Penulis: Martha Margaretha – Analis Market Global
Jakarta, Mediaprofesi.id – Analis Market Global, Martha Margaretha menyampaikan pergerakan market di lantai bursa Amerika sepanjang tahun 2025.
Pasar Saham Tetap Naik Meski Volatil
Tahun 2025 menjadi tahun yang penuh warna di Wall Street. Indeks S&P 500 & Nasdaq tetap mencatat kenaikan tahunan yang solid meski ada putaran turun sesaat jelang akhir tahun. Sedangkan S&P 500 naik sekitar 15-17 % YtD. Disisi lain Nasdaq juga menutup tahun dengan penguatan meski sentimen terhadap saham teknologi sempat meredup di kuartal terakhir.
Fluktuasi & Risiko Politik-Kebijakan
Kebijakan tarif perdagangan yang lebih agresif & ketidakpastian politik memicu volatilitas pasar sepanjang 2025.
Bank besar sempat menyatakan kemungkinan resesi dengan risiko sekitar 40 % pada akhir tahun akibat tarif tinggi & tekanan inflasi.
Catatan sejarah bahkan memasukkan 2025 sebagai tahun dengan crash pasar saham signifikan di awal April, akibat pengumuman tarif baru yang memicu penurunan tajam indeks sebelum kemudian kembali pulih.
Suku Bunga & Kebijakan Moneter
The Fed memulai rangkaian rate cuts pada 2025, salah satunya pada September, namun sinyal kebijakan untuk 2026 tetap hati-hati. Ini berdampak pada yield obligasi AS & memberikan momentum risk-on bagi aset ekuitas.
Dolar AS Melemah
Dolar mencatat penurunan tahunan terbesar dalam hampir satu dekade, terutama akibat kebijakan perdagangan dan penurunan suku bunga Fed. Pergerakan ini berdampak pada arus modal global & imbal hasil berbagai kelas aset.
Tema Utama: AI dan Rotasi Sektor
AI tetap menjadi narasi dominan pasar sepanjang 2025, dengan beberapa nama tak terduga seperti Western Digital dan Seagate menjadi pemenang besar di sektor ini.
Namun, ada sinyal bahwa saham teknologi besar mungkin kehilangan sedikit momentum dibandingkan sektor lain.
Komoditas & Aset Safe Haven
Emas dan perak menjadi sorotan karena reli kuat, sementara minyak mengalami penurunan harga tahunan yang signifikan di pasar energi global.
Kesimpulan 2025:
Pasar saham AS menguat secara umum, tapi dalam bayang-bayang risiko kebijakan, perubahan siklus suku bunga, dan pergeseran sentimen sektor dari ‘tech only’ ke pendekatan lebih luas. * (Syam/Pra)





