Jakarta, Mediaprofesi.id – Indonesia Marketing Association (IMA) berpartisipasi sebagai association partner pada Intrigue MAdVerse Summit Jakarta 2025 yang digelar pada 21 Agustus 2025 di Sunlake Hotel, Jakarta.
Ajang ini diselenggarakan oleh Salesgasm, penyelenggara konferensi pemasaran berskala global yang konsisten menghadirkan Marketing Summit di berbagai negara setiap tahun.
Intrigue MAdVerse Summit mempertemukan praktisi pemasaran dan teknologi untuk memperluas networking, menyerap wawasan terbaru, dan merumuskan strategi agar tetap terdepan di lanskap martech yang terus berkembang.

Sebagai association partner, IMA memfasilitasi 16 anggotanya mengikuti rangkaian sesi, keynote, dan forum networking di MAdVerse. Kolaborasi ini selaras dengan agenda IMA untuk aktif menjalin kerja sama lintas asosiasi dan acara guna memperluas networking yang bukan hanya antar anggota, namun juga dengan para praktisi pemasaran dari beragam industri.
Dalam sesi “Generative AI in Marketing—Innovation Beyond Automation”, Dr. Ahmad Fairu Zabadi, MM, CPM (Asia) mewakili IMA sebagai pembicara. Ia menyoroti pesatnya adopsi AI yang membuat kerja pemasaran lebih cepat, kreatif, dan hemat biaya.
“Baru-baru ini bahkan muncul film layar lebar bertema Pangeran Diponegoro yang sepenuhnya dibuat dengan AI, biaya produksi sekitar Rp200 juta dan diselesaikan dalam satu bulan. Disrupsi seperti ini membuat produksi konten dan iklan jauh lebih efisien,” ujar Fairu.

Fairu juga menekankan strategi glocalization (konten global yang diadaptasi secara lokal) dan localization (penyesuaian penuh dengan pasar setempat) agar konten berbasis AI relevan secara budaya dan keterlibatan audiens semakin kuat.
Dari sisi regulasi, Fairu berharap agar kedepannya Indonesia bisa mengadopsi prinsip-prinsip GDPR (Gross Data Protection Regulation) dalam perlindungan data serta mendorong pelabelan “AI” pada materi iklan komersial berbasis AI demi melindungi konsumen, mengingat tingkat literasi digital publik yang beragam.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Hermawan Kartajaya, Bapak Marketing Indonesia, yang mengatakan AI adalah alat yang dapat dimanfaatkan, namun tetap membutuhkan sentuhan manusia, khususnya dalam kreativitas dan kepemimpinan. * (Syam/Wah)





