Jakarta, Mediaprofesi.id – Daya saing kopi Indonesia di pasar global tak cukup mengandalkan keragaman cita rasa dan asal daerah. Konsistensi kualitas biji kopi juga menjadi penentu, sehingga penguatan kemampuan petani dari kebun hingga pascapanen perlu mendapat perhatian serius.
Peluang inilah yang didorong Yayasan Pengembangan dan Edukasi Kopi (KAPPI) melalui program edukasi, pendampingan, dan pemberdayaan petani. Upaya tersebut diarahkan untuk memperbaiki praktik budidaya sekaligus meningkatkan kemampuan petani menghasilkan biji kopi berkualitas secara konsisten.
Pendampingan mencakup pemupukan, pemangkasan, teknik panen, pengelolaan tanah, serta berbagai praktik budidaya lainnya. KAPPI juga mendorong penguatan komunitas, pemberdayaan perempuan, serta riset dan inovasi untuk membangun ekosistem kopi yang lebih berkelanjutan.
Menurut KAPPI, kualitas kopi ditentukan sejak tanaman dirawat di kebun. Pemahaman petani terhadap teknik budidaya dan panen perlu berjalan seiring dengan pengetahuan mengenai standar mutu yang dibutuhkan pembeli.
“Bagi KAPPI, kualitas biji kopi dimulai dari kebun dan dari pengetahuan petaninya. Itulah sebabnya kami menekankan edukasi dan pendampingan dalam hal pemupukan, pemangkasan, teknik panen, serta pengelolaan tanah,” ujar Roby Wibisono dari KAPPI.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan PT Sumber Kurnia Alam (SKA) membantu menghubungkan peningkatan kemampuan petani di tingkat hulu dengan kebutuhan mutu dan peluang pasar.
Perkuat Kualitas, Buka Jalan ke Pembeli Global

Kolaborasi KAPPI dan SKA dirancang untuk menjembatani pembinaan petani dengan kebutuhan industri. KAPPI berfokus pada edukasi dan penguatan kapasitas petani, sedangkan SKA mendukung pengembangan mutu serta membuka peluang koneksi dengan pembeli.
Sinergi ini diharapkan membuat peningkatan kualitas di tingkat kebun menghasilkan nilai tambah yang lebih besar, sekaligus memperluas kesempatan pemasaran kopi Indonesia.
Sejak 2025, KAPPI juga membawa pendekatan tersebut ke berbagai kegiatan diplomasi kopi di dalam dan luar negeri. Selain memperkenalkan keragaman kopi Nusantara, kegiatan ini mengangkat cerita tentang asal-usul kopi, petani, dan komunitas yang berperan di balik setiap produk.
Upaya tersebut turut diperkenalkan dalam Trade Expo Indonesia (TEI) pada Oktober 2026 di ICE BSD City, Tangerang. KAPPI dan SKA menampilkan beragam kopi Indonesia, termasuk biji kopi hasil kurasi dari petani binaan Bank Indonesia.
Pameran ini menjadi kesempatan untuk mempertemukan potensi kopi petani dengan pelaku industri dan calon pembeli dari berbagai negara.
“Trade Expo Indonesia merupakan pameran ekspor dengan level tertinggi yang diselenggarakan oleh Kementerian Perdagangan dan menghadirkan pembeli serta pelaku bisnis dari mancanegara,” kata Moelyono Soesilo, Direktur Utama SKA.
Menurutnya, keterlibatan KAPPI dan SKA menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kopi Indonesia kepada pembeli dunia sekaligus mempromosikan potensi kopi yang dikembangkan melalui program KAPPI.
Petani Jadi Kunci Daya Saing Kopi Nusantara

Selain teknik budidaya, KAPPI menempatkan pemberdayaan perempuan, riset, inovasi, dan penguatan komunitas sebagai bagian penting dalam pengembangan industri kopi. Penguatan pengetahuan di lingkungan petani dan keluarganya diharapkan memperluas manfaat pembinaan secara berkelanjutan.
Di sisi lain, pengujian mutu dan pengembangan jaringan pemasaran diperlukan agar hasil panen dapat memenuhi kebutuhan industri dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Melalui sinergi pembinaan petani, peningkatan mutu, dan perluasan akses pasar, KAPPI dan SKA berupaya memperkuat fondasi daya saing kopi Indonesia. Dengan begitu, potensi kopi Nusantara diharapkan tidak hanya dikenal karena cita rasanya, tetapi juga mampu menawarkan kualitas konsisten dan nilai tambah bagi petani. * (Syam/Pra)





