Jakarta, Mediaprofesi.id – Merupakan organisasi nirlaba yang berfokus pada program upaya meningkatkan kualitas dan partisipasi tunanetra di bidang pendidikan dan pekerjaan. Didirikan pada 14 Mei 1991, berstatus sebagai Yayasan berbadan hukum.
Visi Mitra Netra adalah menjadi pengembang dan penyedia layanan, guna mewujudkan kehidupan tunanetra yang cerdas, mandiri dan dapat bermakna di masyarakat yang inklusif. Di bidang ketenagakerjaan, Mitra Netra memfokuskan diri pada upaya diversifikasi peluang kerja untuk tunanetra, dan telah berhasil membangun role model tunanetra berpendidikan tinggi yang bekerja di arus utama, baik sektor pemerintah maupun swasta.
Dalam rangka memperingati 35 tahun dedikasinya, Mitra Netra menggelar talkshow dalam acara media gathering bertajuk “35 Tahun Mitra Netra Bersama Media Berperan Membangun Indonesia yang Inklusif”, kegiatan dilakukan di sebuah hotel berbintang di tengah pusat kota Jakarta pada hari Rabu (6/5/2026) di Jakarta.
Dalam kata sambutannya, Ketua Yayasan Mitra Netra, Bambang Basuki menyampaikan, Mitra Netra meyakini bahwa penyandang tunanetra memiliki kompetensi yang mumpuni untuk berkarier di sektor administrasi, teknologi, informasi, hingga peran strategis di pemerintahan yang mengandalkan nalar kritis dan literasi teknologi.
“Agar potensi ini terserap maksimal, diperlukan sinergi sistemik antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil untuk menjadikan inklusivitas sebagai standar profesionalisme baru di Indonesia,” tegas Bambang Basuki.

Semantara Aria Indrawati, Kepala Bagian Tenaga Kerja Mitra Netra menjelaskan, sebagai bentuk dukungan nyata bagi institusi yang ingin merekrut karyawan tunanetra, Mitra Netra menyediakan layanan pendampingan komprehensif. Layanan ini diberikan oleh seorang Job Coach, mencakup identifikasi peluang kerja, observasi lapangan untuk merekomendasikan penyesuaian lingkungan kerja yang tepat, penyesuaian sistem kerja digital yang lebih aksesibel, serta pemberian edukasi interaksi melalui disability sensitizing session bagi staf perusahaan agar tercipta lingkungan yang inklusif.
“Selain itu, Mitra Netra juga memberikan pendampingan teknis secara intensif selama masa pelatihan kerja (on-job training),” ujar Aria Indrawati.
Di masa mendatang, Mitra Netra berkomitmen untuk terus beradaptasi dengan dinamika pasar kerja, termasuk memanfaatkan peluang tak terbatas di era teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Hal ini dilakukan agar penyandang tunanetra dapat terus memperluas kontribusi mereka di berbagai sektor pekerjaan secara berkelanjutan.
Bukti Nyata Kompetensi dan Kontribusi Profesional
Keberhasilan inklusi kerja kini tercermin dari berbagai kisah inspiratif di berbagai sektor. Di bidang retail, Sigit Yulyadi sebagai digital customer service di PT Mahanagari Nusantara Bandung, membuktikan bahwa teknologi pembaca layar memungkinkannya menangani keluhan pelanggan secara mandiri, akurat, dan sesuai standar perusahaan.
Transisi ke sektor publik juga menunjukkan keberhasilan serupa melalui sosok Andira Pramatyasari. Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Biro Hukum Pemprov DKI Jakarta sejak 2021, Andira memanfaatkan latar belakang sarjana hukumnya untuk menangani pengaduan masyarakat, menyusun kajian, hingga mendampingi naskah kerja sama.
Sebelumnya, ia juga berkontribusi sebagai instruktur TIK di Kementerian Kominfo, melatih literasi komputer bagi sesama tunanetra, yang menegaskan kemampuannya dalam mengombinasikan keahlian hukum dengan penguasaan teknologi informasi.

Di sektor teknologi, Agung Sachli seorang Chief Executive Officer (CEO) Imamatek, mempelopori integrasi talenta tunanetra sebagai software tester sejak 2023. Kolaborasi ini membuktikan bahwa quality controller tunanetra memiliki ketajaman mumpuni dalam mengevaluasi alur logika aplikasi yang sering terlewatkan. Kehadiran mereka memberikan nilai tambah signifikan dalam memastikan produk benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna melalui komunikasi tim yang efektif.
Sementara itu, RS Jakarta Eye Center melalui inisiatif human capital menempatkan staf tunanetra di contact center. Inisiatif ini membuktikan bahwa dengan teknologi dan pendampingan yang tepat, kompleksitas operasional dapat diatasi sekaligus menghadirkan empati yang lebih mendalam dalam layanan pasien.
Kolaborasi Sebagai Kunci Ekosistem Inklusif
Mewujudkan ekosistem ketenagakerjaan inklusif membutuhkan kolaborasi lintas sektor, pemerintah, dunia usaha, dan organisasi masyarakat sipil. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, kuota tenaga kerja disabilitas sebesar dua persen di sektor pemerintah dan satu persen di sektor swasta perlu diimplementasikan secara berkualitas, bukan sekadar administratif.
Transformasi inklusivitas harus dimulai dari perubahan perspektif masyarakat. Melalui penyebarluasan kisah sukses tenaga kerja tunanetra, stigma yang lebih berfokus pada keterbatasan dapat dikikis, membuka ruang bagi kesempatan yang sama.
Kehadiran Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia menjadi langkah konkret dalam membangun kepercayaan diri perusahaan untuk mengadopsi sistem rekrutmen inklusif. Dengan komitmen bersama terhadap nilai inklusivitas, talenta tunanetra Indonesia siap memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Ekosistem kerja yang inklusif bukan hanya sebuah idealisme, melainkan fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan. * (Syam)





