MediaProfesi.id
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Jumat, 12 Juni 2026
No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Jumat, 12 Juni 2026
No Result
View All Result
MediaProfesi.id
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup

KONVENSIONAL BUNTU: “Lateral Thinking” ke Piala Dunia

Syamhudi by Syamhudi
Minggu, 24 November 2024
in Gaya Hidup
KONVENSIONAL BUNTU: “Lateral Thinking” ke Piala Dunia

Foto: Istimewa

62
VIEWS

Penulis: Sabpri Piliang – Wartawan Senior

Jakarta, Media-profesi.com – PERUSAHAAN otomotif Amerika Serikst (AS), Ford Motor Company (FMC), pernah gundah gulana. Kalah menonjol di Pasar Internasional oleh: Toyota, Honda, Daihatsu. Market Ford tidak semegah mobil Jepang.

Pasar otomotif yang kompetitif, tidak membuat Ford tumbuh inklusif. Tidak mendorong antusiasme ‘buyers’ untuk membeli, saat ditampilkan keluaran dan fitur baru yang modis. Mengapa?

Ford pun menemui filsuf Edward de Bono yang sangat terkenal. Pertanyaan? “Bagaimana caranya agar Ford lebih kompetitif dan populer di pasaran”.

Foto: Istimewa

Tinggalkan cara-cara konvensional dan vertikal. Gunakan pola ‘lateral’ (horisontal) untuk  memberi kejutan-kejutan yang tidak lazim di tengah masyarakat.

Dalam buku “Lateral Thinking: For Everyday” karya Paul Sloane, de Bono memberi advis pada Ford, gunakan ide yang tidak biasa. Psikolog Kelahiran Malta (Eropa) ini meminta Ford membeli perusahaan parkir mobil yang besar.

Belum selesai di situ. Ide paling ‘ekstrim’, de Bono menyarankan Ford, untuk membangun sarana parkir di tengah kota. Di mana, tempat parkir itu hanya boleh “dihuni” oleh mobil-mobill bermerek Ford. Merek lain “no way”.

Sabpri Piliang – Wartawan Senior

Kutub de Bono dan kutub Ford tentu memiliki stratifikasi yang jauh berbeda. Ford tidak berpikir sejauh itu. “Angle” de Bono terlalu radikal, sementara “angle” Ford lebih konvensional lewat sudut pandang marketing.

“Conventional Thinking”, cara berpikir yang didasarkan pada kesepakatan bersama, adat, dan budaya yang berlaku lazim. Tempat parkir tidak perlu hanya untuk merek mobil tertentu, yang terpenting mampu membayar.

Ibarat membuka sebuah restoran (rumah makan), linear dengan pemikiran Ford. Membutuhkan “nafas panjang”, untuk mendapatkan penjualan dan popularitas.

Foto: Istimewa

Mengadopsi pemikiran de Bono, gratiskan makan siang  selama tiga bulan. Maka, setelah restoran itu populer, baru berbayar. Ini berpikir lateral. Pasti berdampak, seperti halnya sarannya kepada Ford soal parkir tadi.

Dalam kekinian Indonesia, “Lateral Thinking”, telah dilakukan di dunia sepak bola Nasional. Puluhan pemain “abroad”, pemain keturunan telah dinaturalisasi. Hasilnya sudah nampak menggembirakan.

Apa yang dilakukan Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) ini, merupakan “Lateral Thinking”.

Saya teringat satu kaum di India kuno yang kedudukannya lebih rendah dari Kasta Sudra, yaitu kaum Paria. Hanya memberi komparasi, betapa Timnas kita pernah sangat diremehkan oleh negara Asia Tenggara lain dalam hal sepak bola.

Berada di rangking 173 (tahun 2019), Timnas Indonesia dianggap sebelah mata oleh Timnas: Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan bahkan Laos-Kamboja mulai menyusul.

Foto: Istimewa

Kita berterima kasih kepada Pengurus PSSI yang mengambil pemikiran “Lateral”, solusi yang tidak biasa. Solusi untuk membuka kreativitas, inovasi dan mengatasi segala pernik pembinaan sepak bola Nasional. Yang tak berkesudahan untuk kurun panjang.

Menahan imbang tim-tim langganan Piala Dunia: Australia dan Arab Saudi di ‘leg’ pertama, lalu menjungkalkan rangking 59 FIFA (Arab Saudi) 2-0 di ‘leg’ ke-2, merupakan hasil kerja dari pemikiran “Lateral” PSSI. Hausnya rakyat akan prestasi, sangat terobati saat ini.

Tidak perlu merasa risih, menyangkut mayoritas pemain Timnas Indonesia saat ini, kok ‘bule’ semua. Historis pemain naturalisasi Indonesia secara ‘curiculum vitae’, sangat jelas. Ada Indonesianya, separuh, seperempat, atau seperdelapan. Berapa pun!

Di antara mereka, seperti Calvin Verdonk (Meulaboh/Aceh), Ivar Jenner (Jawa Timur), Mees Hilgers (Sulawesi Utara), Ragnar Oratmangoen (Tanimbar/Maluku), Jordi Amat (Sulawesi Selatan), Raffael Struick & Sandy Walsh (Jawa Tengah), Marteen Paes, dll.

Setiap negara, punya cara untuk mengubah kultur sepak Bola-nya. Dari ‘paria’ ke kasta yang lebih tinggi. Jepang yang pernah menjadi ‘paria, sebelum tahun 1985, terbangun. Japan Football Association (JFA) mendatangkan bintang Brasil Zico untuk berkompetisi di liga Jepang.

Foto: Istimewa

Hasilnya, 13 tahun kemudian. Tepatnya 1998, “Samurai Biru” lolos ke Piala Dunia di Perancis untuk pertama kali. Arab Saudi juga punya cara pula. Mereka datangkan ikon sepakbola dunia dari Portugal untuk bergabung di Klub Al Nassr (Rp 260 milyar), dan banyak lagi.

Berpikir lateral (Lateral Thinking), adalah salah satu jalan pintas untuk memecah stagnasi prestasi. Berpikir konvensional, namun tak ada kemajuan. Maka ubahlah sesegera mungkin.

Kampanye marketing negara bagian New South Wales (Australia), sukses. Setelah mengadopsi “Lateral Thinking”. Kegemaran membawa kendaraan ngebut, berkurang. Setelah iklan  wanita mengibaskan “jari kelingking” pada kendaraan yang ngebut.

Survei menyebut, 60 persen lelaki muda, merubah perilaku ngebutnya. Setelah menonton iklan yang “menghina” kaum lelaki itu.

“Lateral Thinking” adalah mencari solusi, lewat cara yang tak biasa: industri otomotif, sepak bola, dan perilaku, bisa diubah dengan cara itu. * (Syam) – Foto: Istimewa

Post Views129 Views
Tags: AFC ChampionshipFIFAPemain NaturalisasiPiala DuniaPSSISepakbolaTimnas Indonesia

Related Posts

Nonton FIFA World Cup 2026™ di Los Angeles, Ini Dia Kejutan Hyundai untuk Pelanggannya
Gaya Hidup

Nonton FIFA World Cup 2026™ di Los Angeles, Ini Dia Kejutan Hyundai untuk Pelanggannya

by Wahyu
Kamis, 14 Mei 2026
13
Extrajoss Resmi Menjadi Sponsor Borneo FC untuk Musim 2026
Gaya Hidup

Extrajoss Resmi Menjadi Sponsor Borneo FC untuk Musim 2026

by Pratama
Senin, 2 Februari 2026
21

RECOMMENDED

Bisnis Laundry Makin Menjanjikan, Ini Rahasia Agar Cepat Untung dan Mudah Berkembang

Bisnis Laundry Makin Menjanjikan, Ini Rahasia Agar Cepat Untung dan Mudah Berkembang

12 Juni 2026
9
Acer Bikin Geger Computex 2026, Laptop Gaming AI dan Handheld Unik Ini Jadi Sorotan

Acer Bikin Geger Computex 2026, Laptop Gaming AI dan Handheld Unik Ini Jadi Sorotan

12 Juni 2026
13

MOST VIEWED

  • Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    574 shares
    Share 230 Tweet 144
  • Dokter Phedy Memiliki Keahlian Menangani Berbagai Masalah Tulang Belakang

    370 shares
    Share 148 Tweet 93
  • Mengawali Tahun 2023, Sharp Luncurkan LED TV Aquos IIOTO Series Terbaru

    365 shares
    Share 146 Tweet 91
  • Dable Terbitkan ‘Digital Media Landscape 2021’, Termasuk TOP 30 Media di Indonesia

    332 shares
    Share 133 Tweet 83
  • Kementerian Agama Buka Seleksi Petugas Haji 2023, Syarat Utama Wajib Penguasaan IT

    330 shares
    Share 132 Tweet 83
MediaProfesi.id

MediaProfesi menyediakan berita aktual

CATEGORY

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Profil
  • Sosialita
  • Teknologi

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM

No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Sosialita

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM