Jakarta, Mediaprofesi.id – Seni semakin sulit dipisahkan dari industri lifestyle. Ketika sebuah lukisan tidak lagi berhenti di dinding galeri, tetapi diterjemahkan menjadi busana dan aksesori, karya seni memiliki ruang baru untuk menjangkau konsumen sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif.
Geliat tersebut terlihat dalam THE UNTITLED, pameran kolektif yang mempertemukan 14 seniman dari berbagai daerah di Indonesia di 2Madison Gallery-Kemang dan 2Madison Plaza-Pondok Indah.
Pameran ini sengaja tidak dikunci oleh satu tema. Masing-masing seniman bebas membawa identitas, pengalaman, gagasan, dan perspektif personal ke dalam karya. Konsep tersebut membuat THE UNTITLED menjadi ruang pertemuan berbagai karakter seni sekaligus memperlihatkan bagaimana karya kreatif dapat berkembang melalui medium dan kolaborasi yang berbeda.

Salah satu yang paling menarik adalah kolaborasi seniman Agus Wicak dengan 2Madison Avenue. Melalui proyek bertajuk “Song of Freedom”, sebuah karya lukis diterjemahkan menjadi koleksi fashion edisi khusus dengan pendekatan wearable art.
Lukisan “Song of Freedom” menggambarkan burung-burung yang berusaha melepaskan diri dari jeratan pemburu. Pesan mengenai perjuangan dan kebebasan berekspresi tersebut kemudian dibawa keluar dari kanvas dan diwujudkan dalam bentuk dress, atasan, celana, scarf hingga aksesori.
“Kami ingin merespons lukisan Agus Wicak yang berjudul ‘Song of Freedom’ menjadi sebuah rangkaian wearable art yang kami leburkan ke dalam koleksi Fall and Festive Collection 2026 2Madison Avenue,” ujar Maggie H. Eddy, Gallery Director and Creative Director 2Madison Avenue.

Bagi industri lifestyle, model kolaborasi seperti ini membuka kemungkinan baru. Karya seni dapat memperoleh medium distribusi yang berbeda, sementara produk fashion mendapatkan nilai cerita dan identitas visual yang lebih kuat.
Di titik inilah seni, fashion, dan bisnis kreatif bertemu. Eksklusivitas koleksi yang hanya tersedia selama pameran juga menciptakan pengalaman berbeda bagi pengunjung sekaligus memberi nilai tambah pada produk yang lahir dari kolaborasi tersebut.
“Gagasan tentang kebebasan dan perjuangan yang disampaikan oleh Agus kami terjemahkan menjadi dress, atasan, celana, rangkaian scarf dan aksesori yang hanya bisa didapat selama pameran berlangsung,” kata Maggie.
Menurutnya, kolaborasi tersebut sekaligus mempertemukan tiga ranah kreatif—seni lukis, desain fashion, dan seni pertunjukan—dalam pengalaman yang lebih utuh.
“Bagi kami di 2Madison, kolaborasi ini adalah sebuah bentuk kegiatan yang sangat ideal untuk mempertemukan aspirasi dari dunia seni lukis, desain fashion, dan seni pertunjukan. Dari sini tersajilah bentuk rangkaian karya sekaligus pengalaman yang lebih unik dan lengkap bagi penikmatnya,” ujar Maggie.

THE UNTITLED pada akhirnya memperlihatkan arah baru ekosistem seni yang semakin cair. Karya tidak harus berhenti sebagai objek apresiasi di ruang galeri. Ketika gagasan kreatif bertemu fashion dan strategi kolaborasi, karya dapat memiliki bentuk baru, menjangkau audiens berbeda, serta membuka peluang komersialisasi tanpa harus kehilangan narasi artistiknya.
Pameran ini diikuti 14 seniman, yakni Agus Wicak (Magetan), Akhmad Baharudin (Yogyakarta), Bambang Budi R. (Yogyakarta), Bebe Wahyu (Bogor), Dadah Subagja (Yogyakarta), Hendra Purnama (Klaten), de Laurent (Tangerang Selatan), M. Tongga Reja D. (Jakarta), Mujib Darjo (Gresik), Reydo Respati (Jakarta), Riki B. Suteja (Bandung), Tri Pandrong (Yogyakarta), Zeta Ranniry (Surabaya), dan Zulkarnaini (Padang).
Dari kanvas ke fashion, THE UNTITLED menunjukkan bahwa masa depan seni juga dapat hadir melalui kolaborasi lintas industri. Ketika karya memiliki cerita, medium, dan pasar yang lebih luas, seni pun menemukan cara baru untuk terus hidup. * (Syam)





