Jakarta, Mediaprofesi.id – Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan serius. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus merosot, sementara langkah MSCI membuka opsi penurunan klasifikasi pasar Indonesia memicu kekhawatiran baru di kalangan investor.
Pada perdagangan terakhir, IHSG melemah 1,33% ke level 5.864. Koreksi selama empat sesi berturut-turut kini mencapai 3,77%, dengan tekanan jual meluas hingga 592 saham berakhir di zona merah.
Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai pelemahan tersebut lebih dipengaruhi sentimen domestik daripada memburuknya fundamental emiten.
Salah satu indikasinya, investor asing justru mencatatkan pembelian bersih (net buy) Rp520 miliar di pasar reguler. Saham perbankan besar, yakni BBCA, BBRI, dan BMRI, menjadi sejumlah saham yang paling banyak dibeli asing.
Namun, derasnya tekanan jual di pasar menunjukkan bahwa aliran dana asing belum cukup kuat untuk mengangkat IHSG. Sentimen negatif dari dalam negeri masih membayangi pergerakan indeks.
MSCI Buka Opsi Turunkan Status Indonesia
Tekanan kian membesar setelah MSCI mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan menurunkan klasifikasi Indonesia langsung dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Langkah ini menjadi eskalasi penting bagi pasar modal nasional. MSCI menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta lemahnya penegakan aturan.
Pembekuan indeks tetap berlaku, sedangkan keputusan final mengenai perubahan klasifikasi dijadwalkan paling lambat Juni 2027.
Meski belum menjadi keputusan final, konsultasi tersebut berpotensi meningkatkan ketidakpastian dan memperbesar tekanan jual dalam jangka pendek. Investor kini harus mencermati perkembangan kebijakan MSCI sekaligus respons otoritas pasar modal Indonesia.
Target IHSG 6.800 Masih Dipertahankan
Di tengah gejolak pasar domestik, bursa Amerika Serikat justru bergerak positif. Indeks S&P 500 menguat 0,33%, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (UST10Y) turun mendekati 5,1%.
Namun, penguatan Wall Street belum tentu mampu meredam tekanan dari dalam negeri. Pengumuman MSCI berpotensi menjadi faktor dominan yang memengaruhi sentimen investor terhadap saham-saham Indonesia.
Mirae Asset Sekuritas masih mempertahankan target IHSG di level 6.800. Meski begitu, risiko penurunan dinilai meningkat dan proses pemulihan pasar berpotensi berlangsung lebih panjang.
Dengan koreksi yang terus berlanjut dan status pasar Indonesia yang tengah menjadi sorotan MSCI, perjalanan IHSG menuju 6.800 menghadapi tantangan lebih berat. Perkembangan evaluasi MSCI dan langkah pembenahan transparansi pasar akan menjadi penentu penting bagi pemulihan kepercayaan investor. * (Syam/Pra)





