Jakarta, Mediaprofesi.id – Apa jadinya ketika 14 seniman dari berbagai daerah di Indonesia dipertemukan tanpa tema, tanpa batas gaya, dan tanpa sekat identitas? Jawabannya hadir melalui “THE UNTITLE”, pameran kolektif yang digelar 2–17 Oktober 2026 di 2Madison Gallery Kemang dan 2Madison Plaza Pondok Indah, Jakarta.
Pameran ini menawarkan pendekatan yang berbeda. Tidak ada tema besar yang memaksa seluruh seniman berada dalam satu koridor. Setiap seniman diberi ruang untuk membawa gagasan, pengalaman, latar belakang, hingga karakter visual masing-masing.
Gallery Director and Creative Director 2Madison Avenue, Maggie H. Eddy, mengatakan gagasan “untitled” lahir dari keinginannya membuka ruang perjumpaan yang lebih bebas.
“Untitled itu artinya tidak berjudul. Saya ingin membuat event di mana kita tidak perlu memikirkan kepentingan masing-masing. Mari berkumpul dan melihat apa yang bisa kita lakukan bersama,” ujar Maggie.

Menurutnya, seni justru berkembang ketika sekat-sekat mulai dilepas. Seniman tidak harus terjebak pada tema tertentu, begitu pula dengan gaya, asal-usul, maupun latar belakang.
Semangat itu kemudian merambat ke dunia fashion. Dalam rangkaian THE UNTITLE, Maggie berkolaborasi dengan seniman asal Jawa Timur, Agus Wicaksono, melalui karya lukis bertajuk Songs of Freedom yang diterjemahkan ke dalam koleksi busana.
Kolaborasi tersebut membawa pesan tentang kebebasan perempuan untuk berekspresi dan menentukan dirinya sendiri.
“Kalau pelukis berkarya dengan kanvas, saya berkarya dengan membuat wanita cantik,” kata Maggie.
Koleksi tersebut dirancang untuk berbagai bentuk tubuh dan karakter perempuan, mulai dari petite, tinggi, kurus hingga full figure. Sebagian desain dibuat lebih terbuka, sementara lainnya tampil lebih tertutup.

Menariknya, koleksi itu disiapkan hanya dalam waktu dua minggu. Prosesnya melibatkan digital printing, pemotongan, jahitan, payet, hingga sulaman tangan.
Untuk harga, busana koleksi tersebut berada di kisaran Rp1 juta hingga Rp3 juta. Beberapa item memiliki harga mulai Rp900 ribu, sementara dress tertentu mencapai Rp9 juta dan khusus digunakan untuk kebutuhan show.
Peluncuran koleksi secara lebih luas dijadwalkan pada November 2026 dengan konsep customized. Konsumen dapat menyesuaikan ukuran maupun detail busana, sehingga pengalaman yang ditawarkan mendekati konsep haute couture, tetapi dengan harga yang lebih terjangkau.
Bagi Maggie, kolaborasi seni dan fashion juga menjadi cara untuk mendorong pelaku kreatif keluar dari zona nyaman.
“Jangan terlalu mengotak-ngotakkan diri. Desainer bekerja dengan desainer, seniman dengan seniman. Kita sebenarnya saling membutuhkan,” ujarnya.

Karena itu, eksplorasi tidak berhenti pada lukisan dan fashion. Maggie membayangkan kolaborasi berikutnya dengan seni tari, seni pahat, gamelan hingga musik tradisional dari berbagai daerah Indonesia.
THE UNTITLE sekaligus menjadi penanda penting perjalanan kreatif 2Madison. Dari pengalaman satu dekade, Maggie menilai tantangan terbesar justru keberanian untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan.
“Berada di ketidaknyamanan itu sesuatu yang susah. Tapi kita harus keluar dari zona nyaman,” katanya.
Bagi Maggie, kekuatan terbesar dalam menjalankan berbagai proyek kreatif bukan hanya ide, melainkan teamwork. Ia mengaku tidak akan mampu menjalankan berbagai gagasan tanpa dukungan tim yang solid.
Dan THE UNTITLE menjadi salah satu wujud dari prinsip tersebut: ketika seni, fashion, kreativitas dan berbagai latar belakang dilebur dalam satu ruang, batas-batas yang biasanya memisahkan justru dapat menjadi titik awal lahirnya karya baru. * (Syam/Pra)





