Jakarta, Mediaprofesi.id – Risiko politik dan geopolitik AS meningkat tajam setelah Washington memberlakukan tarif 25% secara langsung terhadap negara-negara yang berdagang dengan Iran.
“Langkah ini mendorong Teheran mengancam akan melakukan pembalasan terhadap pangkalan militer, kapal, dan personel AS di kawasan tersebut, sementara efek rambatannya juga berpotensi memperdalam ketegangan AS–China mengingat peran China sebagai salah satu mitra dagang utama Iran,” ujar Jessica Tasijawa, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam keterangan resminya kepada redaksi Mediaprofesi.id hari ini (13/1) di jakarta.
Di dalam negeri AS, sentimen risiko semakin memburuk setelah jaksa federal membuka penyelidikan pidana terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, yang secara luas dipandang bermuatan politik di tengah kemarahan Presiden Trump atas penolakan The Fed untuk memangkas suku bunga—menimbulkan pertanyaan serius mengenai independensi bank sentral.
Pasar mulai merepricing ketidakpastian ini, tercermin dari lonjakan imbal hasil UST 10Y ke 4,2%—tertinggi sejak Agustus 2025—meskipun FFR masih rendah di 3,75%. Ini mencerminkan kenaikan term premium dan erosi kredibilitas kebijakan moneter, dengan baseline kami tetap mengarah pada pemangkasan suku bunga berikutnya pada April 2026.
Menurut Jessica, permintaan aset safe haven melonjak, mendorong harga emas mencetak rekor baru di USD 4.600 per troy ounce, seiring investor melakukan lindung nilai terhadap eskalasi geopolitik, risiko institusional, dan volatilitas yang berkepanjangan.
Eskalasi risiko geopolitik semakin tercermin pada pasar valas global, dengan pelemahan mata uang yang meluas, termasuk Rupiah yang terdepresiasi 0,8% MTD ke IDR16.833 kemarin.
Sejalan dengan kenaikan UST 10Y, imbal hasil SUN tenor 10 tahun Indonesia naik ke 6,18%, melanjutkan tren kenaikan bertahap sejak awal tahun, dengan spread terhadap UST tetap di atas 200 bps. Namun, CDS 5 tahun Indonesia tetap rendah di kisaran 70-an, menandakan kepercayaan investor terhadap fundamental domestik yang terus membaik, meskipun investor beralih ke tenor yang lebih pendek di tengah ketidakpastian global yang tinggi.
Pergeseran ini terlihat dari arus modal, dengan net inflow di pasar saham sebesar IDR1,8 triliun dan SRBI sebesar IDR1,0 triliun, yang sebagian diimbangi oleh outflow IDR1,4 triliun dari SBN.
Preferensi kuat terhadap aset berdurasi pendek juga tercermin dari tingginya permintaan pada lelang SRBI Jumat lalu, dengan incoming bids melonjak ke IDR60 triliun, mendorong tingkat SRBI turun ke 4,72% setelah BI hanya menerbitkan IDR8 triliun.
“Secara keseluruhan, kami tetap merekomendasikan instrumen tenor pendek hingga menengah di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan tingginya outstanding SRBI, yang diperkirakan akan terus menopang permintaan dan membatasi volatilitas jangka pendek,” tutup Jessica. * (Syam)





