Jakarta, Mediaprofesi.id – Generasi muda Indonesia mulai membuktikan bahwa teknologi bukan hanya untuk digunakan, tetapi juga bisa menjadi senjata untuk menyelesaikan persoalan nyata. Buktinya, dua inovasi karya pelajar dan mahasiswa berhasil mencuri perhatian dalam kompetisi Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026.
Tim BryotechAlpha dari SMA Negeri 81 Jakarta keluar sebagai juara pertama kategori SMA/SMK/MA melalui AeroSpora, teknologi dinding lumut pintar untuk membantu memurnikan udara. Sementara itu, tim I-SEUNG dari Universitas Komputer Indonesia menjadi juara pertama kategori Perguruan Tinggi lewat NovaSight, aplikasi pembelajaran matematika berbasis kecerdasan buatan (AI) bagi siswa tunanetra.
Samsung Electronics Indonesia mengumumkan para pemenang kompetisi tersebut di Jakarta, Selasa (3/11/2026). SFT merupakan ajang inovasi berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) yang mendorong pelajar dan mahasiswa menciptakan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.
Tahun ini, kompetisi mengangkat tiga tema, yakni keberlanjutan lingkungan, teknologi dan olahraga, serta transformasi pendidikan melalui STEM dan AI.
Antusiasme peserta terbilang tinggi. Lebih dari 4.000 orang mendaftar, dengan 2.600 peserta mengikuti Design Thinking Workshop. Sebanyak 40 tim kemudian melaju ke semifinal dan memperoleh pelatihan teknis AI Amplification. Pada tahap akhir, 10 tim terbaik dari setiap kategori menjalani penjurian di hadapan dewan juri.
AeroSpora, Dinding Lumut Pintar Lawan Polusi Udara

Polusi udara Jakarta menjadi masalah yang coba dijawab BryotechAlpha melalui AeroSpora. Inovasi ini menggabungkan kemampuan alami lumut menyaring udara dengan teknologi Internet of Things (IoT) dan AI.
Tim mencatat konsentrasi PM2.5 di Jakarta mencapai 41 µg/m³ pada Oktober 2026, sekitar 2,7 kali batas aman harian WHO sebesar 15 µg/m³.
AeroSpora dilengkapi sensor untuk memantau suhu, kelembapan udara, kondisi media tanam, serta kadar PM2.5 secara real-time. Teknologi TinyML pada mikrokontroler ESP32-S3 kemudian memprediksi risiko kekeringan lumut, sehingga sistem pengabutan otomatis dapat menjaga kelembapannya.
Menariknya, perangkat ini juga memanfaatkan air kondensasi dari AC sebagai sumber air pengabutan.
Seluruh data dapat dipantau melalui V.E.R.A (Visual Environment Real-time Analytics), yang dikembangkan menggunakan tablet bekas. Perangkat berukuran 120 x 50 cm ini membutuhkan daya 15–25 watt dan dirancang menjangkau ruangan seluas 50–80 m².
NovaSight, AI Buka Akses Belajar Matematika bagi Tunanetra
Persoalan berbeda diangkat tim I-SEUNG melalui NovaSight. Aplikasi berbasis AI ini dirancang untuk membantu siswa tunanetra memahami materi matematika, terutama grafik dan diagram yang selama ini sulit diakses.
Gagasan tersebut muncul setelah tim melakukan wawancara di SLB Negeri A Citeureup, Cimahi. Mereka menemukan siswa tunanetra masih kesulitan memahami visualisasi matematika, sementara guru menghadapi kendala dalam mengevaluasi tahapan pengerjaan soal.
NovaSight menghadirkan lima fitur utama. Annoter mengubah modul matematika menjadi narasi yang dapat dibaca melalui pembaca layar. Scriber membantu siswa mencatat tahapan penyelesaian soal, sedangkan Clarifier menjawab pertanyaan berdasarkan modul dan sumber terpercaya.
Ada pula Quizzer untuk membantu guru menyusun soal dan kunci jawaban, serta Evaluaizer yang menganalisis langkah pengerjaan siswa untuk mendeteksi kesalahan.
Dalam uji coba, siswa tunanetra mampu menjawab empat dari lima soal secara mandiri dalam waktu 15 menit tanpa pendampingan guru.
Samsung Cetak Generasi Problem Solver

Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, Anggi Paramita, mengapresiasi kreativitas dan kepedulian peserta yang mampu mengubah persoalan di sekitar mereka menjadi gagasan inovatif.
Menurutnya, SFT menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan STEM dan AI sekaligus membangun pola pikir sebagai problem solver.
Program ini juga membekali peserta melalui pelatihan Design Thinking, pembelajaran AI, serta pendampingan mentor. Keterampilan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan kreativitas menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Assoc. Prof. Suparto, Tenaga Ahli Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, menilai kompetisi ini menunjukkan bahwa anak muda Indonesia memiliki kemampuan untuk menghasilkan inovasi sendiri.
Ia berharap semakin banyak lembaga yang berperan mendorong lahirnya inovator muda. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tinggi juga harus terlihat dari karya nyata yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Senada, Yuli Haryanto, Direktur Sekolah Menengah Atas Kemendikdasmen RI, mengapresiasi kompetisi yang mendorong siswa mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Bagi para pemenang, pencapaian ini menjadi awal untuk mengembangkan inovasi agar manfaatnya semakin luas.
Perwakilan I-SEUNG, Regia Qolbu Rivita Atmowidjaja, mengatakan NovaSight berangkat dari kepedulian terhadap kesulitan siswa tunanetra dalam memahami matematika. Sementara itu, Azkeanu Rhesa Ramadhan dari BryotechAlpha menyebut AeroSpora dikembangkan dengan harapan menghadirkan udara yang lebih bersih melalui perpaduan alam dan teknologi.
Melalui semangat “Together for Tomorrow! Enabling People”, Samsung berharap SFT terus melahirkan inovator muda yang mampu menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat Indonesia. * (Syam/Pra)





