Jakarta, Mediaprofesi.id – Belum banyak ruang stimulus moneter seiring tingginya tekanan terhadap Rupiah membuat risk premium aset rupiah tetap tinggi dan ekspektasi pemangkasan suku bunga BI di 1Q26 menjadi sangat terbatas.
“Dalam konteks ini, BI cenderung mempertahankan suku bunga pada level saat ini sambil mengandalkan intervensi di pasar valas untuk menstabilkan Rupiah, yang sejak awal tahun sudah melemah sekitar 1,2% YTD, berlawanan dengan apresiasi Ringgit Malaysia dan Peso Filipina,” ujar ujar Rully Arya Wisnubroto, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset dalam siaran persnya kepada redaksi Mediaprofesi.id pagi ini, Jumat (20/2) di Jakarta.
Kombinasi keterbatasan ruang pemangkasan suku bunga dan pelemahan Rupiah tersebut menahan potensi re-rating valuation pasar saham dan memicu kelanjutan net sell asing, terutama pada saham-saham big cap unggulan di sektor perbankan dan komoditas.
IHSG kemarin terkoreksi sekitar 0,4% ke level 8.274, mencerminkan masih dominannya sentimen risk-off jangka pendek, sehingga ke depan arah pasar lebih banyak ditentukan oleh efektivitas stimulus fiskal dalam menopang pertumbuhan laba emiten di tengah kondisi keuangan yang tetap ketat. * (Syam/Pra)





