MediaProfesi.id
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Jumat, 9 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Jumat, 9 Oktober 2026
No Result
View All Result
MediaProfesi.id
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Menyikapi Dampak Perang Iran dan Israel Terhadap Pasar di Indonesia

Wahyu by Wahyu
Kamis, 25 April 2024
in Ekonomi
Menyikapi Dampak Perang Iran dan Israel Terhadap Pasar di Indonesia
64
VIEWS

Jakarta, Media-profesi.com – Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah antara Iran dan Israel, telah memicu konflik, termasuk serangan rudal dan serangan udara. Ketidakstabilan geopolitik ini menimbulkan risiko terhadap pasar di Indonesia, yang diperburuk oleh potensi dampak kenaikan harga minyak hingga US$100 per barel, arus keluar modal, dan depresiasi Rupiah.

Hal ini menjadi bahasan pada webinar bertajuk ‘Dampak Perang Iran – Israel Terhadap Pasar di Indonesia’ yang digelar oleh Sinarmas Sekuritas (SimInvest).
Menurut Aryo Perbongso, Head Of Fixed Income Research PT Sinarmas Sekuritas (SimInvest), Pemerintah dan Bank Indonesia menghadapi dilema dalam memilih antara kebijakan Pro-Pertumbuhan dan menstabilkan biaya fiskal untuk mengelola nilai Rupiah.

“Mempertahankan BI rate di tengah tantangan-tantangan ini dapat memberikan sinyal dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi namun dapat menyebabkan peningkatan biaya fiskal. Koordinasi komprehensif antara BI dan pemerintah sangat penting untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah dan menerapkan kebijakan yang berorientasi pada pertumbuhan yang bersifat preemptive,” ujar Aryo.

“Penilaian kami, dengan melihat nilai tukar saat ini, kemungkinan besar BI rate masih dapat dipertahankan pada April 2024, mengingat siklus pembayaran dividen yang masih berjalan. Oleh karena itu, terdapat kekhawatiran bahwa kenaikan BI rate pada saat ini mungkin tidak akan memberikan efektivitas yang signifikan. Skenario yang memungkinkan bagi BI dan pemerintah untuk menstabilkan nilai Rupiah adalah dengan mempertahankan BI rate dan meningkatkan imbal hasil Surat Utang Negara (SBN). Dengan dipertahankannya BI rate berarti mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia dibandingkan dengan menaikkan suku bunga, meskipun hal ini dapat menyebabkan peningkatan biaya fiskal APBN karena imbal hasil SBN yang lebih tinggi,” pungkas Aryo.

Sementara itu, Isfhan Helmy dari Sinarmas Sekuritas (SimInvest) memprediksi dampak eskalasi konflik timur Tengah TIDAK begitu berpengaruh secara langsung terhadap bursa saham Indonesia.

“Menurut kami penurunan IHSG yang terjadi pada pembukaan perdagangan hari pertama pasca libur lebaran semata untuk memfaktorkan penurunan bursa saham AS sepanjang pekan libur lebaran,” ucap Isfhan.

“Kami melihat ini HANYA menjadi trend bearish sementara bagi IHSG, Dan justru sebaiknya merupakan peluang untuk masuk pada emiten-emiten berfundamental bagus. Kami menjagokan Indofood CBP – ICBP (BUY, TP Rp12,750, 26% potensi kenaikan,  Sumber Alfaria – AMRT (BUY, TP Rp3,250, 16% potensi kenaikan), Mayora Indah – MYOR (BUY, TP Rp2,820, 21% potensi kenaikan). Untuk sektor perbankan kami menyukai Bank Mandiri – BMRI (BUY, TP Rp8,150, 22% potensi kenaikan), dan Bank Negara Indonesia (BUY, TP Rp6,475, 22% potensi kenaikan),” pungkas Isfhan.

Sinarmas Sekuritas juga melihat potensi reversal di Telkom Indonesia (TLKM) dikarenakan valuasi sudah menyentuh level 2 st. Deviasi di bawah rata-rata P/E 5-tahun di 11.7x. Sinarmas Sekuritas merekomendasikan BUY untuk TLKM dengan TP IDR4,200 (30% potensi kenaikan). Sinarmas Sekuritas menyarankan investor agar tetap tenang dan memanfaatkan penurunan harga saham saat ini sebagai entry point dengan harga yang terdiskon. * (Syam/Wah)

Post Views148 Views
Tags: BI RatePasar ModalPasar SahamSimInvestSinar MasSuku Bunga

Related Posts

Rupiah Tembus Rp17.812, Asing Cabut dari Pasar, Keputusan BI Jadi Penentu IHSG
Ekonomi

Rupiah Tembus Rp17.812, Asing Cabut dari Pasar, Keputusan BI Jadi Penentu IHSG

by Wahyu
Senin, 21 September 2026
21
The Fed Kembali Naikkan Bunga, Pasar Indonesia Mulai Waspada: Apa Dampaknya ke Rupiah dan SUN?
Ekonomi

The Fed Kembali Naikkan Bunga, Pasar Indonesia Mulai Waspada: Apa Dampaknya ke Rupiah dan SUN?

by Wahyu
Kamis, 17 September 2026
18

RECOMMENDED

Dua Ikon Global Beradu Gengsi! Mercedes-Benz dan adidas Lahirkan Samba OG Edisi Terbatas

Dua Ikon Global Beradu Gengsi! Mercedes-Benz dan adidas Lahirkan Samba OG Edisi Terbatas

9 Oktober 2026
4
Audi Panaskan Persaingan SUV Premium, Q5 Terbaru Adu Kemewahan dan Performa di Jakarta

Audi Panaskan Persaingan SUV Premium, Q5 Terbaru Adu Kemewahan dan Performa di Jakarta

9 Oktober 2026
11

MOST VIEWED

  • Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    605 shares
    Share 242 Tweet 151
  • Dokter Phedy Memiliki Keahlian Menangani Berbagai Masalah Tulang Belakang

    406 shares
    Share 162 Tweet 102
  • Mengawali Tahun 2023, Sharp Luncurkan LED TV Aquos IIOTO Series Terbaru

    399 shares
    Share 160 Tweet 100
  • Dable Terbitkan ‘Digital Media Landscape 2021’, Termasuk TOP 30 Media di Indonesia

    369 shares
    Share 148 Tweet 92
  • Kementerian Agama Buka Seleksi Petugas Haji 2023, Syarat Utama Wajib Penguasaan IT

    366 shares
    Share 146 Tweet 92
MediaProfesi.id

MediaProfesi menyediakan berita aktual

CATEGORY

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Profil
  • Sosialita
  • Teknologi
  • Contact
  • Media Partner

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM

No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Sosialita

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM