MediaProfesi.id
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Jumat, 24 April 2026
No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Jumat, 24 April 2026
No Result
View All Result
MediaProfesi.id
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Berbagai Mitos dan Fakta Tentang Produksi Minyak Indonesia

Syamhudi by Syamhudi
Rabu, 1 Maret 2023
in Ekonomi
Berbagai Mitos dan Fakta Tentang Produksi Minyak Indonesia
24
VIEWS

Semarang, Media-profesi.com – BPH Migas mengingatkan tentang kenyataan bahwa Indonesia sudah bukan pengekspor minyak lagi. Indonesia kini bahkan sudah menjadi negara net importir minyak. Sebab, pada kenyataanya, Indonesia bukanlah negara yang kaya minyak.

Menurut anggota Komite BPH Migas Saleh Abdurrahman, berbicara tentang minyak maka perlu dibahas juga tentang cadangan minyak yang ada di bawah permukaan bumi. Cadangan ini bermacam-macam, baik cadangan yang sudah siap diambil, dan juga cadangan yang dapat dieksplorasi.

“Faktanya, saat ini cadangan minyak kita yang sudah siap diambil hanya tersisa 3 miliar barel. Itu hanya cukup untuk bertahan selama 10 tahun, dengan tingkat produksi 650.000 barel per hari seperti saat ini. Satu barel itu sama dengan 159,9 liter,” kata Saleh di Universitas Diponegoro, Semarang.

Ada pula mitos di tengah masyarakat bahwa harga minyak bumi harus murah. Faktanya, kata Saleh, harga minyak di Indonesia dipengaruhi oleh harga internasional. Sebab, ada beberapa faktor yang mempengaruhi harga minyak. Saat ini yang sangat berpengaruh adalah perang antara Rusia dengan Ukraina. Perang itu menyebabkan kelangkaan pasokan minyak dunia. Sebagai akibatnya, harga minyak pun naik.

Harga minyak bumi itu ditentukan oleh dua faktor. Biasanya satu disebut faktor fundamental, sementara yang kedua adalah faktor non fundamental. Faktor fundamental berkaitan dengan produksi dan kesiapan kilang. Sedangkan yang non fundamental misalnya seperti tiba-tiba pecah perang yang menyebabkan harga naik. “Faktor-faktor non fundamental mempengaruhi harga minyak, dan kadang-kadang lebih kuat impact-nya dari pada faktor fundamental,” kata Saleh.

Selanjutnya perkembangan harga minyak mentah dunia sejak 2015 mulai dilihat dari brent. Brent menjadi acuan dalam penentuan harga minyak, terutama di Eropa. Sementara di Indonesia, kita memakai ICP atau Indonesian Crude Price. “Di 2021 harga minyak dunia sebesar 68 US$ per barel, kemudian pada 2022 menjadi sekitar 103 US$ per barel. Fluktuasi harga ini sangat berpengaruh. Larinya nanti ke subsidi,” kata Saleh.

Saleh pun mengungkapkan bahwa kadang-kadang asumsi pemerintah kurang tepat gara-gara faktor non fundamental tadi. “Misalnya di APBN 2021, harga minyak dipatok 45 US$  per barel. Ternyata harga minyak dunia jauh di atas itu. Lalu di APBN 2022 dipatok menjadi 63 US$ per barel. Ternyata harga minyak dunia sebesar 109 US$ per barel,” ujarnya.

Kondisi ini, kata Saleh, semakin berpengaruh karena produksi migas Indonesia, terus turun. Pada 2017 produksi minyak Indonesia sebesar 800 ribu barrel per hari, sementara sekarang menjadi 659 ribu barel per hari. Angka ini turun terus karena faktor alami. Selain karena alasan-alasan natural deflation, tetapi juga karena faktor-faktor lain.

” Impact nya ke depan kebutuhan BBM kita naik, menjadi 439 juta barel setahun. Padahal produksi kita hanya 256 juta barel per tahun, sehingga sisanya kita harus impor. Inilah yang menimbulkan ketergantungan kita terhadap faktor-faktor non fundamental,” kata Saleh.

Saat ini pemerintah hadir dan berkomitmen untuk menekan biaya keekonomian yang seharusnya dibayarkan masyarakat, dengan memberikan kompensasi. Sekarang misalnya, harga dipatok Rp 6.800. Padahal sebenarnya harga keekonomiannya  Rp15.000. Inilah yang disebut sebagai kompensasi yang harus dibayar pemerintah, selain subsidi Rp1.000 yang melekat saat warga membeli BBM.

Total subsidi energi saat ini mencapai Rp 502 triliun. Angka terbesarnya berasal dari kompensasi dari pemerintah. “Pertalite sekarang ditentukan kuotanya. Tahun ini 32,5 juta liter. Harganya juga ditentukan Rp 10.000. Kalau harga internasionalnya Rp 15.000, maka Rp 5.000 harus dibayar pemerintah,” kata Saleh.

Sementara itu, Guru Besar FEB Undip FX Sugiyanto mengatakan bahwa saat ini pemerintah, BPH Migas, dan Pertamina harus transparan dalam pengelolaan migas, dan mampu mengimplementasikan kebijakan secara bertanggung jawab. Selain itu, mereka juga harus kredibel dan fair.

Prof Sugiyanto membandingkan bahwa kompensasi subsidi pemerintah sebesar Rp 502 triliun itu sebenarnya dapat dipakai untuk membangun Jembatan Selat Sunda. Sebab, 10 tahun lalu biaya pembangunan jembatan Selat Sunda itu baru sekitar Rp 96 triliun, sementara saat ini sekitar Rp 200 triliun.

“Artinya dalam setahun saja subsidi BBM itu bisa untuk membangun satu seperempat jembatan Selat Sunda. Anda bisa bayangkan bahwa ternyata dengan kompensasi subsidi itu kita bisa membangun berbagai jembatan. Apalagi dalam lima tahun nanti. Setelah Jembatan Selat Sunda, nanti ada jembatan Selat Bali, dan sebagainya. Menurut saya, yang sangat penting di sini adalah bahwa subsidi itu seharusnya bisa dialokasikan untuk yang lain,” ujarnya. * (Syam)

Post Views74 Views
Tags: BBMMyPertaminaPertamina

Related Posts

Konsorsium PGE-PLN IP Sepakati Tarif dengan PLN untuk PLTP Ulubelu Bottoming Unit
Ekonomi

Konsorsium PGE-PLN IP Sepakati Tarif dengan PLN untuk PLTP Ulubelu Bottoming Unit

by Wahyu
Jumat, 26 Desember 2025
16
Stargazer Cartenz Hadir dengan Efisiensi Bahan Bakar Ditengah Harga BBM Naik
Ekonomi

Stargazer Cartenz Hadir dengan Efisiensi Bahan Bakar Ditengah Harga BBM Naik

by Syamhudi
Jumat, 10 Oktober 2025
16

RECOMMENDED

Kia EV9 GT Raih Peringkat Pertama Uji Komparatif Auto Bild Jerman

Kia EV9 GT Raih Peringkat Pertama Uji Komparatif Auto Bild Jerman

23 April 2026
4
50 Tahun Volkswagen Golf GTI Melesat Tanpa Henti

50 Tahun Volkswagen Golf GTI Melesat Tanpa Henti

23 April 2026
12

MOST VIEWED

  • Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    569 shares
    Share 228 Tweet 142
  • Dokter Phedy Memiliki Keahlian Menangani Berbagai Masalah Tulang Belakang

    366 shares
    Share 146 Tweet 92
  • Mengawali Tahun 2023, Sharp Luncurkan LED TV Aquos IIOTO Series Terbaru

    359 shares
    Share 144 Tweet 90
  • Dable Terbitkan ‘Digital Media Landscape 2021’, Termasuk TOP 30 Media di Indonesia

    325 shares
    Share 130 Tweet 81
  • Kementerian Agama Buka Seleksi Petugas Haji 2023, Syarat Utama Wajib Penguasaan IT

    324 shares
    Share 130 Tweet 81
MediaProfesi.id

MediaProfesi menyediakan berita aktual

CATEGORY

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Profil
  • Sosialita
  • Teknologi

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM

No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Sosialita

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM