MediaProfesi.id
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Kamis, 5 November 2026
No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Kamis, 5 November 2026
No Result
View All Result
MediaProfesi.id
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Industrialisasi dari Desa

Wahyu by Wahyu
Rabu, 8 Februari 2023
in Ekonomi
Industrialisasi dari Desa
110
VIEWS

Penulis : Farid Gaban, Ekspedisi Indonesia Baru

Jakarta, Media-profesi.com – Pemerintahan Jokowi mengundang investor asing untuk berlomba membangun pabrik mobil listrik di Indonesia. Pemerintah berharap itu akan membuka lapangan kerja sekaligus memicu alih teknologi.

Kelak, begitulah pemerintah dan sebagian ekonom berharap, industri lokal bisa meniru membangun pabrik mobil listrik sendiri. Ini juga diharapkan bisa mempercepat proses industrialisasi serta penguasaan teknologi secara luas.

Apakah strategi industrialisasi seperti ini akan berhasil?

Saya meragukannya.

Strategi industrialisasi seperti itu sebenarnya sudah dilakukan sejak Pemerintahan Soeharto setengah abad lalu.

Pada 1970-an, mengabaikan protes besar, Soeharto membuka luas investasi asing, khususnya industri otomotif Jepang dan Amerika.

Setengah abad kemudian saat ini, apakah kita punya industri otomotif lokal sendiri?

Apakah itu membuka peluang penguasaan teknologi oleh anak negeri?

Apakah membuat kita sebagai bangsa semakin pintar dan inovatif dalam mengembangkan industrialisasi lebih luas?

Sebagian besar jawabannya, menurut saya, adalah tidak.

Alih-alih mandiri, kita justru makin tergantung pada industri dan teknologi asing.

Dengan jumlah penduduknya yang besar, Indonesia terbenam makin jauh jadi sekadar  pasar empuk industri otomotif asing tadi.

Kita menjadi bangsa yang haus mobil dan motor bahkan dari orang Jepang sendiri. Perusahaan otomotif lokal hanya tertarik menjadi re-seller atau kepanjangan pemasaran saja.

Dalam hal lapangan kerja, industri besar termasuk otomotif hanya kecil saja serapannya. Seluruh industri skala besar di Indonesia, yang umumnya dibentuk dari investasi asing, hanya menyerap sekitar 3% pencari kerja.

Di lain pihak, industri otomotif asing di Indonesia tidak mampu atau mau membangun linkage serta kaitan supply chain luas dengan industri kecil dan menengah sebagai pemasok komponen. Sehingga perannya dalam memicu industrialisasi luas tak terjadi.

Perusahaan otomotif seperti Toyota dan Mitsubishi datang ke sini dengan paten teknologi dan lisensi.

Hal terjauh yang bisa dilakukan oleh pabrik lokal di Indonesia adalah memproduksi mobil dengan membayar lisensi tadi. Belum lama ini, Toyota dan Mitsubishi menuntut pabrik lokal di Myanmar yang tidak membayar lisensi mereka.

Alih teknologi adalah janji palsu dari investasi asing.

Melihat itu semua, kita bisa menyimpulkan bahwa manfaat investasi asing dalam mengembangkan industrialisasi sebenarnya sangat kecil bahkan jika ada.

Apa sebenarnya yang salah dari strategi industrialisasi dengan mengandalkan investasi asing, baik di masa lalu (Soeharto) maupun sekarang (Jokowi)?

Membangun industrialisasi lewat investasi asing cenderung bersifat top-down dan mengandalkan jalan pintas. Nampak mentereng dari luar, tapi palsu dan keropos fondasinya.

Tidak ada jalan pintas menuju industri manufaktur seperti otomotif. Kita bisa belajar dari industrialiasi Jepang tanpa menjadikan mereka investor.

Kita mungkin sering membayangkan bahwa raksasa otomotif seperti Toyota adalah pabrik besar yang tunggal dan sendirian.

Keliru. Pada kenyataannya, Toyota sebenarnya hanya sebuah pabrik perakit raksasa yang komponennya dipasok oleh puluhan ribu industri kecil dan menengah.

Toyota adalah orkestra besar dari industri-industri kecil dan menengah di kota-kota kecil maupun pedesaan Jepang.

Dari pengalaman panjang dan standarisasi luas, industri rumahan di Jepang tak hanya bisa memasok komponen mobil, tapi bahkan juga memasok komponen roket atau robotik high-tech.

Industri kecil dan menengah lah motor penggerak sebenarnya ekonomi dan industrialisasi Jepang.

Tak ada jalan pintas. Membangun industrialisasi harus dimulai dari industri kecil bahkan di pedesaan. Artinya kita harus membangun fondasi ekonomi dari desa.

Dalam konteks ini, saya teringat pemikiran proklamator Bung Hatta tentang pentingnya membangun desa.

Menurut Bung Hatta, kita bisa memulai membangun desa dari apa yang kita punya, sektor pertanian dan kelautan.

Ketika petani dan nelayan makin sekahtera, menurut Bung Hatta, mereka akan membutuhkan alat dan teknologi, termasuk teknologi pengolahan hasil pertanian/kelautan bagi kebutuhan pangan, obat, sandang dan papan (bahan bangunan).

Dari situlah sektor manufaktur tumbuh di atas fondasi sektor pertanian/kelautan yang kokoh. Muncul pandai besi, misalnya, atau pembuat alat pertanian dan pengolahannya, yang secara perlahan membangun pengetahuan dan ketrampilan kuat menuju industrialisasi.

Itu mungkin perlu waktu lama dan kita sudah terlambat setidaknya 50 tahun dari Korea Selatan, misalnya, yang kini dikenal sebagai negara industri baru.

Tapi, menurut saya, meski terlambat, itu tetap harus dan bisa dilakukan. Dengan kecepatan pertukaran informasi serta pengetahuan, kita bisa memperpendek proses.

Kuncinya adalah membangun desa dan dimulai dengan membangun fondasi kuat dari sektor primer seperti pertanian dan kelautan.

Tidak ada jalan pintas menuju industrialisasi.

Post Views144 Views
Tags: Kendraan Listrik

Related Posts

Kilas Balik Perjalanan Pameran Otomotif GAIKINDO 2025 dalam Upaya Dorong Capaian Industri Otomotif Indonesia
Ekonomi

Kilas Balik Perjalanan Pameran Otomotif GAIKINDO 2025 dalam Upaya Dorong Capaian Industri Otomotif Indonesia

by Syamhudi
Selasa, 30 Desember 2025
41
Pemesanan JETOUR T2 membludak, Kini Program Early Adventure Benefit Diperluas hingga 1.000 Konsumen
Ekonomi

Pemesanan JETOUR T2 membludak, Kini Program Early Adventure Benefit Diperluas hingga 1.000 Konsumen

by Syamhudi
Rabu, 10 Desember 2025
9

RECOMMENDED

1.100 Peserta dari 16 Negara Serbu KRISTAInterFOOD 2026, Pameran F&B Bidik 95.000 Pengunjung

1.100 Peserta dari 16 Negara Serbu KRISTAInterFOOD 2026, Pameran F&B Bidik 95.000 Pengunjung

5 November 2026
6
Mitsubishi Fuso Gempur Bisnis Logistik Rantai Dingin, Canter FE 71L Dibekali Sensor Suhu Real-Time dan Runner Telematics

Mitsubishi Fuso Gempur Bisnis Logistik Rantai Dingin, Canter FE 71L Dibekali Sensor Suhu Real-Time dan Runner Telematics

5 November 2026
7

MOST VIEWED

  • Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    610 shares
    Share 244 Tweet 153
  • Dokter Phedy Memiliki Keahlian Menangani Berbagai Masalah Tulang Belakang

    412 shares
    Share 165 Tweet 103
  • Mengawali Tahun 2023, Sharp Luncurkan LED TV Aquos IIOTO Series Terbaru

    405 shares
    Share 162 Tweet 101
  • Dable Terbitkan ‘Digital Media Landscape 2021’, Termasuk TOP 30 Media di Indonesia

    375 shares
    Share 150 Tweet 94
  • Kementerian Agama Buka Seleksi Petugas Haji 2023, Syarat Utama Wajib Penguasaan IT

    372 shares
    Share 149 Tweet 93
MediaProfesi.id

MediaProfesi menyediakan berita aktual

CATEGORY

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Profil
  • Sosialita
  • Teknologi
  • Contact
  • Media Partner

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM

No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Sosialita

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM