Bulukumba, Media-profesi.com – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 28 September 2021 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema kali ini adalah “Awas Tekor! Pintar dan Bijak Bertransaksi Digital”.
Program kali ini dimoderatori oleh Maya Alkhaerat dan menghadirkan empat narasumber yang terdiri dari digital entrepreneur sekaligus pelatih public speaking, Maya Oktharia; Instagrammer gaya hidup dan fesyen, Andi Mauderi Kabir; peneliti Jalin Institute, Nurbaya; serta pelatih sekaligus digital marketing communication, Diaz Yasin Apriadi.
Pada kegiatan kali ini diikuti oleh 327 peserta dari berbagai kalangan usia dan profesi. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan 57.550 peserta.
Acara dimulai dengan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa.
Adapun yang tampil selanjutnya adalah Maya Oktharia mengatakan, Go Cashless berarti metode pembayaran tanpa menggunakan uang tunai fisik.
Ia kemudian menjelaskan kelebihan dan kekurangan non tunai serta perbedaan uang elektronik dan dompet digital. “Penelitian We Are Social menunjukkan 88% pengguna internet berusia di atas 15 tahun melakukan transaksi secara daring,” ujarnya.
Berikutnya, Andi Mauderi Kabir menyampaikan hal-hal yang harus diperhatikan sebelum transaksi digital, di antaranya perhatikan keamanan sekitar, teknologi, dan anggaran. Transaksi digital aman jika ada otentikasi dua faktor, verifikasi pembayaran, gunakan otentikasi biometrik, hanya gunakan aplikasi tepercaya, dan hindari penggunaan Wi-Fi publik.
“Tidak aman jika informasi pribadi diketahui orang lain, menggunakan kode PIN atau kata sandi yang mudah,” ucapnya.
Sebagai pemateri ketiga, Nurbaya menuturkan, aktivitas digital berisiko meningkatkan pola hidup konsumtif karena kemudahannya. Pola konsumtif bisa berarti mengikuti tren, belanja karena gengsi yang tinggi, penghargaan sosial, fokus pada penampilan fisik, dan hidup mewah.
“Cara menjadi produktif bisa dimulai dengan menentukan prioritas hidup, menyusun anggaran belanja, hindari fitur bayar nanti, mulai investasi, dan memulai bisnis,” pungkasnya.
Adapun sebagai pemateri terakhir, Diaz Yasin Apriadi mengatakan, Pay later (bayar nanti) sederhananya membayar dengan sistem mencicil. Fitur ini sangat diminati karena masyarakat Indonesia masih sangat konsumtif, fiturnya mudah dan praktis, dan kepercayaan terhadap teknologi digital meningkat.
“Fitur pay later aman selama tahu dan bijak serta paham risiko apa yang akan ditimbulkan dalam penggunaannya,” tukas Diaz.
Setelah sesi pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu moderator. Salah satu pertanyaannya, “Apakah metode pay later ini baik atau tidak untuk digunakan, khususnya untuk milenial yang sedang marak-maraknya menjadi kaum konsumtif?” tanya Yoga Widianto kepada Diaz Yasin Apriadi.
“Fitur atau aplikasinya tidak pernah salah. Tetapi, kemampuan menggunakan fitur tersebut secara cerdas, itu yang jadi masalah. Kalau tidak bijak dan tidak mampu menghitung secara baik, itu akan menjadi bumerang dan menyusahkan kita,” jawab Diaz Yasin Apriadi.
Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan informatif yang disampaikan narasumber terpercaya.
Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi. * (Syam/Wah)





