Jakarta, Mediaprofesi.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan taringnya. Pada perdagangan 1 September 2026, IHSG menguat 1,1% dan menembus level 6.600, didorong oleh kembalinya aksi akumulasi investor asing pada saham-saham perbankan besar.
Saham BBRI, BBCA, dan BMRI menjadi motor utama penguatan. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai kondisi ini mencerminkan perbaikan market leadership, dengan perhatian investor kembali mengarah ke saham-saham berkapitalisasi besar atau large-cap yang memiliki likuiditas tinggi.
Tren masuknya dana asing yang telah berlangsung sejak Agustus menjadi salah satu sinyal positif bagi pasar domestik. Sentimen pasar juga mendapat dukungan dari kepastian kepemimpinan Bank Indonesia setelah DPR menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur BI.
Namun, ruang penguatan IHSG ke depan tetap tidak sepenuhnya bebas hambatan. Investor masih perlu mencermati perkembangan inflasi, pemulihan permintaan domestik, hingga dinamika pasar global.
“Akumulasi asing pada saham-saham perbankan besar menunjukkan adanya perbaikan market leadership menuju large-cap yang lebih likuid. Dengan Rupiah yang relatif stabil dan koreksi SBN yang lebih terbatas dibandingkan UST, kami melihat backdrop domestik tetap konstruktif,” ujar Rully Arya Wisnubroto, Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Meski demikian, menurut Rully, kenaikan inflasi pangan dan tekanan yield global masih membatasi ruang bagi sentimen risk-on yang lebih agresif.
Dari sisi makroekonomi, inflasi Indonesia pada Agustus 2026 meningkat menjadi 3,2% secara tahunan (year-on-year/YoY), dari 2,9% pada Juli. Mirae Asset menilai kenaikan tersebut masih didorong faktor pasokan atau supply-side, terutama harga pangan dan emas, sehingga belum mencerminkan tekanan inflasi berbasis permintaan secara luas.
Inflasi bulanan tercatat sebesar 0,2%, dengan kelompok pangan menjadi kontributor terbesar.
Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, mengingatkan risiko inflasi masih perlu diwaspadai hingga akhir tahun. Salah satunya adalah potensi gangguan pasokan pangan akibat penguatan El Niño.
Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan ketika permintaan struktural meningkat, terutama seiring ekspansi program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Mirae Asset memperkirakan inflasi berada di kisaran 3,0–3,5% hingga akhir 2026, dengan risiko yang cenderung mengarah ke atas.
“Meski inflasi meningkat, kami belum melihat indikasi kuat adanya tekanan inflasi yang bersifat luas dari sisi permintaan. Namun, risiko supply-side, terutama dari potensi El Niño yang tinggi hingga awal tahun 2027, dapat membuat Bank Indonesia tetap berhati-hati dalam menjaga stabilitas inflasi dan Rupiah,” kata Jessica.
Di sisi lain, pemulihan permintaan domestik masih belum merata. PMI manufaktur Indonesia kembali masuk zona kontraksi di level 49,8 pada Agustus, sementara inflasi inti hanya naik tipis menjadi 1,93% YoY.
Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan inflasi saat ini belum sepenuhnya mencerminkan penguatan daya beli masyarakat atau permintaan domestik yang solid.
Mirae Asset melihat IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan, terutama jika arus dana asing ke saham-saham large-cap dan perbankan terus berlanjut. Namun, keberlanjutan reli tetap bergantung pada stabilitas Rupiah, pergerakan yield global, perkembangan inflasi, serta pemulihan permintaan domestik. * (Syam)





