Jakarta, Mediaprofesi.id – Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia kembali menguat. Rupiah melemah ke level Rp17.812 per dolar AS, investor asing mencatatkan arus keluar dari pasar obligasi dan saham, sementara keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) pada pekan ini menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Data Syailendra Research dalam Syailendra Weekly Update 21 September 2026 menunjukkan rupiah sepanjang pekan lalu terdepresiasi 0,81%. Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 100,21.
Tekanan juga terasa di pasar modal. Di pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun (ID10Y) turun ke 7,12%, tetapi investor asing membukukan outflow Rp1,54 triliun.
Sementara di pasar saham, IHSG terkoreksi 1,53% ke level 6.441 dengan outflow asing mencapai Rp1,15 triliun. Pergerakan pasar domestik tersebut berlangsung ketika bank sentral utama dunia justru memperketat kebijakan moneternya.
BI Masuk Radar Investor
Keputusan BI pada 23 September menjadi salah satu agenda yang paling dicermati pasar. Kebijakan tersebut hadir ketika tekanan terhadap rupiah meningkat dan ruang spread antara imbal hasil SBN dengan US Treasury berpotensi menyempit.
Tekanan eksternal semakin kuat setelah The Fed menaikkan Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% pada 16 September 2026. Kenaikan tersebut merupakan yang pertama sejak Juli 2023.
Median dot plot The Fed untuk akhir 2026 naik menjadi 4,1% dari 3,8% pada proyeksi Juni. Sementara proyeksi inflasi core PCE 2026 meningkat menjadi 3,4% dari 3,3%.
Bukan hanya The Fed. ECB menaikkan deposit rate 25 bps menjadi 2,50%, sedangkan Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 1,25% pada 18 September 2026, level tertinggi sejak 1995.
Pengetatan serentak bank sentral global tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap rupiah dan pasar obligasi Indonesia.
Fiskal Jadi Penyangga
Di tengah tekanan eksternal, kondisi fiskal Indonesia menunjukkan sejumlah indikator yang relatif terjaga.
Presiden Prabowo Subianto pada 14 September 2026 melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Suahasil sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan sejak 2019, sehingga pergantian tersebut dinilai menjaga kontinuitas kebijakan fiskal.
Hingga Agustus 2026, defisit APBN tercatat Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB, lebih rendah dibandingkan Rp321,6 triliun atau 1,35% PDB pada periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan negara mencapai Rp2.055,6 triliun atau 65,2% dari target, sedangkan belanja negara Rp2.295,7 triliun. Keseimbangan primer bahkan masih mencatat surplus Rp154 triliun, dibandingkan target defisit Rp89,7 triliun.
Minyak Jadi Risiko Berikutnya
Pasar juga menghadapi risiko dari sektor energi. Volume minyak dan LNG yang melintasi Selat Hormuz mencapai level tertinggi dalam enam bulan setelah operasi pengawalan kapal dan pembersihan ranjau oleh AS membantu menjaga jalur perdagangan energi.
Namun, eskalasi serangan Houthi dan gangguan di Laut Merah masih menjadi risiko terhadap pasokan. Harga Brent bertahan di sekitar US$104 per barel dan berpotensi menambah tekanan inflasi AS.
Di tengah kondisi tersebut, S&P 500 sempat rebound 1,1% setelah yield US Treasury 10 tahun turun dari level tertinggi sejak 2007. Namun, kinerja mingguan tetap beragam: S&P 500 terkoreksi 0,3%, Dow Jones turun 1,5%, sedangkan Nasdaq naik 0,3%.
Pekan Penentu Pasar
Selain keputusan BI pada 23 September, investor akan mencermati S&P Global Manufacturing PMI AS September pada hari yang sama.
Sehari berikutnya, pasar menunggu data initial jobless claims dan penjualan rumah baru Agustus. Pada 25 September, perhatian beralih ke durable goods orders AS.
Dengan rupiah di Rp17.812 per dolar AS, outflow asing Rp1,54 triliun dari obligasi dan Rp1,15 triliun dari saham, keputusan BI datang pada momentum yang sensitif.
Arah kebijakan suku bunga BI, pergerakan rupiah, arus dana asing, serta perkembangan suku bunga global akan menjadi sejumlah faktor penting yang dicermati pasar dalam menentukan arah perdagangan IHSG pekan ini. * (Syam)





