Jakarta, Mediaprofesi.id – Jantung tidak selalu memberi peringatan ketika sedang bermasalah. Tekanan darah tinggi bahkan kerap hadir tanpa gejala, sementara gangguan irama jantung seperti atrial fibrilasi (AFib) bisa muncul dan menghilang tanpa disadari.
Pesan inilah yang diangkat Yayasan Jantung Indonesia (YJI) bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) melalui kampanye nasional Hari Jantung Sedunia 2026 bertema “Don’t Miss A Beat”.
Kampanye tersebut resmi diluncurkan dalam konferensi pers di Kantor YJI, Jalan Teuku Umar No. 8, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026). Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan menuju puncak Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap 29 September.
Marketing Manager PT OMRON Healthcare Indonesia, Fanny Himawan, mengatakan kolaborasi OMRON dengan YJI telah berlangsung sejak 2007. Memasuki hampir dua dekade kerja sama, kolaborasi tersebut terus diarahkan pada edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jantung.
“Di OMRON kami diberikan kesempatan untuk sama-sama mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan jantung di Indonesia,” ujar Fanny.
Menurut dia, salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan kardiovaskular adalah melakukan pemantauan secara rutin, terutama tekanan darah. Hipertensi perlu mendapat perhatian karena sering kali tidak menimbulkan gejala, namun dapat meningkatkan risiko berbagai masalah serius, termasuk serangan jantung dan stroke.
Selain hipertensi, masyarakat juga perlu mewaspadai atrial fibrilasi (AFib), yakni gangguan irama jantung yang dapat muncul secara hilang timbul. Kondisi ini juga berkaitan dengan peningkatan risiko stroke.

Untuk mendukung pemantauan kesehatan jantung dari rumah, OMRON memperkenalkan dua perangkat terbaru. Salah satunya adalah tensimeter berbasis teknologi artificial intelligence (AI) yang dapat membantu melakukan skrining kemungkinan AFib saat pengguna mengukur tekanan darah.
Perangkat tersebut memberikan indikasi apakah terdapat kemungkinan AFib atau tidak. Namun, hasil tersebut merupakan skrining awal dan bukan diagnosis medis.
Produk kedua adalah Home EKG, perangkat berukuran ringkas yang memungkinkan pengguna melakukan pemantauan aktivitas listrik jantung dari rumah. Selain kemungkinan AFib, perangkat ini juga dapat mendeteksi indikasi gangguan irama seperti takikardia dan bradikardia.
Berbeda dengan pemeriksaan EKG di fasilitas kesehatan yang umumnya menggunakan lebih banyak lead, perangkat tersebut tersedia dalam konfigurasi satu lead dan enam lead. Sampel yang diperkenalkan OMRON dalam kesempatan tersebut merupakan perangkat enam lead.
Fanny menegaskan, langkah tersebut sejalan dengan visi OMRON “Going for Zero”, khususnya dalam upaya membantu meminimalkan risiko penyakit kardiovaskular melalui pemantauan kesehatan yang lebih mudah dilakukan secara mandiri.
“Kami bukan hanya company yang menjual perangkat alat kesehatan, tapi sebagai suatu ekosistem untuk menunjang kesehatan jantung di Indonesia,” katanya.
Ke depan, OMRON berharap kolaborasi bersama YJI dan PERKI dapat terus memperluas edukasi mengenai pentingnya pemeriksaan dan pemantauan kesehatan jantung.
Pesannya sederhana: semakin cepat seseorang menyadari adanya potensi masalah pada tekanan darah maupun irama jantung, semakin cepat pula langkah medis yang tepat dapat dilakukan. * (Syam)





