MediaProfesi.id
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Rabu, 24 Juni 2026
No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Rabu, 24 Juni 2026
No Result
View All Result
MediaProfesi.id
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Menyikapi Dampak Perang Iran dan Israel Terhadap Pasar di Indonesia

Wahyu by Wahyu
Kamis, 25 April 2024
in Ekonomi
Menyikapi Dampak Perang Iran dan Israel Terhadap Pasar di Indonesia
64
VIEWS

Jakarta, Media-profesi.com – Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah antara Iran dan Israel, telah memicu konflik, termasuk serangan rudal dan serangan udara. Ketidakstabilan geopolitik ini menimbulkan risiko terhadap pasar di Indonesia, yang diperburuk oleh potensi dampak kenaikan harga minyak hingga US$100 per barel, arus keluar modal, dan depresiasi Rupiah.

Hal ini menjadi bahasan pada webinar bertajuk ‘Dampak Perang Iran – Israel Terhadap Pasar di Indonesia’ yang digelar oleh Sinarmas Sekuritas (SimInvest).
Menurut Aryo Perbongso, Head Of Fixed Income Research PT Sinarmas Sekuritas (SimInvest), Pemerintah dan Bank Indonesia menghadapi dilema dalam memilih antara kebijakan Pro-Pertumbuhan dan menstabilkan biaya fiskal untuk mengelola nilai Rupiah.

“Mempertahankan BI rate di tengah tantangan-tantangan ini dapat memberikan sinyal dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi namun dapat menyebabkan peningkatan biaya fiskal. Koordinasi komprehensif antara BI dan pemerintah sangat penting untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah dan menerapkan kebijakan yang berorientasi pada pertumbuhan yang bersifat preemptive,” ujar Aryo.

“Penilaian kami, dengan melihat nilai tukar saat ini, kemungkinan besar BI rate masih dapat dipertahankan pada April 2024, mengingat siklus pembayaran dividen yang masih berjalan. Oleh karena itu, terdapat kekhawatiran bahwa kenaikan BI rate pada saat ini mungkin tidak akan memberikan efektivitas yang signifikan. Skenario yang memungkinkan bagi BI dan pemerintah untuk menstabilkan nilai Rupiah adalah dengan mempertahankan BI rate dan meningkatkan imbal hasil Surat Utang Negara (SBN). Dengan dipertahankannya BI rate berarti mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia dibandingkan dengan menaikkan suku bunga, meskipun hal ini dapat menyebabkan peningkatan biaya fiskal APBN karena imbal hasil SBN yang lebih tinggi,” pungkas Aryo.

Sementara itu, Isfhan Helmy dari Sinarmas Sekuritas (SimInvest) memprediksi dampak eskalasi konflik timur Tengah TIDAK begitu berpengaruh secara langsung terhadap bursa saham Indonesia.

“Menurut kami penurunan IHSG yang terjadi pada pembukaan perdagangan hari pertama pasca libur lebaran semata untuk memfaktorkan penurunan bursa saham AS sepanjang pekan libur lebaran,” ucap Isfhan.

“Kami melihat ini HANYA menjadi trend bearish sementara bagi IHSG, Dan justru sebaiknya merupakan peluang untuk masuk pada emiten-emiten berfundamental bagus. Kami menjagokan Indofood CBP – ICBP (BUY, TP Rp12,750, 26% potensi kenaikan,  Sumber Alfaria – AMRT (BUY, TP Rp3,250, 16% potensi kenaikan), Mayora Indah – MYOR (BUY, TP Rp2,820, 21% potensi kenaikan). Untuk sektor perbankan kami menyukai Bank Mandiri – BMRI (BUY, TP Rp8,150, 22% potensi kenaikan), dan Bank Negara Indonesia (BUY, TP Rp6,475, 22% potensi kenaikan),” pungkas Isfhan.

Sinarmas Sekuritas juga melihat potensi reversal di Telkom Indonesia (TLKM) dikarenakan valuasi sudah menyentuh level 2 st. Deviasi di bawah rata-rata P/E 5-tahun di 11.7x. Sinarmas Sekuritas merekomendasikan BUY untuk TLKM dengan TP IDR4,200 (30% potensi kenaikan). Sinarmas Sekuritas menyarankan investor agar tetap tenang dan memanfaatkan penurunan harga saham saat ini sebagai entry point dengan harga yang terdiskon. * (Syam/Wah)

Post Views95 Views
Tags: BI RatePasar ModalPasar SahamSimInvestSinar MasSuku Bunga

Related Posts

Mirae Asset: Rupiah Mulai Menguat, Tapi BI Masih Gas Pol Naikkan Suku Bunga 5,75%
Ekonomi

Mirae Asset: Rupiah Mulai Menguat, Tapi BI Masih Gas Pol Naikkan Suku Bunga 5,75%

by Wahyu
Kamis, 18 Juni 2026
16
Setelah Tertekan, IHSG Menguat Lagi. Investor Masih Perlu Waspada?
Ekonomi

Setelah Tertekan, IHSG Menguat Lagi. Investor Masih Perlu Waspada?

by Pratama
Selasa, 16 Juni 2026
20

RECOMMENDED

Liburan ke Luar Negeri Kini Makin Murah, Tiket ke Kuala Lumpur Mulai Rp288 Ribu

Liburan ke Luar Negeri Kini Makin Murah, Tiket ke Kuala Lumpur Mulai Rp288 Ribu

23 Juni 2026
8
Agoda Ungkap, Inilah Rute Penerbangan Domestik Termurah Saat Libur Tengah Tahun 2026

Agoda Ungkap, Inilah Rute Penerbangan Domestik Termurah Saat Libur Tengah Tahun 2026

23 Juni 2026
8

MOST VIEWED

  • Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    576 shares
    Share 230 Tweet 144
  • Dokter Phedy Memiliki Keahlian Menangani Berbagai Masalah Tulang Belakang

    373 shares
    Share 149 Tweet 93
  • Mengawali Tahun 2023, Sharp Luncurkan LED TV Aquos IIOTO Series Terbaru

    368 shares
    Share 147 Tweet 92
  • Dable Terbitkan ‘Digital Media Landscape 2021’, Termasuk TOP 30 Media di Indonesia

    335 shares
    Share 134 Tweet 84
  • Kementerian Agama Buka Seleksi Petugas Haji 2023, Syarat Utama Wajib Penguasaan IT

    333 shares
    Share 133 Tweet 83
MediaProfesi.id

MediaProfesi menyediakan berita aktual

CATEGORY

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Profil
  • Sosialita
  • Teknologi

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM

No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Sosialita

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM