Jakarta, Mediaprofesi.id – Kopi Indonesia kembali mendapat panggung di pasar global. Yayasan Pendidikan Pengembangan Perkopian Indonesia (KAPPI) resmi memperkuat kolaborasi strategis dengan Bank Indonesia (BI) dalam ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta Convention Center.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem kopi nasional dari hulu hingga hilir. Fokusnya tidak hanya meningkatkan kualitas produksi, tetapi juga memberdayakan keluarga petani serta membuka akses pasar ekspor yang lebih luas bagi UMKM kopi binaan.
Bersama mitra strategisnya, PT Sumber Kurnia Alam (PT SKA), KAPPI kini mendampingi 204 UMKM kopi binaan BI yang tersebar di berbagai sentra produksi kopi. Pendampingan mencakup peningkatan standar mutu, menjaga konsistensi pasokan, hingga proses kurasi agar produk UMKM lokal semakin siap bersaing di pasar internasional.
Hasilnya mulai terlihat. Dalam sesi Business Matching KKI 2026 pada 21–22 Agustus 2026, KAPPI dan PT SKA mempertemukan 14 UMKM kopi binaan BI terpilih dengan sejumlah pelaku industri global.
Pertemuan bisnis tersebut menghasilkan potensi transaksi ekspor hingga Rp15,3 miliar.
“Pengukuhan kolaborasi di KKI 2026 menjadi fondasi penting untuk melipatgandakan dampak ekonomi. Tujuannya terukur: kualitas produk meningkat, jangkauan ekspor makin luas, dan manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh petani serta daerah asal kopi,” ujar Roby Wibisono, mewakili KAPPI.

Dari Kebun hingga Pasar Dunia
Kerja sama KAPPI dan BI ini bukan langkah pertama dalam mendorong kopi Indonesia ke pasar internasional. Sebelumnya, KAPPI telah memfasilitasi UMKM kopi binaan dalam ajang World of Coffee (WoC) Bangkok pada 7–9 Mei 2026 dan SIAL Shanghai pada 18–20 Mei 2026.
Pendekatan yang dilakukan juga tidak berhenti pada pemasaran hasil kebun. KAPPI membangun demonstration plot (demplot) sebagai pusat edukasi penerapan Good Agricultural Practices (GAP) untuk membantu petani meningkatkan kualitas dan produktivitas.
Di sisi lain, kelompok perempuan tani turut mendapatkan pelatihan diversifikasi produk pangan lokal. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, terutama ketika memasuki masa di luar musim panen.
Tak kalah penting, identitas dan cerita di balik kopi Nusantara juga terus diperkenalkan ke pasar internasional. KAPPI mengangkat origin story kopi Indonesia melalui media film dokumenter, sehingga kopi tidak hanya dijual sebagai komoditas, tetapi juga membawa cerita tentang daerah, petani, dan budaya yang melahirkannya.
Melalui kemitraan berkelanjutan tersebut, KAPPI dan BI optimistis semakin banyak UMKM kopi Indonesia yang mampu naik kelas, adaptif terhadap kebutuhan pasar, dan memiliki daya saing global.
Pada akhirnya, upaya ini bukan sekadar memperbesar nilai ekspor. Lebih jauh, kolaborasi tersebut diharapkan ikut meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kopi berkualitas di pasar dunia. * (Syam)





