan sebagai ruang publik yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas, mulai dari konser musik, pameran, hingga kegiatan komunitas.
Ia juga menyinggung keberhasilan kerja sama naming rights Halte Bundaran HI Astra yang menjadi pionir kolaborasi antara Transjakarta dengan dunia usaha. Program tersebut membuka peluang baru bagi perusahaan untuk memperkuat branding melalui fasilitas transportasi publik.
Di sisi digital, Transjakarta terus memperkaya layanan melalui aplikasi TJ Transjakarta yang telah diunduh lebih dari 3,1 juta pengguna. Selain menyediakan informasi posisi bus secara real-time dan perencanaan perjalanan, aplikasi tersebut kini memiliki fitur pencarian rute berdasarkan waktu tercepat, biaya termurah, rute pembakar kalori, hingga jalur dengan jejak karbon paling rendah.
“Mobilitas bukan lagi sekadar berpindah tempat, tetapi juga mendukung gaya hidup sehat dan berkelanjutan,” katanya.
Tak hanya itu, Transjakarta juga mulai membangun ekosistem sumber daya manusia melalui TJ Academy, sekolah vokasi khusus bagi pramudi bus. Program ini diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme sekaligus membuka peluang karier hingga ke luar negeri.
Ke depan, Transjakarta juga akan terus memperkuat integrasi antarmoda transportasi seperti MRT, LRT, KCIC, dan Mikrotrans agar perjalanan masyarakat semakin mudah dan nyaman.
Welfizon menegaskan, Transjakarta kini bukan hanya operator bus, melainkan sebuah platform mobilitas yang terbuka untuk berbagai kolaborasi. Dengan mayoritas pelanggan berasal dari kalangan milenial dan Gen Z, pengembangan layanan digital, konektivitas, serta pengalaman baru di ruang publik akan menjadi fokus utama dalam menghadirkan transportasi yang modern dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. * (Syam)





