Jakarta, Mediaprofesi.id – PT Bank Permata Tbk (Permata Bank) terus menggenjot pertumbuhan bisnis di tengah ketidakpastian geopolitik global dan persaingan industri keuangan yang semakin ketat. Hingga kuartal III-2026, bank ini membukukan laba bersih Rp2,6 triliun dengan total pendapatan mencapai Rp9,2 triliun selama sembilan bulan pertama tahun ini.
Penyaluran kredit menjadi salah satu motor pertumbuhan. Hingga akhir September 2026, kredit Permata Bank mencapai Rp172,9 triliun, meningkat 10,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY).
Pertumbuhan terutama ditopang kredit konvensional yang naik 13,9% menjadi Rp153,4 triliun. Pada saat yang sama, total aset tumbuh 2,9% YoY menjadi Rp277,2 triliun.
Direktur Utama Permata Bank, Meliza M. Rusli, menegaskan bahwa pertumbuhan bisnis tetap diimbangi pengelolaan risiko yang disiplin.
“Di tengah dinamika pasar dan ketidakpastian global, kami terus menjaga fundamental Bank yang kuat melalui pengelolaan risiko yang disiplin dan pertumbuhan kredit yang sehat,” ujarnya.
Menurut Meliza, pendekatan tersebut menjadi landasan untuk menjaga ketahanan bisnis sekaligus menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang. Dukungan sinergi dengan Bangkok Bank sebagai pemegang saham pengendali juga memperkuat kapasitas Permata Bank dalam mendampingi nasabah di berbagai tahap kehidupan.
Kredit Tumbuh, Risiko Bermasalah Menyusut
Di tengah ekspansi kredit, Permata Bank mampu menjaga kualitas aset. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun menjadi 2,1% dari 2,2% pada periode yang sama tahun lalu.
Risiko kredit dalam kategori loan at risk (LAR) juga menyusut dari 7% menjadi 5,8%. Untuk mengantisipasi potensi tekanan, bank mempertahankan rasio pencadangan NPL sebesar 373,4% dan LAR sebesar 135,2%.
Permata Bank juga memperluas pembiayaan kepada usaha kecil dan menengah (UKM). Penyaluran kredit ke segmen ini mencapai Rp6,9 triliun, tumbuh 16,6% YoY, dengan dukungan fasilitas modal kerja dan investasi sesuai kebutuhan nasabah.
Likuiditas dan Modal Jadi Penyangga
Dari sisi pendanaan, rasio kredit terhadap simpanan atau loan-to-deposit ratio (LDR) tercatat 92,1% per akhir September 2026, naik dari 80,9% setahun sebelumnya.
Sementara itu, rata-rata rasio liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 238,9% dan net stable funding ratio (NSFR) berada di level 120%. Keduanya memenuhi ketentuan likuiditas Basel III yang berlaku.
Dana murah atau CASA juga berkontribusi 56,4% terhadap total dana pihak ketiga (DPK), didukung penguatan transaksi nasabah dan layanan digital.
Benteng permodalan bank pun tetap tebal. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) mencapai 32,5%, sedangkan common equity tier 1 (CET-1) sebesar 24,5%. Permodalan tersebut memberikan ruang bagi bank untuk mendukung ekspansi sekaligus menjaga ketahanan menghadapi risiko industri.
Bisnis Syariah dan Literasi Keuangan Ikut Digenjot
Di lini syariah, unit usaha syariah (UUS) Permata Bank membukukan laba operasional sebelum penyisihan sebesar Rp631 miliar, tumbuh 5,4% YoY. Pendanaan mencapai Rp27,2 triliun, sementara dana wadiah naik 4,3% menjadi Rp3,1 triliun.
Permata Bank juga menghadirkan layanan investasi emas melalui platform Permata ME untuk memperluas pilihan investasi berbasis prinsip syariah.
Di luar bisnis, bank memperkuat literasi keuangan melalui Wealth Wisdom 2026 yang memasuki tahun ke-12 penyelenggaraan dan digelar di tujuh kota. Program ini mengangkat tema “Finding Balance, Building Resilience”, dengan pembahasan pengelolaan kekayaan secara menyeluruh, termasuk kesehatan.
Program CERITA (Cinta dan Edukasi daRI kiTA) juga menjangkau 24 kota dalam rangka memperingati ulang tahun Permata Bank ke-24. Tahun ini, program tersebut berfokus pada edukasi literasi keuangan bagi siswa SMP dan sederajat, dengan melibatkan karyawan sebagai relawan.
Melalui pertumbuhan kredit, kualitas aset yang terjaga, serta permodalan yang kuat, Permata Bank berupaya menjaga momentum bisnis sekaligus memperluas perannya dalam mendukung kebutuhan finansial masyarakat dan dunia usaha. * (Syam/Pra)





