Jakarta, Mediaprofesi.id – Tekanan terhadap pasar saham Indonesia sepanjang 2026 belum sepenuhnya mereda. IHSG yang sempat mencetak rekor tertinggi justru terkoreksi cukup dalam hingga akhir Juli. Meski demikian, kondisi fundamental ekonomi nasional dinilai masih relatif solid dan memberikan ruang bagi investor untuk mencermati peluang di tengah volatilitas pasar.
Gambaran tersebut mengemuka dalam Media Connect yang digelar PT Samuel Sekuritas Indonesia. Forum ini menghadirkan Fikrian Naufal H dari Research Division Bursa Efek Indonesia (IDX), Tae Yong Shim, Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, serta Edwin Pranata, President Director & Founder RealCo atau PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (IDX: RLCO).
Fikrian mengatakan, pasar saham saat ini menghadapi kombinasi tekanan dari faktor global dan domestik. Dari global, investor masih mencermati ketegangan geopolitik, inflasi, arah suku bunga, hingga reli saham teknologi berbasis artificial intelligence (AI).
Sementara di dalam negeri, perhatian tertuju pada risiko fiskal, pelemahan rupiah, kebijakan Bank Indonesia, perkembangan MSCI, serta rencana kebijakan ekspor satu pintu untuk sejumlah komoditas strategis.
Rupiah tercatat melemah sekitar 7,3% secara year-to-date hingga Juli 2026. Bank Indonesia juga telah menaikkan suku bunga kebijakan tiga kali pada Mei-Juni dengan total 100 basis poin menjadi 5,75%.
“Secara fundamental, kondisi Indonesia masih sangat baik. Tantangan memang ada, terutama dari tekanan global dan domestik, tetapi indikator makro Indonesia tetap menunjukkan ketahanan,” ujar Fikrian.
Menurut paparan IDX, ketahanan tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, inflasi yang terkendali, rasio kredit bermasalah (NPL) di bawah batas maksimum 5%, serta cadangan devisa US$145,59 miliar per Juni 2026.
Di pasar saham, IHSG sempat mencetak all-time high 9.134,80 pada 20 Januari 2026. Namun, indeks kemudian terkoreksi hingga 6.236,13 pada 31 Juli 2026.
Meski koreksi cukup dalam, kondisi tersebut justru membuat valuasi sejumlah saham menjadi lebih terdiskon.
“Setelah sempat mencetak all-time high pada Januari, IHSG memang mengalami tekanan akibat kombinasi sentimen global dan domestik. Namun, kondisi saat ini juga membuat valuasi pasar menjadi lebih terdiskon. Ini yang perlu dicermati investor, terutama ketika fundamental ekonomi masih relatif solid,” jelas Fikrian.
Menariknya, tekanan pasar tidak membuat aktivitas perdagangan melemah. Hingga Juli 2026, nilai transaksi tercatat tumbuh 24,6% secara YTD, frekuensi transaksi naik 41,9%, dan volume transaksi meningkat 30,3%.
Basis investor juga semakin besar. Jumlah investor pasar modal melonjak dari 3,88 juta pada 2020 menjadi 30,06 juta pada Juli 2026. Investor saham melalui C-BEST juga meningkat dari 1,69 juta menjadi 10,03 juta.

Jangan Hanya Mengejar Return
Dari sisi perencanaan keuangan, Tae Yong Shim mengingatkan bahwa investasi seharusnya menjadi bagian dari strategi keuangan jangka panjang, bukan sekadar mengejar keuntungan pasar.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami tantangan finansial yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari inflasi, tingkat suku bunga hingga pajak.
“Risiko terbesar bukan hanya salah memilih produk investasi, tetapi tidak melakukan apa pun untuk mempersiapkan masa depan,” ujar Shim.
Ia menekankan pentingnya mengendalikan pengeluaran, memulai investasi sedini mungkin, serta menyiapkan proteksi. Pasalnya, ketika pendapatan dan imbal hasil investasi tidak sepenuhnya dapat dikendalikan, pengeluaran dan waktu investasi menjadi dua faktor yang lebih bisa dikelola.
RealCo Bidik Pasar Wellness Global
Sementara itu, Edwin Pranata memaparkan perjalanan RealCo yang membangun bisnis berbasis sarang burung walet dan produk konsumen kesehatan.
Berawal pada 2014 dan mulai beroperasi pada 2016 dengan fokus ekspor sarang burung walet mentah, RealCo kemudian masuk ke bisnis consumer goods melalui Realfood Winta Asia pada 2018. Perseroan memperoleh lisensi GACC untuk pasar China serta persetujuan US FDA dan sertifikasi FSSC 22000 pada 2022-2023, sebelum melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2025.
Indonesia sendiri memiliki posisi kuat dalam industri sarang burung walet. Sekitar 80% pasokan dunia berasal dari Indonesia. Pada Januari-September 2025, nilai ekspor sarang burung walet Indonesia mencapai US$345 juta, sedangkan impornya hanya US$892 ribu.
Pada semester I 2026, segmen sarang burung olahan RealCo mencatat penjualan Rp234,4 miliar atau sekitar 86% dari total penjualan, dengan margin kotor 19,2%. Sementara segmen produk konsumen membukukan Rp37,6 miliar dengan margin kotor 42,7%.
Ke depan, RealCo menyiapkan tiga fokus utama, yakni pengembangan processed protein melalui Marinova, perluasan produk wellness lewat Realfood dan Momiku, serta ekspansi distribusi internasional dari China, Hong Kong dan Amerika Serikat ke pasar Asia Tenggara, termasuk Vietnam dan Thailand.
Di tengah volatilitas pasar, diskusi Samuel Sekuritas menunjukkan satu pesan penting: gejolak pasar tidak selalu berarti hilangnya peluang. Bagi investor, justru diperlukan kemampuan membaca fundamental, mengatur keuangan, dan memilih sektor yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang. * (Syam)





