Jakarta, Media-profesi.com – Komisi Eropa mengusulkan untuk melarang batubara Rusia sebagai bagian dari babak baru sanksi terhadap Rusia.
“Pembatasan baru yang dilakukan pasca ketidakpastian tentang pengiriman gas di masa depan dari Rusia ke UE, khususnya setelah Rusia menuntut pembelinya untuk membayar dalam rubel,” ujar Juan Harahap, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam keterangan resminya yang diterima redaksi Media-profesi.com pagi ini (8/4).
Selain itu, ujar Juan Harahap, pembeli Eropa kini meningkatkan pengiriman batu bara dari seluruh dunia. Kami melihat di kejadian ini dapat bermanfaat bagi Australia dan Indonesia karena pembeli Eropa kemungkinan besar mencari beberapa importir alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi mereka.
Patut dicatat, jelasnya, Jepang juga telah mengambil langkah untuk menangguhkan perdagangan batubara Rusia baru untuk pengguna akhir Jepang. Pada tahun 2021, Rusia adalah pemasok batubara terbesar ketiga Jepang setelah Australia dan Indonesia, memasok 10% dari total impor Jepang.
Dia percaya serangkaian larangan impor batubara Rusia akan bermanfaat bagi industri batubara Indonesia secara umum, karena kami memperkirakan berkurangnya pasokan untuk batubara seaborne akan membuat harga batubara global tetap berada pada harga yang menguntungkan.
“Kami juga melihat pasokan yang terbatas akan bertahan di tahun yang tersisa, karena kami memperkirakan Indonesia dan Australia sebagai eksportir batubara utama dunia telah mencapai batas produksi mereka dan kemungkinan tidak akan memenuhi permintaan tambahan yang dibutuhkan pembeli Eropa,” paparnya.
“Kami percaya dengan harga tinggi saat ini, harga batubara lingkungan akan menguntungkan bagi perusahaan dengan ekspor utama dimana harga rata-rata saat ini melebihi harga jual domestik tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan peraturan DMO. Patut dicatat, dalam cakupan kami, ITMG memiliki porsi ekspor terbesar yaitu 76% dibandingkan ADRO dan PTBA dengan porsi level masing-masing 72% dan 43%,” tambahnya.
Selain harga batubara yang lebih tinggi, ujranya, kami melihat potensi kenaikan berasal dari produksi yang lebih tinggi dari penambang batubara di cakupan kami. Sedangkan untuk ADRO dan PTBA, manajemen mengharapkan untuk meningkatkan volume produksi mereka masing-masing menjadi 59 juta ton (+12.0% YoY) dan 36 juta ton (+21.0% YoY). Sementara itu, manajemen ITMG memperkirakan akan melihat sedikit peningkatan sebesar 19 juta ton (+1,6% YoY) pada tahun 2022.
“Kami mempertahankan rekomendasi Overweight kami di sektor batubara Indonesia. Kami lebih memilih ITMG sebagai pilihan utama kami karena: 1) sangat terkonsentrasi di bisnis batubara termal; 2) memiliki sebagian besar karakteristik kalori sedang hingga tinggi, porsi ekspor terbesar dalam cakupan kami yang akan mendukung margin; dan 3) imbal hasil dividen yang tinggi,” tutupnya. * (Syam/Wah)





