MediaProfesi.id
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Senin, 14 September 2026
No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Senin, 14 September 2026
No Result
View All Result
MediaProfesi.id
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup

Australia VS Indonesia: Tumbangkan ‘Madu Manis’ Oceania

Pratama by Pratama
Sabtu, 7 September 2024
in Gaya Hidup
Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

103
VIEWS

Penulis: Sabpri Piliang – Wartawan Senior

Jakarta, Media-profesi.com – Hampir saja saya berpindah warganegara. Dari Indonesia, ke Australia (naturalisasi). Tahun 1991, seorang sahabat ‘journalist’ korensponden “EDITOR Magazine” di Brisbane (Queensland). Menawari, untuk tinggal menetap dan bekerja di sebuah rumah sakit, di Australia. Tentu tawaran menarik! Mengubah nasib.

Mengisi formulir, dan melengkapinya dengan dokumen-dokumen. Sebelum ‘fixed’ menetap di Benua Kanguru ini. Kira-kira, prosesnya mirip dengan naturalisasi  dua pemain ‘grade A’ Liga Utama Belanda FC Tweente Mees Hilgers, dan Eliano Reijnders Lekatompessy (PEC Zwolle), yang kini tengah berjalan..ha..ha..ha

Tahukah! Perpindahan (migrasi) dari satu negara ke negara lain, untuk bisa lebih  baik. Bukan hanya dilakukan oleh “benda hidup”, seperti yang dilakukan oleh saya, atau Mees Hilgers dan Eliano Reijnders.

Benda ‘mati’, atau federasi sepak bola, pun juga melakukan migrasi.  Federasi Sepak bola Australia yang sesungguhnya berada dalam Oceania Football Confederation (OFC), sejak 1 Januari 2006. Resmi menjadi anggota ke-46 Asian Football Confederation (AFC).

Perpindahan yang dilakukan Australia, karena perlakuan “tidak adil” jatah Piala Dunia. Terhadap konfederasi Tim berjuluk ‘The Socceroos’ bernaung. OFC adalah, satu dari enam konfederasi yang berada di bawah Federasi Sepak bola dunia (FIFA).

OFC hanya mendapat jatah setengah (0,5) ‘kursi’, meminjam terminologi untuk keterwakilan di parlemen. Arti 0,5? Setiap juara Kualifikasi zona Oceania, tidak otomatis lolos ke Piala Dunia.

Mereka harus melakukan “play off”, atau berebut tiket terakhir dengan tim rangking lima zona Amerika Selatan, atau terkadang dengan zona lainnya.

Tahun 1986, Australia gagal di “play off”, setelah kalah 0-2 di ‘leg pertama’ dan ‘draw’ 0-0 oleh Skotlandia, di leg ke-2. Dengan agregat 0-2, Australia mengubur mimpi. Kegagalan berlanjut di 1994. Kali ini, Australia disungkurkan Argentina dengan agregat total 0-1 (draw 0-0 leg pertama, dan kalah 0-1 di leg 2).

Sabpri Piliang - Wartawan Senior
Sabpri Piliang – Wartawan Senior

Mimpi Australia untuk tampil mewakili zona Oceania kandas lagi untuk ketigakalinya (1998). Bertanding dalam “play off”, Australia ‘terbanting’ oleh Iran. Sekalipun agregat sama kuat 3-3, namun Australia hanya memasukkan 1 gol untuk ‘draw’ 1-1 (tuan rumah/leg 1), dan kemasukkan 2 gol untuk ‘draw’ 2-2 saat melakukan tandang (leg 2 di Iran). Walau ‘equal’, Iran lebih produktif di kandang. Iran lolos.

Lagi-lagi, kandas di tahun 2002. Menang 1-0 leg satu di Melbourne (Australia), sayangnya dibantai 0-3 saat bertandang ke markas Uruguay di Montevideo. Agregat 1-3, membuat Australia frustrasi.

Sebagai Timnas terkuat di zona Oceania, di samping: New Zealand, Fiji, New Kaledonia, Fiji, Guam, Tonga, Samoa, dan negara kecil di Pasifik lain, Australia merasa tidak nyaman dengan regulasi itu. FIFA dianggap memandang “sebelah mata”, terhadap kemajuan Sepak bola di Oceania (OCF).

Sinar terang Australia, setelah bergabung dengan konfederasi Sepak bola Asia (AFC), pun gemerlap (2006). Lolos di lima kesempatan berurutan “World Cup” (Piala Dunia); 2006 (Jerman), 2010 (Afrika Selatan), 2014 (Brasil), 2018 (Rusia), dan 2022 (Qatar), Australia terasa perkasa dan ‘nyaman’ berada di rumah baru, ‘rumah Asia’. Rumah Oceania terasa ‘sunyi’, dan selamat tinggal selamanya.

Walau sesungguhnya, ‘madu’ manis Oceania pernah dirasakan, saat Australia lolos Piala Dunia 1974 (Jerman Barat). Namun, Australia melihat pertumbuhan Sepak bola Asia, serta jatah Asia yang lebih banyak, menjadikannya migrasi ke Asia.

Australia memang bertekad menciptakan dua ‘hattrick”, atau lebih kurun berada di zona Asia. Setelah lima kali berturut-turut lolos ke Piala Dunia bersama AFC, asuhan ‘coach’ Graham Arnold ini, ingin ikut di kali ke-6 (Piala Dunia 2026).  Dua terbaik dari Group C yang juga terdapat Indonesia. Australia berharap lolos langsung.

Sayangnya, gol Abdulla Alkhalisi (Bahrain) di menit ke-89, membuat Aidem O’Neill-Craig Goodwin dkk (Australia) harus tersungkur di leg pertama Group C, 0-1, di Robina Stadium, Gold Coast (Queensland).

Bahrain yang bermain di kandang tuan rumah Australia, sangat solid, jatuh dan bangun bertahan dari eksplosifitas serangan Australia.  Gempuran bertubi-tubi Australia, mampu dimentahkan oleh penjaga gawang Ebrahim Lutfalla (Bahrain) dengan permainan ‘ciamiknya’.

Bahrain (rangking 80 FIFA) sadar betul dengan kekuatan lini serang rangking 24 dunia (Australia). Lini Pertahanan Bahrain yang dikoordinir Amine Benaddi dan Sayed Baqer, mampu mementahkan lini serang Australia, dengan motor Martin Boyle dan Craig Goodwin.

Kini tentunya. Giliran Indonesia yang ingin memetik angka penuh, dengan  mengalahkan Australia. Selasa (10 September) lusa di Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Jay Idzes dkk akan menjajal Australia di leg pertama Kualifikasi Piala Dunia Group C.

Menahan draw 1-1 langganan enam kali (sejak 1994) kepesertaan di Piala Dunia (Arab Saudi), adalah salah satu modal Indonesia untuk mengalahkan Australia. Terlebih, lini pertahanan dengan Komando pemain Serie A Italia Jay Idzes (Venezia), bisa meniru cara Bahrain mempermalukan Australia.

Modal lain yang dipunyai anak-anak Garuda adalah, pernah mengalahkan Timnas U-23 Australia (1-0) di Piala Asia (Qatar) April lalu.  Cara Bahrain menumbangkan timnas yang terletak di sebelah Selatan Indonesia ini, bisa dilakukan. Terlebih, hampir 90 persen ‘line up’ Timnas U-23, adalah anggota timnas senior saat ini.

Pelatih Kepala Timnas Indonesia Shin Tae Yong, dan pelatih  ‘striker’ Yeom Ki-hun, tentu sudah mempelajari video ‘match’ Bahrain vs Australia (6/9) lalu. Yang terpenting, hindari bermain egois yang membuat peluang matang untuk gol, menjadi gagal.

Raffael Struick yang pandai mencari posisi, Ragnar Oratmangoen yang piawai mengobrak-abrik lini pertahanan lawan. Serta kemampuan Thom Haye dan Ivar Jenner memberi umpan “manja” kepada striker, tidak boleh terbuang percuma.

Sementara peran Nathan Tjoa-A-On, yang punya kemampuan bermain satu-dua dengan Witan Sulaeman, akan menjadikan serangan Indonesia ke gawang Australia lebih terstruktur.

Para pemain Indonesia diibaratkan, seperti orang yang sedang mengukur sebuah ruang, dalam pelajaran ‘trigonometri’, stereometri, dan geometri. Gol yang nanti diciptakan, akan berasal dari satu proses serangan yang rapi. Layaknya orang yang tengah menggambar.

Saya yakin, kemenangan atas Australia, Selasa depan, akan memberi kepastian Timnas Indonesia, setidaknya berada di posisi tiga atau empat Group C. Sebagai syarat untuk bisa ikut dalam enam Tim di putaran ke-4.

Apalagi, dalam dua pertandingan di bulan Oktober mendatang, Indonesia melawan Bahrain (10 Oktober) dan China (15 Oktober), dua naturalisasi baru: Mees Hilgers dan Eliano Reijnders sudah bisa dimainkan.

Teringat kata bijak zaman Dinasti Tang di Tiongkok (618-903 M). “Lautan teramat luas, dan ikan-ikan berlompatan”. Kinilah saat Timnas Indonesia terbang dan melompat, tidak lagi ‘inferior’ seperti masa lalu. Masa, di mana pesimistis menjadi pakaian badan.

Indonesia Pasti bisa mengalahkan Australia. * (Syam/Pra) – Foto: Istimewa

Post Views130 Views
Tags: AustraliaFIFAPiala DuniaPSSITimnas Indonesia

Related Posts

Valvoline Jadi Pendukung Resmi Piala Dunia 2026, Soroti Peran Penting Mekanik di Balik Setiap Perjalanan
Gaya Hidup

Valvoline Jadi Pendukung Resmi Piala Dunia 2026, Soroti Peran Penting Mekanik di Balik Setiap Perjalanan

by Wahyu
Jumat, 17 Juli 2026
13
Manfaatkan Demam Sepak Bola, Chery Sulap Diler Jadi Tempat Nobar dan Kumpul Keluarga
Gaya Hidup

Manfaatkan Demam Sepak Bola, Chery Sulap Diler Jadi Tempat Nobar dan Kumpul Keluarga

by Pratama
Senin, 6 Juli 2026
23

RECOMMENDED

Waspada Keuangan Ilegal! FIFGROUP Bersama Astra Financial Perkuat Literasi hingga ke Guru dan Pelajar

Waspada Keuangan Ilegal! FIFGROUP Bersama Astra Financial Perkuat Literasi hingga ke Guru dan Pelajar

14 September 2026
17
Merasa Sehat Belum Tentu Aman, Hipertensi Diam-Diam Bisa Berujung Stroke

Merasa Sehat Belum Tentu Aman, Hipertensi Diam-Diam Bisa Berujung Stroke

14 September 2026
15

MOST VIEWED

  • Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    599 shares
    Share 240 Tweet 150
  • Dokter Phedy Memiliki Keahlian Menangani Berbagai Masalah Tulang Belakang

    399 shares
    Share 160 Tweet 100
  • Mengawali Tahun 2023, Sharp Luncurkan LED TV Aquos IIOTO Series Terbaru

    392 shares
    Share 157 Tweet 98
  • Dable Terbitkan ‘Digital Media Landscape 2021’, Termasuk TOP 30 Media di Indonesia

    362 shares
    Share 145 Tweet 91
  • Kementerian Agama Buka Seleksi Petugas Haji 2023, Syarat Utama Wajib Penguasaan IT

    359 shares
    Share 144 Tweet 90
MediaProfesi.id

MediaProfesi menyediakan berita aktual

CATEGORY

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Profil
  • Sosialita
  • Teknologi
  • Contact
  • Media Partner

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM

No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Sosialita

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM