Jakarta, Media-profesi.com – Aritmia atau gangguan irama jantung adalah kondisi di mana detak jantung menjadi tidak teratur, terlalu cepat, atau terlalu lambat. Sedangkan gangguan jantung adalah kondisi di mana ada masalah dengan jantung, termasuk masalah dengan katup, otot, atau saluran darah atau adanya penyumbatan di pembuluh darah, sehingga aliran darah ke jantungnya berhenti.
Aritmia bisa menjadi salah satu jenis gangguan jantung, namun tidak semua gangguan jantung adalah aritmia. Ada beberapa jenis gangguan jantung lain seperti serangan jantung, penyakit jantung coroner, dan gagal jantung.
Namun sayangnya hingga saat ini belum ada data yang pasti tentang jumlah orang yang terkena aritmia di seluruh dunia atau di Indonesia secara spesifik.
Aritmia adalah kondisi jantung di mana detak jantung menjadi tidak teratur. Kondisi ini dapat terjadi pada orang dari segala usia, mulai dari bayi hingga orang dewasa.
Namun, risiko aritmia cenderung meningkat seiring bertambahnya usia dan juga pada orang dengan riwayat jantung atau faktor risiko lainnya seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas.
Jika seseorang mengalami gejala aritmia, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter atau tenaga medis terkait untuk diagnosis dan pengobatan yang tepat.
“Kita harus membedakan yang namanya serangan jantung dan irama jantung, itu dua hal yang berbeda, dan akhir-akhir ini juga sudah banyak dokter yang membahas hal ini,” ujar Dokter Spesialis Jantung & Pembuluh Darah Sekaligus Konsultan Aritmia Eka Hospital BSD, dr. Ignatius Yansen Ng, Sp.JP(K), FIHA dalam acara ngobrol sehat bersama media di Jakarta pecan lalu (27/2) di Jakarta.
Menurut dr. Yansen, serangan jantung itu identiknya adalah penyumbatan di pembuluh darah jantung, ada serangan jantung, ada penyumbatan, makanya aliran darah ke jantungnya berhenti.
dr Yansen menjelaskan, rata-rata orang yang meninggal di bawah 35 tahun disebabkan oleh penyakit aritmia. Hal ini berbeda dengan mereka yang alami serangan jantung. Biasanya mereka yang alami serangan jantung terjadi pada usia 35 tahun ke atas.
“Berdasarkan survei, ternyata orang yang meninggal karena penyakit jantung di bawah 35 tahun itu karena henti jantung atau aritmia. Tapi kalau di atas 35 tahun biasanya karena serangan jantung,” ungkap dr Yansen.
Dia juga mengungkapkan bahwa mereka yang alami aritmia kebanyakan terjadi karena faktor keturunan atau kelainan bawaan. Kondisi ini biasanya akan diketahui saat melakukan elektrokardiografi (EKG) saat melakukan pengecekan.
Ditambahkannya, untuk kondisi aritmia dibagi menjadi dua bagian, detak jantung terlalu lambat dan cepat. Mereka yang alami detak jantung lambat sering terjadi pada orang tua. Sebab detak jantungnya pelan ini, maka aliran darah ke otak akan berkurang. Hal tersebut yang seseorang akan merasa pusing, berputar, bahkan hingga kehilangan kesadaran.
“Aritmia juga bisa sebabkan detak jantung berdebar lebih kencang. Dalam hal ini, mereka akan mengalami rasa tidak nyaman pada bagian jantungnya. Perasaan berdebar ini dapat terjadi dalam hitungan menit, Jam bahkan berhari-hari,” paparnya.
Meski demikian dr. Yansen menegaskan, aritmia menjadi kondisi yang bisa sembuh kembali. Pasien aritmia juga dapat melakukan aktivitasnya seperti saat masih normal. Beberapa pengobatan tersebut seperti melakukan kateter ablasi, pemasangan micra, dan pacemaker.
“Sebenernya kasusnya enggak banyak, kurang dari satu persen, tapi untuk yang satu persen itu cukup fatal. Makannya perlu diobati dengan melakukan kateter ablasi, pemasangan micra, atau pacemaker. Itu bisa sembuh total dan permanen,” jelas dr.Yansen.
Aritmia sendiri bisa muncul dan kambuh di mana saja, ini cukup berbahaya. Pasalnya, jika pasien alami henti jantung, ia harus mendapatkan bantuan secara cepat. Jika telah dari 6 menit, itu bisa menyebabkannya meninggal.
dr Yansen berharap, masyarakat setidaknya bisa melakukan latihan dasar untuk CPR. Latihan itu akan sangat membantu menolong nyawa orang-orang yang alami henti jantung mendadak.
“Seseorang bisa kambuh dan tidak sadarkan diri karena henti jantung. Untuk itu, orang awam harus bisa CPR, karena kita enggak bisa nunggu medis. Otak kita hanya punya waktu 6 menit untuk bertahan. Oleh karena itu, penting untuk bisa CPR jika suatu saat terjadi masalah,” jelas dr. Yansen. * (Syam)





