Penulis: Sabpri Piliang – Wartawan Senior
Jakarta, Mediaprofesi.id – “Puzzle” itu! Menjadi satu “tekstur” porselen, yang asyik dipandang. Bagi Malaysia, mungkin ini tim “aneh”!
Serasa seperti “alien” dari planet “Uranus”! Tak seperti Andi Lala, Ronny Paslah, dan Yuswardi! Atau pesohor serumpun Malaysia: Mokhtar Dahari, Abdah Alif, Soh Chin Aun. “Endemik” Asia.
Gagasan dan “mimpi” merayap ke lorong “World Cup” 2026. Mendorong Indonesia “berburu” talenta! Separuh “endemik”, dan diaspora yang terserak.
Pijakan menemukan “alien”, tak boleh asal! Kehebohan, saat Malaysia memperoleh talenta Argentina dan Brasil. Ambigu dan ‘A-historis’. Indonesia-Belanda, ‘historis’.
“Belanda Depok”, Belanda Medan, Belanda Ambon, Belanda Semarang, Belanda Surabaya. Semua pemain liga Belanda itu, dalam naungan KNVB.

“Puzzle” semakin lengkap. Apa yang diperlihatkan dua ‘striker’, “si Belanda Depok”, Miliano Jonathans (Eredivisie Utrecht) dan Mauro Zijlsra (Eredivisie Volendam). Melengkapi “kekayaan” “alien” terdahulu di sektor pertahanan.
Ada Kevin Diks, pemain Borrusia Monchengladbach (Bundeslige), Jay Idzes dari Sassuollo (Serie A), dan Justin Hubner, merupakan modal kuat, menghadapi Arab Saudi dan Irak (Oktober mendatang).
Pula, pemain bertahan bertalenta lain: Calvin Verdonk, Sandy Walsh, Shayne Pattynama, Jordy Amat, Rizky Ridho, Dean James, Yance Sayuri. Menjadikan, lengkap sudah “puzzle” lolos ke Piala Dunia.
Masuknya Jonathans dan Zijlstra. Terlebih, menyaksikan penampilan perdana mereka (lawan Taiwan, Jumat 5/9). Kita tidak pesimistis untuk mengukir sejarah, lolos ke Piala Dunia 2026 (AS, Kanada, Meksiko).
“Striker” murni Zijlstra dan Jonathans. Akan melengkapi penyerang Ragnar Oratmangoen, dan “si lincah” Ole Romeny, dalam “finishing touch”. Akurasi keduanya mencipta gol, mumpuni!
Sepak bola adalah, ‘bagaimana mencipta gol’! Kekuatan gelandang (lini tengah) diaspora: Joey Pelupessy, Thom Haye, Eliano Reinjders, Nathan Tjoe-A-On, akan mampu mendistribusi bola pada trio: Zijlstra-Jonathans, Romeny, atau Oratmangoen.
Catatan untuk gelandang Marselino Ferdinand! Pemain bertalenta tinggi ini, harus lebih ‘care’ terhadap peluang diagonal dan ruang mencipta gol bagi rekannya yang lain. Oper bola!
Kekayaan gelandang Indonesia lainnya, dengan kemampuan baik dan sejajar. Memudahkan ‘coach’ Patrick Kluivert melakukan rotasi. Ada Ricky Kambuaya, Yakob Sayuri, Mark Kloc, dan Beckham Putra.

FUTEBOL ARTE
Sepak bola adalah “futebol arte”! Seni! Brasil menerapkan “futebol arte”. Indonesia, dengan masuknya Mauro Zijlstra dan Miliano Jonathans, tentu ingin ‘futebol arte’ (sepak bola cantik).
Melawan Arab Saudi dan Irak, di putaran 4 Pra Piala Dunia (Oktober), tidak hanya sekadar bermain bagus. Bermain cantik ‘futebol arte’, tanpa gol, akan mengalami kekalahan dan kehabisan tenaga.
Apa yang terjadi pada skuad terbaik Brasil sepanjang masa (1982): Zico, Socrates, Falcao, Dirceu, Leandro, Renato, Toninho, Juninho, Luisinho, adalah pelajaran. Mereka gagal, juara dunia ’82 (di Spanyol), disebabkan hanya bermain cantik.
Karena itu, skuad terbaik saja belum cukup! “Futebol arte” saja belum cukup! Tim asuhan Kluivert-Pastore, harus bermain efisien, kreatif, minimalkan pelanggaran, jangan egois mencipta gol, lihat posisi teman.
Uji coba versus rangking 112 FIFA Lebanon (malam ini, Senin 8/9/2025), menjadi tonggak bagi Kluivert. Untuk menyusun tim 45 menit babak pertama. Kecepatan unggul lebih dahulu, menjadi “penenang” memenangkan laga 45 menit berikutnya.
Mauro Zijlstra, Miliano Jonathans, Ole Romeny! Kita tak ragu. Namun, jangan hanyut oleh permainan bagus, ‘futebol arte’. Tapi gol tak tercipta. Lebanon, bisa menjadi representasi persiapan melawan Arab Saudi dan Irak.
“Futebal Arte, boleh! Tapi, sepak bola adalah, bagaimana gol bisa tercipta. Apalagi “puzzle”nya sudah tersusun rapi. * (Syam/Pra) – Foto: Istimewa





