Jakarta, Media-profesi.com – Aplikasi MyPertamina bermanfaat bagi para pengemudi ojek daring. Karena itu, mereka banyak yang sudah mendownload dan memanfaatkannya. Apalagi, ketika aplikasi yang semula untuk merawat pelanggan setia BBM produksi Pertamina itu dipakai untuk mengatur penggunaan BBM bersubsidi.
“MyPertamina sudah dikenal pengemudi ojek online dan juga masyarakat pengguna BBM Pertamina,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojek Daring Garda Indonesia Igun Wicaksono, di Jakarta, Selasa, 27 Desember 2022.
Sejak aplikasi MyPertamina hadir, banyak pengemudi ojol yang langsung mendownload dan memanfaatkannya. Apalagi saat pandemi covid diberlakukan potongan harga.
“Tapi, potongan harga itu kemudian dihentikan, sehingga banyak pengemudi ojol yang keluar lagi dari aplikasi itu,” kata Igun.
Padahal jika dihitung secara presentase, ia memperkirakan pengguna aplikasi MyPertamina dari ojol bisa mencapai 20 persen.
Igun mengakui, bahwa aplikasi MyPertamina cukup efektif. Namun, ia menilai, sosialisasinya masih kurang. Selain itu juga belum ada promo menarik bagi pengguna setia yang sudah mendownload aplikasi ini.
“Mungkin perlu promo seperti potongan pembelian BBM khusus pengguna MyPertamina. Itu gimmick diskon khusus marketing. Program yang ada tidak permanen,” ujarnya.
Igun kemudian memaparkan bahwa asosiasi yang dipimpinnya pernah menyampaikan usul kepada Pertamina tentang aplikasi ini. Misalnya, jika menginginkan agar penggunaan aplikasi MyPertamina lebih efektif, Pertamina dapat menggandeng ojek online. Juga usul tentang perlunya program khusus bagi pengguna aplikasi dan sosialisasinya. “Sayang, hingga saat ini belum ada respon lanjutan dari pihak Pertamina,” ujarnya.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad), Wawan Hermawan juga mengakui bahwa aplikasi MyPertamina di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) cukup memudahkan pengguna. Aplikasi ini akan mendeteksi pengguna maupun kendaraan yang mengisi BBM. Karena itu penyaluran BBM bersubsidi akan lebih terpantau, sehingga tepat sasaran.
“Dengan aplikasi MyPertamina ini konsumsi per kendaraan maupun individu juga akan mudah dideteksi,” ujarnya.
Namun untuk penerapan aplikasi MyPertamina di wilayah Terdepan, Terpencil dan Terluar (3T), Wawan mengakui bahwa persoalan itu memang bukan perkara mudah. “Jauh dari kata siap,” ujarnya.
Karena itu, Wawan menyarankan, untuk wilayah 3T anggaran pemerintah lebih baik dimanfaatkan untuk meningkatkan sarana serta akses kesehatan dan pendidikan terlebih dahulu.
Sementara itu, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad mengatakan, agar aplikasi MyPertalite semakin efektif, pemerintah harus memperkuat dengan payung hukum.
“Revisi Perpres Nomor 191 tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM, harus dilakukan, agar BBM bersubsidi tepat sasaran dan efektif dilakukan,” ujarnya.
Aplikasi MyPertamina diharapkan menjadi solusi efektif untuk membatasi pengguna BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar. Sebab aplikasi ini bisa menjadi alat ukur di SPBU agar distribusi BBM subsidi tepat sasaran.
“Saat ini subsidi BBM mayoritas dinikmati masyarakat menengah atas. Agustus lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan bahwa lebih dari 86 persen penikmat subsidi pertalite adalah orang kaya. Untuk solar, bahkan 89 persen dari total subsidi dikonsumsi orang mampu,” ujarnya. * (Syam/Pra)





