Solo, Mediaprofesi.id – Salah satu pelaku industri mebel naaional yang notabene anggota HIMKI (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia), yaitu PT Blotan Indonesia terpanggil hati sanubarinya memikirkan kebutuhan produk furnitur yang adaptif dan aman bagi penyandang disabilitas.
Tentunya, untuk menghasilkan produk furnitur yang sesuai kebutuhan penyandang disabilitas tersebut tentu diperlukan suatu inovasi .
Terkait inovasi produk furnitur bagi penyandang disabilitas ini, PT Blotan Indonesia pun bersama Universitas Sebelas Maret (UNS) resmi memperkuat kolaborasi untuk mengembangkan inovasi furnitur inklusif yang dirancang khusus guna memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas.
Kerja sama ini mencakup riset, pengembangan desain, hingga uji coba teknologi material yang lebih adaptif dan aman digunakan di lingkungan kerja maupun rumah.
Kesadaran PT Blotan dan UNS menjalin klobarasi itu terinspirasi momentum Hari Disabilitas Indonesia yang berlangsung kemarin. Direktur Utama PT Blotan Indonesia dan Wakil Ketua Umum HIMKI Bidang Organisasi dan Hubungan Antar Lembaga, Heru Prasetyo mengemukakan, kolaborasi kerjasama ini lahir dari kesadaran Bersama, bahwa inklusivitas tidak hanya menjadi isu sosial, tetapi juga fondasi penting dalam membangun industri furnitur modern yang kompetitif dan berkelanjutan.
”Untuk itu PT Blotan Indonesia sebagai salah satu pelaku industri manufaktur furnitur nasional melihat perlunya akselerasi inovasi melalui dukungan akademik, riset ilmiah, serta pendekatan desain berbasis pengguna,” ujar Heru Prasetyo dalam keterangan persnya yang diterima redaksi Mediaprofesi.id (8/12/2025).
Kemitraan PT Blotan Indonesia dengan UNS, tegas Heru merupakan langkah konkrit untuk menciptakan produk furnitur yang lebih responsif dan ramah bagi penyandang disabilitas. Menurutnya, inovasi yang berdampak harus lahir dari pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pengguna.
“Kolaborasi ini bukan hanya soal produk, tetapi tentang menghadirkan solusi yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. UNS memiliki basis riset yang kuat, dan kami membawa pengalaman industri. Ketika dua kekuatan ini bersatu, kita dapat menghasilkan furnitur yang tidak hanya indah, tetapi juga inklusif dan fungsional,” ujar Heru.

Dalam program ini, tim riset UNS melakukan studi etnografi dan ergonomi terhadap berbagai kelompok disabilitas untuk memahami tantangan nyata yang mereka hadapi dalam penggunaan furnitur sehari-hari. Hasil riset tersebut akan menjadi dasar dalam merancang prototipe furnitur inklusif yang kemudian diproduksi dan diuji oleh PT Blotan Indonesia.
Selain pengembangan produk, kerja sama ini juga mencakup pelatihan bersama bagi mahasiswa dan tenaga ahli Blotan untuk memperkuat pemahaman mengenai desain universal, teknologi material ramah disabilitas, dan proses manufaktur yang lebih berorientasi pada keselamatan pengguna. Kegiatan ini diharapkan melahirkan generasi desainer dan insinyur yang lebih peka terhadap kebutuhan inklusif.
Heru menambahkan, HIMKI mendukung penuh inisiatif kolaboratif sebagai bagian dari transformasi besar industri furnitur Indonesia. Dengan mendorong riset akademik dan industri berjalan seiring, Heru percaya Indonesia mampu menciptakan inovasi yang bernilai, sekaligus membuka peluang kerja bagi penyandang disabilitas di sektor manufaktur.
“Kami ingin menjadi negara yang tidak hanya mampu memproduksi furnitur untuk dunia, tetapi juga mampu memimpin dalam desain inklusif. Di sinilah kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi sangat penting,” tegas Heru.
Pada kesempatan yang sama, PT Blotan Indonesia dan UNS juga merencanakan pembangunan laboratorium mini untuk uji material dan desain inklusif yang bisa dimanfaatkan mahasiswa, peneliti, serta industri mitra. Laboratorium ini diharapkan menjadi pusat inovasi baru yang memadukan ilmu, keberlanjutan, dan nilai kemanusiaan.
Melalui kolaborasi ini, kedua institusi berharap dapat membawa perubahan nyata bagi penyandang disabilitas, sekaligus mengangkat standar baru dalam industri furnitur nasional. Inisiatif ini tidak hanya menjadi kontribusi terhadap peringatan Hari Disabilitas Indonesia, tetapi juga bagian dari komitmen jangka panjang untuk mewujudkan masa depan industri yang lebih manusiawi dan inklusif. * (Syam/Lili)





